Trypanosomiasis atau lebih dikenal dengan sebutan Surra merupakan salah satu jenis penyakit parasitik pada hewan mamalia terutama kuda. Hewan ternak lain yang rentan terhadap infeksi surra yaitu sapi, kerbau, kambing, domba dan rusa, namun hewan-hewan tersebut terkadang tidak terlihat gejala klinis yang signifikan sehingga dapat menjadi hewan pembawa parasit (reservoir). Menurut OIE (2018), onta dan babi juga termasuk hewan yang masuk dalam kategiru induk semang rentan. Penyebab utama penyakit Surra adalah protozoa darah yaitu Trypanosoma evansi. Parasit T. evansi, secara klasifikasi merupakan anggota subgenus Trypanozoon, dan di dalamnya termasuk T. brucei dan T. equiperdum. Parasit T. evansi berbeda dari spesies tersebut karena tidak mempunyai kDNA maxicircle, yang membuatnya tidak dapat melangsungkan siklus hidup dalam tubuh vektor insekta. Oleh karena itu, T. evansi ditularkan secara mekanis dari hewan penderita ke hewan sehat melalui lalat Diptera penghisap darah (hematofagus) yang termasuk ke dalam genus Tabanus, Stomoxys, Haematopota, Lypersia, dan Hippobosca. Genus lalat yang paling potensial sebagai penular adalah Tabanus. Diketahui ada 30 spesies Tabanus yang mampu menularkan Trypanosomiasis (Batan, 2018).
Menurut Wardhana dan Sawitri (2018), gejala klinis penyakit surra pada sapi dan kerbau bisa berbentuk akut, per-akut, subakut, atau kronik. Bentuk akut, hewan penderita terlihat lemas, berjalan terhuyung-huyung, melangkah dengan pola melingkar, mata melotot, demam tinggi/pireksia, dan dapat terjadi kematian dalam interval 6-12 jam. Surra bentuk per-akut memperlihatkan gejala saraf dan hewan penderita yang mati umumnya setelah memperlihatkan gejala klinis berupa konvulsi, ataksia, mendadak buta, hiperaktif, dan gerakan berputar-putar. Kondisi dalam bentuk perakut, gejala saraf pada hewan ternak besar bisa dikelirukan dengan anthraks, ketosis bentuk saraf, kista atau abses dalam otak. Penyebab kematian pada hewan disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah kecil yang mendorong terjadinya anoksia dan kematian. Infeksi Trypanosomiasis dalam bentuk kronis/subakut pada awalnya terjadi peningkatan suhu tubuh, dan demam yang terjadi sifatnya intermittent, depresi dan tidak bersemangat, gerakan memutar-mutar, produksi susu mendadak turun, limfonodus preskapularis mengalami pembesaran, konjungtivitis, dan keluar leleran kental dari mata. Selain itu, gejala klinis yang juga terdeteksi adalah anemia, bobot badan yang menurun, kelemahan, emasiasi, sendi yang membengkok, dan dapat pula menimbulkan gangguan reproduksi, seperti tertundanya birahi, kluron (abortus), dan janin dilahirkan dalam keadaan mati (stillbirth). Surra bentuk subakut atau kronik, di samping menunjukkan tanda-tanda kekurusan/emasiasi juga disertai dengan kekeruhan/opasitas pada bagian kornea mata.
T. evansi merupakan salah satu agen penyakit yang memiliki daerah penyebaran geografis yang lebih luas jika dibandingkan dengan spesies parasit Trypanosoma lainnya. Penyakit surra juga masih tergolong endemik di wilayah Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Hewan ternak di Indonesia sampai saat ini belum bebas dari ancaman surra. Pengendalian vektor penyakit surra masih sangat sulit untuk dilakukan, didukung dengan sistem pemeliharaan yang sebagian besar masih tradisional yaitu memelihara hewan ternak sepanjang hidupnya hingga tua sehingga hewan ternak sebagai induk semang tetap menjadi penular di sekitar lingkungan tersebut. Keadaan ini yang menyebabkan Indonesia menjadi daerah endemis dengan status yang stabil dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi para peternak di Indonesia. Angka morbiditas penyakit surra mencapai 30% dan angka mortalitas diprkirakan sebesar 3%. Kerugian di negara-negara Asia tiap tahun diperkirakan sekitar 1,3 milyar dolar. Kerugian ini diduga lebih tinggi dibandingkan dengan yang dialami negara-negara di Afrika dan di dunia diperkirakan ada 500 juta sapi, 100 juta kerbau, dan 12 juta onta yang berisiko tertular surra. Kerugian secara langsung penyakit surra adalah karena mortalitas dan biaya intervensi dalam melakukan terapi berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, trypanosmoniasis juga ditetapkan menjadi salah satu penyakit Hewan Menular Strategis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No: 4026/Kpts/OT.140/04/2013.
Kunci pengendalian penyakit surra di Indonesia beserta angka persebarannya, terletak pada deteksi dini dari penyakit tersebut menggunakan pendekatan diagnostik. Penentuan diagnosa penyakit surra mayoritas hanya didasarkan pada gejala klinis yang terlihat dan didukung oleh uji ulas darah untuk mendeteksi morfologi parasit dalam darah. Hanya saja metode tersebut mempunyai kekurangan yaitu tidak dapat digunakan pada fase awal infeksi karena bentukan parasit tidak akan terdeteksi dalam darah padahal fase infeksi sudah berjalan. Metode diagnosa yang lebih akurat adalah dengan penerapan uji molekuler Polymerase Chain Reaction (PCR) karena hasil yang didapatkan lebih akurat dan bisa diterapkan untuk semua fase infeksi. Dalam menerapkan PCR khusus deteksi penyakit surra, digunakan primer yang spesifik yaitu ITS-1 dan TBR-1/2, hanya saja jika dijadikan sebuah gold standard diagnosa maka harus kita tentukan primer mana yang paling sensitif. Oleh karena itu, tim penulis melakukan penelitian eksperimental untuk mengetahui dan membuktikan perbandingan sensitivitas antara primer ITS-1 dan TBR-1/2 yang sering digunakan untuk deteksi molekuler penyakit surra pada ternak di Indonesia.
Isolat lokal T. evansi didapatkan dari koleksi lapangan pada hewan kerbau di Provinsi Banten dimana tergolong daerah endemis surra khususnya pada hewan kerbau. Isolat tersebut diinjeksikan pada 18 ekor hewan coba tikus melalui rute intraperitoneal dengan dosis infeksi 1×101 dan 1×104. Dari total hewan coba yang digunakan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus. Kelompok pertama merupakan kontrol, kelompok kedua merupakan perlakuan dengan injeksi 1×101 parasit/mL, dan kelompok ketiga adalah kelompok perlakuan dengan injeksi 1×104 parasit/mL. Perubahan perilaku dan gejala klinis pada hewan coba diamati setiap hari sampai dengan hari ke-10, setelah itu sampel darah akan diambil dari vena orbitalis setiap hewan coba menggunakan tabung hematocrit. Selanjutnya, 1-2 tetes darah diletakkan pada kertas saring untuk dilakukan uji PCR dengan menggunakan primer ITS-1 dan TBR-1/2 setiap 4 hari sekali sampai ditemukan hasil yang positif. Selain itu, uji konvensional serologis juga dilakukan untuk deteksi jumlah parasit pada darah dengan menggunakan metode Card Agglutination Test (CATT).
Hasil PCR menunjukkan bahwa primer ITS-1 dan TBR-1/2 keduanya dapat digunakan untuk deteksi parasit T. evansi pada hewan coba tikus, dengan hasil positif terdeteksi pada 480 base pairs (bp) dan 164 bp. PCR dengan menggunakan primer ITS-1 terdeteksi positif mulai hari ke-3 pada kelompok perlakuan kedua (1×101 parasit/mL). Pada kelompok perlakuan ketiga (1×104 parasit/mL), primer ITS-1 menunjukkan hasil positif sejak hari ke-2 dengan jumlah total 5 positif sampel (83,33%). Sedangkan dengan primer TBR-1/2, 3 sampel (50%) terdeteksi positif sejak hari ke-1. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, primer ITS-1 efektif digunakan sebagai diagnose molekuler dengan catatan apabila dosis infeksi reltif tinggi, sedangkan jika dosis infeksinya masih rendah, primer TBR-1/2 lebih efektif digunakan karena lebih sensitive jika dibandingkan dengan primer ITS-1.
Surra merupakan penyakit menular yang serius dengan berbagai tingkat prevalensi dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan di antara peternakan di wilayah Afrika, Amerika Selatan, dan Asia, termasuk Indonesia. Di Timur Tengah, seperti Palestina, prevalensi trypanosomiasis secara keseluruhan sebesar 18% serupa dengan tingkat infeksi negara-negara tetangga di kawasan tersebut. Apalagi sebelumnya penelitian di Arab Saudi melaporkan bahwa tingkat infeksi lebih rendah pada keledai dan kuda, dengan total prevalensi masing-masing 3,3% dan 2,8%. Berbeda hasil, dari Mesir telah dilaporkan bahwa tidak ada infeksi terdeteksi pada keledai dan kuda, namun, penyakit surra tercatat pada onta, dengan prevalensi sebesar 31,4%. Di Sulawesi Selatan, Indonesia, tingkat prevalensi surra adalah 0% ketika dideteksi menggunakan metode parasitologi konvensional, namun, 3% tingkat prevalensi terdeteksi pada sapi menggunakan PCR sebagai metode diagnostik molekuler. Oleh karena itu, metode PCR yang menggunakan primer yang lebih sensitif diperlukan untuk tes diagnostik awal.
Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang secara singkat membandingkan sensitivitas primer ITS-1 dan TBR-1/2 saat digunakan untuk diagnostik molekuler menggunakan PCR. Hasil kami juga mengkonfirmasi bahwa diagnostik molekuler menggunakan primer TBR1/2 lebih efisien jika diterapkan sebagai gold standard untuk Identifikasi T. evansi, terutama pada isolat lapangan, karena primer TBR-1/2 tidak hanya terbukti spesifik tetapi juga sebagai primer yang lebih sensitif dibandingkan dengan ITS-1. Temuan pada penelitian ini memberikan data awal untuk mempelajari sensitivitas dan efisiensi primer yang berbeda jika diterapkan secara praktis sebagai tes diagnostik standar untuk trypanosomiasis, terutama di ternak Indonesia. Namun, metode saat ini hanya menerapkan satu spesies parasit Trypanosoma dan masih harus diteliti lebih lanjut apakah masih efektif diterapkan jika lebih dari 1 spesies Trypanosoma yang dideteksi. Hasil penelitian ini juga memberikan data yang bermanfaat untuk studi yang akan datang dengan menggunakan spesies Trypanosoma yang berbeda, serta rekomendasi untuk tindakan pencegahan penyakit parasitic dengan menggunakan pendekatan molekuler sebagai standar metode diagnostik awal.
Penulis: Dr. Endang Suprihati, drh., MS.
Sumber Artikel:
Suprihati E, Suwanti LT, Yudhana A, Kusumaningrum AI. (2022). Comparison of ITS-1 and TBR-1/2 primer sensitivity for the detection of Trypanosoma evansi local isolates in experimental rats using a polymerase chain reaction, Veterinary World, 15(7): 1772“1778.





