Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan pesat partisipasi perempuan dalam peran kepemimpinan di sistem kesehatan. Namun, tren positif tersebut menyembunyikan tantangan yang masih berlangsung, yakni keberadaan langit-langit kaca. Hambatan tak terlihat ini menghalangi kemajuan karier perempuan, menghambat partisipasi setara dalam proses pengambilan keputusan. Artikel ini membahas dinamika suksesi kepemimpinan berbasis gender dan segregasi dalam lingkup tenaga kerja kesehatan Indonesia, menjelajahi kompleksitas masyarakat matriarki dan patriarki.
Dipertama kali diperkenalkan oleh Gay Bryant pada tahun 1984, istilah “glass ceiling” dengan tepat menggambarkan hambatan-hambatan tak terlihat yang menghalangi mobilitas perempuan dalam berbagai ranah profesional. Dalam konteks sektor kesehatan di Indonesia, glass ceiling muncul meski jumlah perempuan yang mengambil peran kepemimpinan terus meningkat. Fenomena ini tidak unik hanya untuk industri kesehatan; ada juga glass ceiling di organisasi militer dan industri perfilman.
Meskipun ada kehadiran menteri-menteri perempuan yang mencolok dalam 15 tahun terakhir di puncak sistem kesehatan Indonesia, segregasi gender masih terjadi pada tingkatan struktural dan teknis yang lebih rendah. Bab ini menyoroti perlunya mengkaji secara sistematis bagaimana dan mengapa glass ceiling tetap ada, bahkan di bawah kepemimpinan perempuan. Kehadiran perempuan di puncak tidak selalu bermuara pada peluang yang setara bagi perempuan di tingkatan yang lebih rendah.
Untuk meruntuhkan glass ceiling dalam kepemimpinan tenaga kerja kesehatan Indonesia, artikel ini menyarankan perencanaan suksesi yang transparan untuk pemimpin di kantor kesehatan kabupaten. Instrumen evaluasi yang sensitif terhadap gender harus diterapkan untuk mengidentifikasi dan memperbaiki stereotip dan segregasi gender dalam deskripsi dan spesifikasi pekerjaan. Kurangnya pengarusutamaan gender dalam rencana suksesi kepemimpinan disorot, menekankan perlunya pelaporan dan pengumpulan data yang lebih komprehensif untuk mengatasi ketidaksetaraan gender.
Penelitian masa depan harus mengungkapkan mekanisme di balik segregasi gender dalam pengaturan pemerintahan dan bagaimana glass ceiling terbentuk dan dipertahankan. Dengan mengungkapkan mekanisme ini, pemerintah dapat mengurangi ketidaksetaraan gender dalam struktur kepemimpinan di sektor kesehatan Indonesia.
Artikel ini menyimpulkan dengan menekankan urgensi meruntuhkan glass ceiling dalam kepemimpinan kesehatan Indonesia. Rencana suksesi yang transparan, evaluasi yang sensitif terhadap gender, dan komitmen untuk mengintegrasikan gender dalam kebijakan kepemimpinan adalah langkah-langkah krusial menuju tenaga kerja kesehatan yang lebih adil dan inklusif. Melalui upaya kolaboratif dari peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan, Indonesia dapat membuka jalan menuju masa depan di mana perempuan di semua tingkatan sistem kesehatan memiliki peluang yang setara untuk berkontribusi dan memimpin.
Penulis: Nuzulul Kusuma Putri, S.KM., M.Kes.
Jurnal: The Glass Ceiling: Gender Segregation Within Health Workforce Leadership with Matriarchal and Patriarchal Societies in Indonesia





