World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia pertama kali melaporkan kejadian penyakit Coronavirus Disease (COVID-19) sebagai suatu pandemi global dengan ditemukannya kasus pneumonia di Wuhan, China, pada tahun 2019. Virus penyebabnya terus mengalami mutasi, diantaranya dengan membentuk suatu beta-coronavirus genomik berupa single-stranded positive-sense RNA (asam ribonukleat). Virus ini dikenal dengan nama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dengan similaritas gejala dan tanda penyakit pneumonia seperti pada infeksi SARS dan MERS.4 meskipun berlainan tingkat morbiditas dan mortalitasnya.
Pada beberapa pasien, tidak nampak adanya gejala dan tanda yang serius, meskipun pada kasus-kasus yang lain dapat menimbulkan acute respiratory distress syndrome (ARDS), septic shock, bahkan kegagalan organ multipel dan kematian. Tingkat penularan virus ini sangat tinggi, melalui percik air ludah dan pernapasan, sehingga diperlukan pengendalian penyebaran dengan salah satunya pengembangan vaksin.
Vaksin COVID-19 dapat dikategorikan menjadi jenis vaksin yang dibuat dari subunit protein, seperti Novavax (Nuvaxovid atau Covovax); vaksin vektor virus seperti Oxford/AstraZeneca (AZD1222, ChAdOx1 nCoV-19, Vaxzevria atau Covishield), Janssen (Ad26.COV2.S atsu Jcovden), or Gamaleya (Sputnik V, atau Gam-COVID-vac); vaksin berbasis mRNA, seperti Moderna (Spikevax atau mRNA-1273) atau Pfizer/BioNTech (Comirnaty atau BNT162b2); dan vaksin virus yang inaktif seperti Sinovac, Sinopharm, atau Bharat Biotech. Vaksinasi tersebut sangatlah vital dalam membantu mengatasi infeksi virus dan sangat penting untuk menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas serta mempercepat penanganan pandemi.
Salah satu kejadian medis pasca vaksinasi yang cukup jarang dilaporkan adalah oklusi vena retina, yang mana dapat mengganggu visus penderita. Kasus ini dikenal dengan nama retinal vein occlusion (RVO). Dilaporkan bahwa kasus ini terjadi pada orang yang sebelumnya telah mengidap penyakit lain seperti hipertensi, hiperlipidemia maupun kelainan darah, dan yang menjadi tujuan studi tim peneliti dari Departemen Anatomi, Histologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran, 51¶¯Âþ, Indonesia yang terdiri dari dosen dan mahasiswa program studi magister ilmu kedokteran dasar.
Dari studi pustaka sistematik 4 pusat data ilmiah selama tahun 2021-2022, kami temukan adanya kasus RVO pada lebih dari 30 orang laki-laki dan wanita yang menerima vaksinasi COVID-19 berbasis mRNA maupun vektor virus, dengan gangguan penglihatan yang sering disertai nyeri kepala dan/ atau pada bola mata. Kasus RVO ditemukan pada mereka setelah 4-6 hari menerima vaksinasi tersebut, meskipun setelah diagnosis dan penanganan yang tepat, hampir semua pasien dapat kembali pulih. Kelainan RVO tersebut ditengarai terjadi pada pembuluh darah retina pusat maupun percabangannya, dan dapat mengenai salah satu maupun kedua bola mata secara bersama-sama.
Meskipun demikian, kasus RVO hendaknya tidak menjadikan kita enggan menerima vaksinasi COVID-19, karena seperti telah diuraikan di atas, vaksinasi tersebut berperan penting dalam pengendalian pandemi dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap COVID-19 yang dapat bersifat fatal.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pengendalian tekanan darah serta penyakit-penyakit lain sangat berperan dalam menurunkan angka kejadian RVO pasca vaksinasi, dan dengan diagnosis dini serta oenangan yang tepat maka kasus ini dapat disembuhkan dengan baik.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rachman MJ, Kalanjati VP, Rimbun R, Khadijah F. 2023. Clinical Ophthalmology 2023:17 2825“2842. https://doi.org/10.2147/OPTH.S426428





