Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi tantangan besar berupa degradasi keanekaragaman hayati yang semakin cepat, terutama pada ekosistem air tawar. Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan metode pemantauan lingkungan yang tidak hanya efektif tetapi juga efisien dan akurat. Salah satu inovasi revolusioner dalam bidang ini adalah penggunaan metabarcoding DNA lingkungan atau eDNA. Teknologi ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi berbagai organisme berdasarkan jejak genetik yang mereka tinggalkan di lingkungan seperti air, tanah, atau sedimen.
Metabarcoding eDNA bekerja dengan cara yang sangat canggih menggunakan perangkat sekuensing DNA modern untuk membaca 渟idik jari genetik dari berbagai organisme dalam sampel lingkungan. Proses ini menggantikan metode tradisional yang mengharuskan identifikasi manual organisme, yang sering kali memakan waktu, mahal, dan tidak selalu akurat. Namun, keberhasilan metabarcoding DNA sangat bergantung pada langkah awal dalam prosesnya, yaitu ekstraksi DNA. Tahap ini menjadi kunci karena kualitas dan kuantitas DNA yang diekstraksi akan menentukan seberapa akurat data yang dihasilkan untuk menilai keanekaragaman hayati dan kesehatan ekosistem.
Dalam sebuah penelitian, para peneliti mengeksplorasi empat metode ekstraksi DNA yang berbeda untuk menilai efektivitas masing-masing dalam analisis metabarcoding sedimen sungai. Penelitian ini bertujuan untuk memahami sejauh mana metode ekstraksi DNA dapat memengaruhi hasil evaluasi keanekaragaman hayati serta indeks biotik, yang digunakan untuk menentukan kualitas ekosistem. Metode yang diuji meliputi pendekatan manual menggunakan protokol guanidin hidroklorida serta tiga kit komersial, yaitu PowerSoil, Blood and Tissue, dan Plant Mini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode manual dan kit Plant Mini memberikan hasil terbaik dalam mengoptimalkan deteksi DNA metazoan, yaitu kelompok organisme multiseluler seperti serangga dan krustasea yang sering digunakan sebagai indikator kualitas air. Sebaliknya, kit PowerSoil menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan, karena meskipun dirancang untuk ekstraksi DNA, langkah-langkah dalam protokolnya sering kali menyebabkan kontaminasi oleh DNA bakteri. Hal ini menjadi masalah signifikan karena keberadaan DNA bakteri dapat mengganggu analisis dan menurunkan akurasi penilaian ekosistem.
Analisis lebih lanjut menggunakan gen penanda seperti cytochrome c oxidase I (COI) dan 18S rRNA mengungkapkan pentingnya memilih metode ekstraksi yang sesuai untuk menghasilkan data yang andal. Gen COI, misalnya, memberikan resolusi taksonomi tinggi untuk mendeteksi serangga air tawar, sedangkan gen 18S rRNA menawarkan cakupan taksonomi yang lebih luas, termasuk organisme non-serangga. Kombinasi kedua gen ini terbukti sangat efektif dalam memberikan gambaran yang komprehensif tentang keanekaragaman hayati dalam sampel lingkungan.
Penelitian ini juga menyoroti keunggulan metode manual dibandingkan kit komersial, terutama dari segi biaya. Dengan biaya kurang dari satu dolar per sampel, metode manual jauh lebih ekonomis dibandingkan kit komersial yang harganya berkisar antara empat hingga sepuluh dolar per sampel. Efisiensi biaya ini menjadikan metode manual pilihan yang sangat menarik untuk proyek pemantauan ekosistem skala besar, terutama di negara berkembang yang memiliki keterbatasan anggaran. Selain itu, metode manual juga lebih fleksibel dan mampu menangani volume sampel yang lebih besar, menjadikannya ideal untuk studi yang memerlukan cakupan data yang luas.
Namun, efektivitas metode manual ini tidak hanya terletak pada biayanya yang rendah. Metode ini juga menunjukkan kemampuan unggul dalam meminimalkan kontaminasi dan menghasilkan DNA dengan kualitas tinggi yang relevan untuk analisis metazoan. Ketika digunakan untuk menghitung indeks biotik, metode manual menghasilkan nilai yang lebih konsisten dan mendekati hasil gabungan dari semua protokol. Hal ini menunjukkan bahwa metode manual tidak hanya ekonomis tetapi juga memberikan hasil yang andal untuk evaluasi ekosistem.
Di sisi lain, meskipun kit Plant Mini awalnya dirancang untuk ekstraksi DNA tumbuhan, penelitian ini menemukan bahwa kit tersebut juga sangat efektif untuk mendeteksi DNA metazoan. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kemampuannya untuk menghilangkan penghambat yang dapat mengganggu amplifikasi DNA selama analisis. Kit ini juga menunjukkan kesamaan hasil yang tinggi dengan metode manual, sehingga dapat menjadi alternatif yang baik untuk aplikasi metabarcoding.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas untuk konservasi dan pengelolaan ekosistem air tawar. Dengan memilih metode ekstraksi DNA yang tepat, peneliti dapat memperoleh data yang lebih akurat tentang keanekaragaman hayati, yang pada gilirannya dapat membantu mengidentifikasi ancaman lingkungan dan mengembangkan strategi konservasi yang lebih efektif. Teknologi metabarcoding juga dapat digunakan untuk memantau perubahan ekosistem dari waktu ke waktu, memberikan wawasan yang tak ternilai tentang dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Ke depan, teknologi metabarcoding DNA lingkungan berpotensi menjadi alat utama dalam pemantauan lingkungan global. Dengan biaya yang semakin terjangkau dan metodologi yang terus berkembang, teknik ini dapat diterapkan di berbagai habitat, dari sungai hingga laut, untuk mendukung upaya konservasi dan keberlanjutan. Namun, untuk memastikan keberhasilan jangka panjang, penting bagi peneliti untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan protokol yang digunakan, serta mengintegrasikan data dari berbagai sumber untuk menghasilkan gambaran yang lebih holistik tentang ekosistem yang dipelajari.
Penulis: Muhammad Hilman Fu’adil Amin, S.Si., M.Si., Ph.D.
Tulisan detail terkait artikel ini dapat dilihat dalam publikasi kami di:





