Cedera tulang belakang thoracolumbar sering menjadi masalah serius, terutama bagi pria muda yang aktif dalam kegiatan fisik berat. Biasanya, cedera ini terjadi di bagian tengah bawah tulang belakang, dengan lebih dari setengah fraktur terjadi antara vertebra T11 dan L1. Sekitar separuh dari fraktur ini tidak stabil, yang dapat menyebabkan cedera berat, perubahan bentuk tubuh, dan masalah saraf. Sistem klasifikasi fraktur tulang belakang dari AO dan Denis, sering dianggap terlalu rumit. Penelitian ini menganalisis perbedaan jenis fraktur pada thoracolumbar berdasarkan seberapa banyak tulang tersebut berkurang tingginya saat ditekan dari atas ke bawah.
Subjek penelitian tulang belakang dengan mayat atau cadaver manusia adalah model ideal untuk studi biomekanik dan pengujian implant, terutama dari segi anatomi dan ukuran. Akan tetapi penelitian dengan cadaver manusia memiliki masalah etik. Oleh karena itu, sebagian besar percobaan in vitro telah dilakukan pada tulang belakang hewan, yang lebih mudah tersedia dan memiliki sifat geometris lebih seragam. Model hewan coba telah menjadi metode penelitian penting dalam pembedah tulang belakang. Untuk penelitian biomekanika tulang belakang, lebih cocok digunakan hewan berukuran besar. Kambing merupakan pilihan yang ideal bagi penulis dikarenakan mudah didapat, harganya lebih murah, serta memiliki permasalahan etik yang lebih sedikit bila dibandingkan hewan lain. Untuk itu kami meneliti menggunakan tulang kambing karena dirasa memiliki banyak kemiripan dengan tulang manusia.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika menguji tulang belakang secara terpisah, berbagai jenis fraktur bisa terjadi tergantung pada seberapa banyak tinggi vertebra berkurang. Peneliti ingin melakukan penelitian dengan meniru patah tulang pada tulang belakang kambing. Tulang belakang kambing ditekan dari atas ke bawah untuk melihat seberapa besar tulang bergeser dan berkurang tingginya. Kriteria kambing yang dipakai dalam penelitian ini adalah kambing dewasa, tidak mati karena penyakit, dan bukan kambing impor. Tulang belakang kambing yang dipakai untuk penelitian diambil dari rumah potong hewan dan dipilih kambing jantan yang berumur sekitar 1,5-2 tahun. Tekanan hancur pada satu tulang belakang sebesar 4565,76 卤 722,93 N sedangkan tekanan untuk menghancurkan dua unit vertebra diserta satu bantalan (1 Functional Spinal Unit) sebesar 5070,4 卤 703,74 N.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehilangan tinggi vertebra pada dua unit vertebra, sekitar 20% ditunjukkan ada sembilan jenis fraktur baji yang berbeda. Jika kehilangan tinggi mencapai 40% ditunjukkan ada dua jenis fraktur baji dan tujuh jenis fraktur burst yang tidak lengkap. Jika kehilangan tinggi mencapai 60% ditunjukkan ada sembilan jenis fraktur burst lengkap. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketika menguji unit tulang belakang secara keseluruhan, semakin banyak tinggi yang hilang, semakin besar kemungkinan kerusakan struktural yang parah.
Fraktur kompresi ditunjukkan sering terjadi di bagian depan vertebra karena bagian ini lebih lemah dan tidak memiliki lapisan keras seperti bagian belakang yang diperkuat oleh struktur tambahan. Penelitian juga menemukan bahwa semakin banyak kehilangan tinggi, semakin mungkin fraktur tersebut menjadi lebih parah, seperti fraktur burst lengkap.
Semakin banyak kehilangan tinggi, vertebra mempunyai korelasi erat dengan masalah saraf yang dialami pasien. Ini berarti bahwa menilai seberapa banyak tinggi vertebra berkurang dapat membantu dokter memprediksi seberapa parah masalah saraf yang mungkin terjadi dan merencanakan perawatan yang lebih baik.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana fraktur mempengaruhi tulang belakang dan dengan sistem klasifikasi yang lebih sederhana, dokter bisa memberikan perawatan yang lebih efektif dan terarah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan alat klasifikasi yang lebih baik dan memahami hubungan antara berbagai faktor untuk meningkatkan hasil perawatan pasien.
Penulis: Firas Febrian, Primadenny Ariesa Airtangga, Kukuh Dwiputra Hernugrahanto
Link:
Baca juga: Peran Stem Cell Secretome pada Regenerasi Cedera Tulang Belakang





