Perilaku manajerial merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan oleh seorang manajer adalah keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan, kinerja karyawan, emosi, sikap dan perilaku di tempat kerja, serta keinginan karyawan untuk menyuarakan suaranya. Suara karyawan penting karena dapat memudahkan perbaikan terus-menerus, memicu ide-ide baru yang dapat menjadi titik awal inovasi dan mencegah konsekuensi berbahaya bagi organisasi. Dari sudut pandang perusahaan, suara karyawan secara khusus menguntungkan alur kerja dengan menyediakan elemen baru untuk bekerja. Studi lain telah melihat dampak suara karyawan terhadap kinerja karyawan karena membantu organisasi tumbuh dengan menyumbangkan pendapat, ide, dan rekomendasi.
Selain itu, beberapa penelitian telah menyelidiki faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suara karyawan, salah satu penelitian yang menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional memungkinkan karyawan memiliki lebih banyak kesempatan dan lebih banyak menggunakan saluran untuk mendorong interaksi atau berbagi pemikiran dengan atasan secara informal. Karyawan mendapatkan lebih banyak manfaat dari dukungan dan tanggapan atasan mereka di tempat kerja ketika mereka memiliki interaksi dan pertukaran yang lebih informal dengan mereka. Bahkan potensi hambatan budaya antara supervisor dan karyawan juga bisa dikurangi. Kepemimpinan transformasional akan memotivasi karyawan untuk bertindak sebagai instrumen dalam membangun dan menanamkan budaya inovasi yang merangsang kreativitas, pengambilan risiko, dan perasaan positif serta kesiapan untuk menemukan solusi inovatif untuk masalah.
Pemimpin transformasional dapat meningkatkan kepercayaan karyawan dengan memberikan kesempatan untuk belajar dan dengan menanggapi kinerja karyawan dan menantang mereka untuk memberikan ide-ide baru yang inovatif. Jenis interaksi ini dapat membantu mengembangkan identifikasi relasional yang lebih kuat sehingga akan memberikan hasil kinerja yang lebih baik menyatakan bahwa pengaruh sosial pada proses kepemimpinan merupakan salah satu mekanisme yang mengarah pada terpenuhinya jenis identifikasi ini. Identifikasi relasional menjadi sesuatu yang penting, terutama bagi atasan, karena interaksi akan membuat hubungan antara atasan dan bawahan, terutama dari sisi psikologis, menjadi lebih dekat dengan perusahaan. Meskipun manajer dan gaya kepemimpinan merupakan faktor penting untuk kinerja, karakteristik karyawan, seperti karakteristik individu mereka juga terkait dengan pembentukan sikap dan perilaku. Penelitian ini menguji pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap suara karyawan melalui mediasi identifikasi relasional dan kepribadian proaktif sebagai moderator, sedangkan pada penelitian sebelumnya model dengan variabel tersebut jarang ditemukan.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan rekomendasi oleh manajemen perusahaan mengenai pengaruh Transformational Leadership, Proactive Personality dan Relational Identification terhadap Employee Voice Behavior. Hal ini dapat mempengaruhi kemauan pegawai Kementerian Hukum dan HAM untuk menyampaikan pendapat, mengambil inisiatif pribadi dalam berbagai kegiatan dan situasi, menimbulkan tingkat kepercayaan yang lebih dalam berdasarkan identifikasi, dan berpengaruh dalam menghadapi lingkungan dinamis yang mengandung banyak ketidakpastian. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia disarankan untuk menggunakan pendapat atau saran karyawan untuk membantu menyelesaikan masalah yang mungkin tidak diketahui oleh pimpinan perusahaan..
Penelitian ini, seperti penelitian sebelumnya, memiliki keterbatasan. Pertama, dalam penelitian ini peneliti hanya mengevaluasi bagaimana kepemimpinan transformasional mempengaruhi perilaku suara karyawan dengan menggunakan kepribadian proaktif dan identifikasi relasional sebagai faktor independen. Penelitian di masa depan dapat berkonsentrasi pada bidang ini, dengan bantuan berbagai landasan teoretis yang logis. Kedua, kepribadian proaktif dan kepemimpinan transformasional dalam penelitian ini memiliki pengaruh moderating terhadap perilaku suara karyawan yang diketahui dapat melemahkan variabel dependen. Di masa depan, studi harus dapat menentukan lebih tepatnya bagaimana kepribadian proaktif mempengaruhi hubungan antara kepemimpinan transformasional dan perilaku suara karyawan. Ketiga, peneliti menggunakan analisis SEM secara metodis untuk melihat interaksi langsung dan tidak langsung antar komponen, serta efek moderasi. Peneliti menggunakan personel dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai sampel, dan kuesioner diedarkan secara online. Sarjana masa depan mungkin berpikir tentang menggunakan sampel yang berbeda untuk mendapatkan perspektif yang berbeda.
Setelah dilakukan pengujian dan analisis, disimpulkan bahwa studi ini penting karena kepemimpinan transformasional dan identifikasi relasional dapat membantu bisnis dalam mewujudkan perilaku suara karyawan, yang dapat membantu perbaikan berkelanjutan dan menghasilkan ide-ide bermanfaat sebagai batu loncatan untuk inovasi. Meskipun efek moderasi dari pegawai yang proaktif melemahkan pengaruh transformasi suara pegawai, pegawai Kemenkumham telah mampu mencari peluang dan bertahan dalam upayanya menghasilkan perubahan yang berarti dalam organisasi lembaga Kemenkumham.
Penulis: Anis Eliyana
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
(Hear me out! This is my idea: Transformational Leadership, Proactive Personality and Relational Identification)





