51动漫

51动漫 Official Website

Obstruksi Jalan Napas Fatal akibat Perdarahan Endobronkial Pasca-Kriobiopsi: Laporan Kasus

Ilsutrasi Peru-paru (foto: Anestesia and Critical Care)

Cryobiopsy merupakan teknik biopsi paru yang populer karena keunggulannya dalam menghasilkan jaringan dengan volume lebih besar dan artefak minimal, sehingga meningkatkan akurasi diagnostik, khususnya pada pasien kanker paru. Namun, teknik ini juga membawa risiko komplikasi yang serius, terutama perdarahan endobronkial masif. Artikel ini melaporkan kasus fatal obstruksi jalan napas akibat perdarahan pasca-cryobiopsy pada pasien kanker paru lanjut.

Seorang pria usia 62 tahun dengan riwayat merokok berat dan tanpa komorbid signifikan didiagnosis menderita kanker paru kanan stadium IVA (T4N2M1a) dengan atelektasis total paru kanan. CT scan menunjukkan massa padat berukuran 卤9,6 脳 9,5 脳 14,5 cm yang menutupi seluruh bronkus utama kanan. Cryobiopsy dilakukan pada massa intraluminal di bronkus tersebut. Perdarahan awal berhasil dihentikan melalui suction dan pemberian larutan salin dingin.

Namun, lima menit pasca prosedur, terjadi desaturasi. Re-bronkoskopi menemukan perdarahan masif yang menyebar ke bronkus utama kiri. Upaya penanganan dengan epinefrin, suction, dan salin dingin dilakukan, tetapi pasien mengalami henti jantung dan akhirnya meninggal dunia tiga hari kemudian akibat gagal napas akut.

Laporan ini menekankan bahwa meskipun cryobiopsy efektif secara diagnostik, prosedur ini memiliki risiko perdarahan yang tinggi, terutama pada pasien dengan massa sentral di jalan napas besar. Literatur menyebutkan bahwa komplikasi perdarahan pasca-cryobiopsy dapat mencapai 70%, dan perdarahan masif bisa menyebabkan hipoksemia, aspirasi bilateral, bahkan kematian.

Pengendalian perdarahan awal mencakup suction, salin dingin, epinefrin topikal, dan penggunaan balon tamponade. Teknik pencegahan seperti balon oklusi bronchus, metode dua-scope, atau teknik tube-wedging mulai dikembangkan untuk meminimalkan risiko. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam kasus ini, teknik tersebut tetap belum sepenuhnya mampu mengeliminasi risiko fatal.

Cryobiopsy harus dilakukan dengan kehati-hatian tinggi, terutama pada pasien dengan risiko perdarahan seperti lesi endobronkial sentral. Protokol mitigasi risiko dan tim yang terlatih sangat penting untuk mempersiapkan respons cepat terhadap komplikasi akut. Pemantauan intensif dan manajemen hemostasis intra-prosedural wajib diterapkan untuk meminimalisasi morbiditas dan mortalitas.

Penulis: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP

DOI: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP

AKSES CEPAT