Pendahuluan
Menurut laporan WHO 2024, tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling mematikan, dengan lebih dari 10 juta kasus dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun. Keberhasilan penanggulangan TB sangat bergantung pada pada kemampuan sistem imun tubuh, terutama respons sel limfosit T. Salah satu sitokin kunci dalam respons imun terhadap Mycobacterium tuberculosis (M.Tb) adalah interleukin-2 (IL-2) yang diproduksi oleh sel T (Th1) dan berperan dalam proliferasi dan diferensiasi sel T CD4+, CD8+, sel natural killer (NK), serta sel limfosit B. Pada pasien TB aktif, kadar IL-2 menurun karena peningkatan penggunaan dan kebutuhan oleh sel T yang teraktivasi, sehingga mengganggu keseimbangan respons imun dan berkontribusi terhadap progresi penyakit
N-asetilsistein (NAC) merupakan agen antioksidan dan mukolitik yang memiliki sifat imunomodulator. Sejumlah studi in-vitro dan in-vivo membuktikan bahwa NAC dapat meningkatkan efisiensi produksi IL-2 oleh sel T tanpa memperburuk ketidakseimbangan respons imun yang sudah ada. Mekanisme ini berkaitan dengan kemampuannya meningkatkan kadar glutathione (GSH), menurunkan stres oksidatif, dan memperbaiki fungsi sel T, termasuk stimulasi produksi IL-2. Meskipun beberapa penelitian pra-klinik melaporkan potensi NAC terhadap infeksi M.Tb, hingga saat ini belum ada studi klinis yang secara langsung mengevaluasi pengaruh NAC pada pasien TB, khususnya terhadap kadar IL-2. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menerjemahkan temuan laboratorium tersebut ke dalam kondisi klinis dengan menilai efek pemberian NAC sebagai terapi tambahan pada pasien TB paru yang baru terdiagnosis.
Studi pendahuluan ini merupakan penelitian pertama yang mengkaji pengaruh suplementasi NAC terhadap konsentrasi IL-2 pada pasien TB paru yang baru terdiagnosis. Hasilnya diharapkan dapat memberikan bukti awal mengenai potensi NAC sebagai terapi imunomodulator tambahan untuk mendukung respons imun host terhadap M. Tb.
Metode dan Hasil
Penelitian ini merupakan studi quasi-eksperimental dengan desain pre“post control group yang melibatkan 30 pasien TB paru baru di RS 51¶¯Âþ, Surabaya. Peserta dibagi menjadi dua kelompok: 15 pasien menerima terapi standar TB ditambah dengan NAC 600 mg setiap 12 jam selama 2 minggu, sementara 15 pasien lainnya menerima terapi standar tanpa tambahan NAC. Kadar IL-2 diukur dua kali, yaitu sebelum pemberian terapi dan pada hari ke-15 menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Sebelum perlakuan, kadar IL-2 pada kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna. Karakteristik pasien yang meliputi usia, jenis kelamin, dan komorbiditas juga serupa antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Setelah dua minggu intervensi, kelompok yang menerima NAC terdapat peningkatan signifikan kadar IL-2 (p = 0.023). Sebaliknya, kelompok kontrol menunjukkan sedikit penurunan kadar IL-2 yang tidak signifikan (p = 0.594). Analisis perubahan (delta) IL-2 memperlihatkan bahwa kelompok NAC mengalami peningkatan median sebesar 147 ng/L, sedangkan kelompok kontrol mengalami penurunan median sebesar −24,7 ng/L. Perbedaan perubahan antara kedua kelompok ini terbukti signifikan secara statistik (p = 0.025).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NAC memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi IL-2 pada pasien TB aktif. Efek tersebut terutama terkait dengan peran NAC sebagai antioksidan yang mampu memulihkan keseimbangan redoks seluler, sehingga meningkatkan aktivasi dan fungsi sel T. NAC diketahui dapat meningkatkan kadar glutathione (GSH) intraseluler, menurunkan stres oksidatif pada sel imun, serta memodulasi transkripsi gen IL-2 melalui pengaturan jalur pensinyalan seperti NF-κB. Selain itu, NAC memperkuat fungsi sel T melalui aktivasi jalur PI3K/Akt dan penekanan Foxo1, serta menurunkan kadar ROS melalui peningkatan ekspresi small heat shock proteins (sHSPs). GSH juga telah terbukti berperan dalam mendukung proliferasi dan aktivitas metabolik sel T. IL-2 sendiri memiliki peran penting dalam fungsi imun adaptif, sitokin ini meningkatkan aktivitas sitolitik sel T CD8+ dan sel NK, serta mengatur diferensiasi sel T sebagai respons terhadap antigen. Secara spesifik, IL-2 mendorong diferensiasi sel T CD4+ naif menjadi sel Th1 dan Th2, sekaligus menghambat diferensiasi sel Th17 dan sel Tfh.
Pemberian NAC dengan dosis 600 mg dua kali sehari selama dua minggu terbukti aman, dengan hanya satu pasien yang melaporkan efek samping gastrointestinal ringan tanpa perlu penghentian terapi. Suplementasi NAC menunjukkan peningkatan bermakna kadar IL-2 pada pasien TB paru, yang mengindikasikan perannya sebagai agen imunomodulator dalam memperbaiki respons imun seluler terhadap M.Tb, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap luaran klinis yang lebih baik. Namun demikian, temuan ini berasal dari studi awal sehingga belum cukup untuk dijadikan dasar rekomendasi klinis yang definitif, dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Penulis: Resti Yudhawati, Septiardhi Husodo, Faradila Nur Aini
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://www.dovepress.com/n-acetylcysteine-as-a-potential-immunomodulator-in-tuberculosis-eviden-peer-reviewed-fulltext-article-JIR
Resti Yudhawati, Septiardhi Husodo, Faradila Nur Aini (2025). N-Acetylcysteine as a Potential Immunomodulator in Tuberculosis: Evidence of IL-2 Elevation in a Pilot Study. Journal of Inflammation Research, 18:14381“14390





