51动漫

51动漫 Official Website

Strategi Baru Pencegahan Infeksi Virus Tetelo pada Unggas Menggunakan Metode In Silico

Foto by Lampung Post

Penyakit tetelo (Newcastle Disease) merupakan penyalkit viral yang disebabkan oleh infeksi Avian paramyxovirus serotype-1 atau virus Newcastle Disease (ND) yang menyerang bangsa burung terutama unggas. Penyakit tetelo pertama kali ditemukan oleh Kreneveld pada tahun 1926 di Indonesia. Satu tahun kemudian, penyakit dengan gejala yang sama ditemukan di kota Newcastle United Kingdom. Penyakit ini disebarkan dari satu unggas ke unggas lain melalui air liur dan feces yang dikeluarkan oleh unggas terifeksi ke lingkungan. Unggas yang terinfeksi menunjukkan gejala klinis seperti kehilangan nafsu makan, perubahan warna jengger yang menjadi biru, serta kepala yang tenggleng. Selain itu, penyakit ini menyerang sistem syaraf dan sistem pernapasan pada unggas yang terinfeksi.

Berdasarkan tingkat keparahan dari gelaja klinis yang ditunjukkan, pada umumnya penyakit tetelo terbagi menjadi tiga tipe yaitu velogenic (highly virulent), mesogenic (mild virulent), dan lentogenic (low virulent). Penyakit tetelo dengan tipe velogenic menyerang sistem syaraf, pernapasan, dan pencernaan sehingga menyebabkan kematian pada unggas dalam waktu cepat. Tipe mesogenic, menyebabkan gejala klinis yang sedang dan apabila diikuti dengan infeksi oleh bakteri, akan menyebabkan kematian pada unggas. Tipe lentogenic menunjukkan gejala yang sangat ringan, dan jarang menyebabkan kematian pada unggas. Avian paramyxovirus serotype-1 merupakan virus beramplop yang tersusun oleh negative-sense untai tunggal materi genomik. ND tersusun atas enam protein yaitu nucleoprotein (N), protein matriks (M), protein polymerase (L), phosphoprotein (P), protein hemagglutinin-neuraminidase (HN), dan protein fusion (F).

Penyakit tetelo, merupakan penyakit tahunan yang meresahkan dunia perunggasan di Indonesia. Berbagai macam cara telah ditempuh untuk mencegah dan memusnahkan penyakit tetelo, tapi penyakit ini tetap bersirkulasi di lingkungan bahkan menyebabkan outbreak di peternakan unggas yang sudah menerapkan vaksinasi rutin. Hampir seabad sejak penemuan agen virus penyebab penyakit tetelo, berbagai macam penelitian in-vivo dan in-vitro sudah dilakukan untuk menemukan cara pencegahan yang tepat yang bisa diaplikasikan di peternakan unggas. Penggunaan vaksinasi, merupakan salah satu metode yang terus menerus dikaji efektivitas nya untuk mencegah penyakit tetelo.

Sampai saat ini, vaksin yang diaplikasikan di peternakan unggas, masih sering menggunakan seed yang diimpor dari negara lain. Hal ini memang bisa menjadi alternativ, karena virus tetelo dari berbagai genotype memiliki reaksi kekebalan silang, sehingga walaupun menggunakan benih vaksin import, diharapkan benih vaksin tersebut tetap memberikan kekebalan protektiv bagi unggas. Walaupun begitu, hasil studi juga menunjukkan penggunaan benih vaksin yang memilki kemiripan yang tinggi dengan virus tetelo yang menginfeksi mampu memberikan kekebalan protektiv yang lebih tinggi sekaligus memusnahkan virus yang menginfeksi. Penemuan ini, menjadi dasar perlunya pengembangan vaksin yang menggunakan benih vaksin lokal yang diharapkan mampu memberikan kekebalan protektiv pada unggas dan memusnahkan virus tetelo dari lingkungan.

Sebelumnya, vaksin menggunakan whole virus merupakan satu-satunya cara untuk merangsang produksi kekebalan spesifik melawan antigen penyebab penyakit. Bagaimanapun, penggunaan whole virus sebagai benih vaksin menimbulkan efek samping pada hewan yang di vaksin seperti respon kekebalan tubuh yang berlebihan, bahkan menyebabkan kematian. Seiring perkembangan teknologi, produksi vaksin juga berkembang. Saat ini, metode pengembangan vaksin menggunakan teknik analisis in-silico berkembang pesat. Teknik analisis in-silico adalah perpaduan antara dua macam ilmu dasar yaitu molekuler dan analisis komputer. Salah satu manfaatnya adalah untuk pengembangan pembuatan vaksin sub-unit yang mampu merangsang produksi kekebalan spesifik hewan yang di vaksin dan meminimalisir efek samping yang di timbulkan pasca vaksinasi.

Pengembangan vaksin dengan metode in-silico membutuhkan urutan asam nukleat dari benih virus lokal yang kemudian di translate menjadi urutan asam amino. Urutan asam amino ini digunakan sebagai source untuk memprediksi peptida (gabungan beberapa asam amino)  apa saja yang memiliki potensi merangsang aktivitas sel imun seperti sel limfosit B, sehingga sel limfosit B memproduksi kekebalan spesifik melawan Avian paramyxovirus serotype-1. Setelah kandidat peptida diperoleh, peptida-peptida ini kemudian di analisis secara bertingkat untuk mengetahui peptida mana yang memiliki kemampuan merangsang respon sistem kekebalan (immunogenicity) yang tinggi. Peptida yang memiliki immunogenicity yang tinggi akan dipilih untuk dianalisis lebih lanjut untuk memastikan bahwa peptida ini aman untuk di aplikasikan ke unggas. Langkah selanjutnya adalah memilih peptida yang tidak akan menyebabkan alergi atau keracunan pada unggas. Penggunaan metode in-silico dalam pengembangan vaksin sub-unit memungkinkan kita mendesain vaksin yang efektiv dan aman bagi unggas untuk mencegah infeksi virus tetelo atau berbgai macam antigen lainnya. Pemilihan gen pengkode protein yang immunogenic seperti Fusion protein dan Haemagglutinin protein juga menjadi penentu tingkat efektivitas dari vaksin sub-unit yang sudah didesain.

Penulis: Dr. Jola Rahmahani, drh., M.Kes.

Link Jurnal: 听

AKSES CEPAT