UNAIR NEWS – Lapangan PAUD Anggrek di Desa Pengulu menjadi pusat kreasi dan kebersamaan. Mahasiswa dari program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 51¶¯Âþ menggelar workshop inovatif bersama ibu-ibu PKK setempat, mengajarkan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Kegiatan ini tidak hanya sekedar pelatihan keterampilan, tetapi menjadi sarana edukasi penting tentang pemanfaatan limbah rumah tangga yang kerap dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan.
Dalam sambutannya, Bu Lurah Desa Pengulu menyatakan apresiasi yang mendalam, “Kegiatan ini sangat menarik dan tepat sasaran. Selain mempererat silaturahmi, kami mendapat ilmu baru yang langsung bisa dipraktekkan untuk mengolah limbah menjadi sesuatu yang bernilai.” Antusiasme terlihat jelas saat para ibu dengan teliti mengikuti setiap tahapan, dari penyaringan jelantah hingga pencetakan lilin. Usai sesi produktif, keakraban terjalin semakin erat melalui acara santai makan rujakan bersama dan karaoke, yang menciptakan atmosfer kekeluargaan yang hangat dan penuh tawa.
Di balik keseruan tangan-tangan yang penuh minyak dan lilin, kegiatan ini memiliki dampak yang jauh lebih besar, yaitu kontribusi nyata terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, untuk SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), kegiatan ini menjadi contoh konkrit dalam membangun komunitas yang inklusif dan partisipatif di tingkat desa. Kedua, untuk SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), workshop ini adalah edukasi langsung tentang ekonomi sirkular, di mana limbah (jelantah) diubah kembali menjadi sumber daya (lilin), mengurangi beban lingkungan. Ketiga, untuk SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), aksi daur ulang ini merupakan langkah kecil namun signifikan untuk mengurangi polusi dan jejak karbon dari limbah rumah tangga.
Dampak terbesar terlihat di akhir acara. Banyak peserta yang bersemangat untuk melanjutkan praktik ini secara mandiri. Menanggapi hal tersebut, mahasiswa menyerahkan seluruh sisa bahan dan peralatan kepada Bu Lurah. “Melihat antusiasme ibu-ibu yang ingin terus belajar, kami percayakan bahan-bahan ini untuk digunakan kembali. Harapannya, pengetahuan ini tidak berhenti di sini, tapi bisa disebarkan dan menjadi kegiatan berkelanjutan PKK,” ujar Joycelyn selaku penanggung jawab acara. Penyerahan ini menjadi simbol komitmen bersama untuk keberlanjutan program, mengubah satu hari pengabdian menjadi benih untuk perubahan yang lebih luas di masyarakat.





