Natrium dapat memperburuk peradangan sinovial dan penipisan tulang rawan. Kejadian ini dapat menyebabkan nyeri sendi dan menurunkan aktivitas fungsional. Tidak banyak orang yang mengetahui pengaruh natrium terhadap kejadian OA.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara natrium dalam tubuh dengan nyeri sendi lutut yang mengakibatkan aktivitas fungsional. Penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan accidental sampling. Penelitian dilakukan di tiga poliklinik ortopedi rawat jalan rumah sakit dan telah disetujui oleh Komite Etika Kesehatan. Semua data dikumpulkan selama wawancara. Kuesioner Frekuensi Makanan Semi-Kuantitatif (SQ-FFQ) dan aplikasi Nutrisurvey Indonesia 2007 digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan asupan natrium harian (mg). Skor nyeri sendi lutut diukur menggunakan Visual Analog Scale (VAS) sedangkan aktivitas fungsional tubuh diukur menggunakan Western Ontario McMaster Osteoarthritis Index (WOMAC). Uji Pearson dan Spearman (p<0,05) digunakan sebagai uji korelasi.
80 subjek sesuai dengan kriteria inklusi. Karakteristik subjek adalah pralansia (32, 40%), wanita (74, 92,5%), IMT≥ 30 kg/m2 (54, 67,5%) dan pekerjaan (43, 53,75%). Asupan natrium rata-rata = 2090,78 ± 1084,33 mg, skor VAS = 6,28 ± 1,95 dan skor WOMAC = 32,65 ± 14,88. Korelasi natrium, VAS, dan WOMAC tidak signifikan (p=0,196, p=0,372). Peningkatan asupan natrium tidak berhubungan dengan nyeri sendi lutut dan aktivitas fungsional tubuh.
Penulis: Prof. Dr. Suharjono, drs., MS
Jurnal:





