51动漫

51动漫 Official Website

Torakoskopi Medis dalam Diagnosis dan Penatalaksanaan Silikotuberkulosis dengan Pneumotoraks: Laporan Kasus Langka

Ilustrasi Paru-Paru (Sumber: Bisnis style)
Ilustrasi Paru-Paru (Sumber: Bisnis style)

Silikotuberkulosis merupakan koeksistensi penyakit silikosis dan tuberkulosis paru yang sangat jarang dilaporkan, terutama pada negara dengan beban TBC tinggi seperti Indonesia. Diagnosis silikosis sendiri kerap terlambat karena membutuhkan deteksi silika yang tidak selalu tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Studi kasus ini menggambarkan keberhasilan torakoskopi medis sebagai alat diagnosis definitif dalam kasus silikotuberkulosis yang disertai komplikasi berat berupa pneumotoraks bilateral dan fistula bronkopleura multipel.

Seorang pria berusia 45 tahun datang dengan keluhan sesak napas progresif, batuk berdahak, demam, dan penurunan berat badan. Ia memiliki riwayat paparan silika karena bekerja di tambang batu selama 7 tahun tanpa alat pelindung diri. Hasil rontgen menunjukkan pneumotoraks kiri yang diikuti pneumotoraks kanan tiga hari kemudian. CT scan resolusi tinggi menunjukkan adanya fistula bronkopleura bilateral dan fibrosis masif. Torakoskopi medis menunjukkan fistula multipel dan biopsi paru mengonfirmasi adanya silika sebesar 920,19 ppm, serta granuloma terkait infeksi Mycobacterium tuberculosis.

Kasus ini menunjukkan peran penting torakoskopi medis dalam menegakkan diagnosis silikotuberkulosis, terutama ketika bronchoalveolar lavage (BAL) tidak memungkinkan atau hasilnya tidak konklusif. Meski invasif, teknik ini memberikan akses langsung terhadap jaringan paru yang terdampak dan memungkinkan konfirmasi histopatologis maupun analisis mineral. Torakoskopi juga dapat membantu manajemen konservatif pada pasien dengan kondisi tidak layak operasi.

Penatalaksanaan pasien difokuskan pada terapi TBC non-hepatotoksik, penanganan infeksi non-spesifik, serta drainase dada. Karena adanya fistula multipel dan kondisi klinis yang buruk, pembedahan tidak memungkinkan. Pasien dipulangkan dalam keadaan stabil dengan drainase satu arah. Sayangnya, ia meninggal satu bulan kemudian, menandakan perlunya akses transplantasi paru di negara berkembang.

Torakoskopi medis layak dipertimbangkan dalam diagnosis silikotuberkulosis kompleks, terutama pada kasus dengan komplikasi seperti pneumotoraks berulang atau tidak tertangani dengan tatalaksana konvensional. Studi ini juga menekankan pentingnya upaya pencegahan paparan silika di tempat kerja serta perlunya pengembangan metode diagnostik dan terapeutik yang lebih efektif untuk silikotuberkulosis.

Penulis: Isnin Anang Marhana, dr., Sp.P(K), FCCP

DOI: https://doi.org/10.12659/AJCR.946204

AKSES CEPAT