Riot Control Agents (RCA) dapat menyebabkan kelumpuhan sementara jika digunakan dalam konsentrasi tinggi. Efek ini dapat berlanjut untuk sementara waktu, bahkan setelah paparan berakhir, tetapi agen ini biasanya tidak mematikan. Studi ini melihat bagaimana paparan RCA dapat dikaitkan dengan cedera atau kematian pada mereka yang terkena dampak. Informasi ini penting bagi profesional forensik dan pembuat kebijakan karena insiden dengan RCA terkadang menyebabkan cedera atau kematian.
RCA, yang sering disebut “gas air mata,” sebenarnya bukan gas; melainkan padatan. Ada berbagai cara untuk menggunakan RCA, seperti semprotan pertahanan diri atau granat dan tabung. Versi semprotan mengandung cairan yang berasal dari wadah bertekanan, sedangkan granat dan tabung memiliki bubuk yang bercampur dengan zat piroteknik untuk menghasilkan asap atau kabut. Agen gas CS biasanya terbuat dari partikel kecil dalam bentuk aerosol. Anda dapat melempar perangkat gas CS dengan tangan atau menembakkannya dari peluncur, mengenai target hingga sejauh 400 m. Gas tersebut dapat menutupi area seluas 60 hingga 300 m2. Gas CN dapat larut dalam pelarut dan ditemukan dalam semprotan iritan seperti Mace atau digunakan dalam granat termal. Sementara semprotan merica (OC) sering kali berasal dari wadah genggam, ada juga jenis yang berbentuk granat dan proyektil.
Metode penelitian kami mengikuti Protokol Tinjauan Sistematis. Tujuan, kriteria inklusi, dan metode analisis untuk tinjauan ini didefinisikan dengan jelas dan dicatat dalam protokol terdaftar (Tinjauan Sistematis Pendaftaran: PROSPERO CRD42024540345).
Ke-24 artikel terpilih mengidentifikasi beberapa negara tempat RCA digunakan: AS, Hong Kong, Singapura, India, Irak, Turki, Inggris, Prancis, Swiss, dan Finlandia. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan RCA tersebar luas secara global. AS mewakili Amerika; Hong Kong, Singapura, India, dan Irak mewakili Asia; Turki mewakili kawasan Eurasia; dan Inggris, Prancis, Swiss, dan Finlandia mewakili Eropa. RCA dianggap diizinkan oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia dalam situasi tertentu, seperti penegakan hukum dan penanganan kerusuhan dalam negeri. Penggunaan RCA diatur oleh undang-undang nasional di setiap negara anggota. Dari total 24 artikel penelitian terpilih, 840 korban yang terpapar RCA modern didokumentasikan. Dokumentasi tersebut dilakukan oleh para ahli di bidangnya masing-masing, namun hanya mencakup korban yang tercatat dengan baik dalam arsip masing-masing penelitian, dan tidak mencakup jumlah total orang yang terpapar dalam setiap insiden. Misalnya, dalam kasus kerusuhan, sangat penting untuk kemungkinan jumlah aktual individu yang terpapar RCA melebihi jumlah yang didokumentasikan sebagai korban dalam studi tertentu. Sampel penelitian mencakup lebih banyak pria daripada wanita, dengan pria mewakili 67,14% dan wanita 32,74%. Meskipun ada kasus bayi dan orang tua di antara para korban, mayoritas adalah orang dewasa. Tren ini dapat dimengerti, karena paparan RCA sering dikaitkan dengan kerusuhan, di mana sebagian besar subjek adalah pria dewasa.
Bukti dari kasus-kasus ini perlu ditetapkan. Analisis residu kimia yang terkait dengan RCA攂aik yang ditemukan pada organ tubuh korban, pakaian, atau permukaan area yang terpapar攄apat dilakukan dengan menggunakan metode Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (GC揗S). Teknik ini secara efektif ditunjukkan dalam sebuah penelitian oleh Sebastian Jonsson (2019), di mana ia menganalisis sampel semprotan merica dan gas air mata, dan berhasil mencocokkannya dengan sumber aslinya. Metode GC揗S telah terbukti menjadi standar emas untuk menganalisis zat-zat yang tidak diketahui dalam kasus toksikologi forensik.
Simpulan dalam penelitian ini Paparan RCA dapat menyebabkan berbagai tingkat cedera pada individu, termasuk kemungkinan kematian. Tingkat keparahan cedera dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti konsentrasi zat aktif, durasi paparan, metode paparan, dan kondisi yang sudah ada sebelumnya yang dapat memperburuk efeknya. Dalam konteks ini, TGC umumnya dikaitkan dengan cedera serius atau kematian akibat paparan RCA.
Penulis: Prof. Dr. Ahmad Yudianto, dr., Sp.F(K)., M.Kes., SH.
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
DOI:
Syahroni Bin Mukin, Tia Maya Affrita and Ahmad Yudianto [2025]. Morbidity and mortality of riot control agents exposure in several countries in the last 50 years: a systematic review. Egyptian Journal of Forensic Sciences, 15.40





