Berdasarkan data statistik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2021), melaporkan bahwa populasi puyuh di Indonesia dari tahun 2018 hingga 2020 mengalami peningkatan, namun produksi telur terus mengalami penurunan. Produksi telur puyuh ditentukan oleh konsumsi pakan dan kandungan nutrisi dalam pakan. Peningkatan kualitas pakan juga dapat meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan. Peningkatan kualitas pakan dapat diatasi dengan menggunakan feed additive. Penambahan feed additive umumnya dapat berupa antibiotik, probiotik, fitobiotik, prebiotik, enzim, asam organik, dan minyak atsiri.
Probiotik adalah feed additive dalam bentuk mikroorganisme yang dapat memperbaiki mikroflora ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Bifidobacterium adalah bakteri yang dapat menghasilkan asam asetat, asam format, dan asam laktat dari fermentasi gula. Bakteri ini juga dapat menghasilkan bakteriosin yang mampu menstimulasi antibodi. Feed additive yang aman digunakan selain probiotik adalah fitobiotik. Daun Guazuma ulmifolia merupakan salah satu tanaman herbal yang banyak ditemukan di Indonesia. Senyawa yang terkandung dalam daunnya antara lain tanin, flavonoid, saponin, alkaloid, sterol, glukosa, asam fenolat, dan kalsium oksalat. Senyawa bioaktif flavonoid diketahui dapat meningkatkan proses pencernaan pakan, menstabilkan mikroflora usus dan mengoptimalkan saluran pencernaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Bifidobacterium sp. dan ekstrak daun Guazuma ulmifolia terhadap produksi telur puyuh Jepang, termasuk massa telur, haugh unit (HU), dan warna kuning telur. Sebanyak 96 ekor puyuh tahap awal produksi diacak menjadi empat perlakuan dan enam ulangan. Perlakuan tersebut adalah (T0) tanpa Bifidobacterium sp. dan ekstrak daun G. ulmifolia, (T1) 0,2% Bifidobacterium sp., (T2) 0,2% ekstrak daun G. ulmifolia, dan (T3) 0,2% Bifidobacterium sp. + 0,2% ekstrak daun G. ulmifolia. Pengambilan data massa telur dilakukan pada minggu ketiga dan keempat masa perlakuan, sedangkan pengambilan data HU dan warna kuning telur dilakukan pada minggu terakhir masa perlakuan. Kelompok perlakuan menunjukkan perbedaan yang signifikan pada massa telur. Kelompok T2 dan T3 menunjukkan perbedaan yang signifikan pada warna kuning telur. Kombinasi feed additive dapat meningkatkan nilai HU namun tidak signifikan (p>0,05). Kesimpulannya, kombinasi 0,2% Bifidobacterium sp. dan 0,2% ekstrak daun G. ulmifolia dalam air minum dapat menghasilkan kualitas telur yang paling tinggi.
Penulis: Dr. Widya Paramita Lokapirnasari, drh., M.P.
Link Jurnal:





