51动漫

51动漫 Official Website

Paradoks Kualitas Hidup dan Kepatuhan Minum Obat Pasien Tuberkulosis pasca Pandemi COVID-19

Ilustrasi penderita Tuberkuosis (foto: Viva)

Bagi banyak orang dengan tuberkulosis (TB) di Indonesia, perjuangan tidak berhenti saat mereka rajin menelan obat setiap hari. Setelah melewati masa sulit pandemi COVID-19, sebagian besar pasien masih akan bergulat dengan kualitas hidup yang belum benar-benar membaik. Kondisi pasca pandemi inilah yang jarang diteliti dalam perawatan TB.

Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi di dunia, sehingga setiap gangguan layanan kesehatan akan berdampak besar. Pandemi COVID-19 membuat banyak layanan TB tersendat: pasien takut kontrol, akses ke rumah sakit terbatas, dan program pengawasan langsung menelan obat ikut terpengaruh. Akibatnya, diagnosis dan pengobatan sering terlambat, sementara tekanan ekonomi dan mental pada pasien dan keluarga juga meningkat.

Untuk memahami kondisi pasca-pandemi, peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bersama dengan peneliti dari Malaysia dan Arab Saudi melakukan studi di sebuah rumah sakit rujukan paru besar di Surabaya pada Juni揓uli 2023. Sebanyak 188 pasien TB dewasa dengan TB sensitif obat yang sedang menjalani terapi kombinasi lini pertama diikutsertakan. Kepatuhan minum obat diukur menggunakan kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS-5), sedangkan kualitas hidup dinilai dengan St. George檚 Respiratory Questionnaire (SGRQ) yang melihat gejala, keterbatasan aktivitas, dan dampak TB dalam kehidupan sehari-hari.

Secara angka, hasilnya tampak 渂agus: sekitar 81% pasien masuk kategori kepatuhan obat yang tinggi dengan skor MARS-5 rata-rata lebih dari 24 dari maksimum 25. Artinya, sebagian besar pasien jarang lupa minum obat, jarang mengurangi dosis, dan tidak menghentikan pengobatan tanpa anjuran tenaga kesehatan. Namun ketika kualitas hidup diukur, skor rata-rata SGRQ berada di kisaran 46 dari 100, yang menunjukkan kualitas hidup mereka pada tingkat sedang hingga buruk.

Yang paling berat dirasakan adalah pada aspek aktivitas: banyak pasien mengeluhkan mudah lelah, sesak bila bergerak, dan akhirnya membatasi pekerjaan atau aktivitas rumah tangga. Menariknya, dari kelompok yang patuh minum obat, sekitar sepertiga masih melaporkan kualitas hidup yang buruk, sehingga jelas bahwa kepatuhan saja belum cukup untuk mengembalikan kehidupan seperti semula.

Analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat kepatuhan dan kualitas hidup; korelasinya sangat kecil dan tidak signifikan. Hal ini menandakan bahwa sekalipun pasien sudah mengikuti aturan minum obat dengan baik, banyak faktor lain yang tetap menekan kualitas hidup mereka. Hal itu dapat mencakup efek samping obat yang berkepanjangan, kerusakan paru yang sudah terjadi, stigma sosial, kecemasan, depresi, serta beban ekonomi keluarga karena berkurangnya kemampuan bekerja. Dalam studi ini, faktor sosiodemografis seperti usia, pendidikan, pekerjaan, dan komorbid tidak berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, sementara jenis kelamin justru terkait dengan kepatuhan: pasien laki-laki tampak lebih patuh dibanding perempuan.

Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan program TB tidak bisa hanya diukur dari angka konversi sputum atau persentase kepatuhan minum obat. Praktik klinik dan kebijakan pelayanan kesehatan perlu memberi ruang lebih besar pada penilaian kualitas hidup, misalnya dengan secara rutin menanyakan keluhan napas, keterbatasan aktivitas, suasana hati, hingga dampak ekonomi pada keluarga. Intervensi yang lebih komprehensif diperlukan, seperti dukungan psikososial, layanan rehabilitasi paru, bantuan sosial, dan edukasi berkelanjutan agar pasien memahami bahwa proses pemulihan memang panjang.

Penelitian ini menegaskan bahwa setelah pandemi, banyak pasien TB di Indonesia sudah 減atuh secara medis, tetapi belum 減ulih secara hidup. Program TB ke depan perlu menggabungkan pemantauan kepatuhan obat dengan upaya memperbaiki kualitas hidup, termasuk layanan yang peka terhadap perbedaan gender dan konteks sosial pasien. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan holistik, kesembuhan TB tidak lagi sekadar berhenti pada hasil laboratorium, tetapi tercermin dalam kemampuan pasien untuk kembali beraktivitas, bekerja, dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.

Artikel dapat diakses di

Penulis: Andi Hermansyah (Fakultas Farmasi 51动漫)

AKSES CEPAT