Malaria masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat global, terutama di wilayah tropis dan subtropis, karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi. Menurut laporan WHO tahun 2023, sebanyak 263 juta kasus malaria tercatat di 83 negara endemik dengan angka kematian sekitar 608.000 jiwa. Di Indonesia, kasus malaria melebihi 369.000, dengan lonjakan di beberapa daerah seperti Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Dua spesies utama penyebab malaria, Plasmodium falciparum dan P. vivax, menjadi perhatian utama karena menyebabkan infeksi tersering dan komplikasi paling fatal.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi penyakit ini, namun pengendalian malaria global kini menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya resistensi terhadap obat antimalaria, termasuk terhadap obat standar malaria artemisinin dan turunannya. Resistensi artemisinin yang pertama kali muncul di Kamboja pada 2007 telah menyebar luas di Asia Tenggara, mengancam keberhasilan program eliminasi malaria. Situasi ini memperkuat urgensi pencarian kandidat obat baru, khususnya dari sumber bahan alam seperti tanaman obat tradisional, yang terbukti memiliki potensi farmakologis tinggi.
Tanaman dari genus Cratoxylum telah lama digunakan secara empiris untuk mengobati demam dan malaria. Beberapa spesiesnya, seperti C. mangiayi, C. cochinchinense, dan C. glaucum, diketahui mengandung senyawa aktif antimalaria. Berdasarkan pendekatan kemotaksonomi, eksplorasi pada spesies lain seperti C. sumatranum dinilai penting. Tanaman ini di Indonesia dikenal dengan nama 淕eronggang. Banyak digunakan masyarakat secara tradisional di Kalimantan dan Sumatera Barat untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk demam. Berdasarkan pustaka, diketahui bahwa ekstrak kulit batang C. sumatranum mengandung senyawa bioaktif seperti Gerontoxanthone I, Macluraxanthone, dan 纬-Mangostin yang diduga bekerja secara sinergis dalam menghambat pertumbuhan parasit. Temuan ini menunjukkan bahwa C. sumatranum memiliki potensi besar sebagai sumber kandidat obat antimalaria alami.
Telah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi aktivitas antimalaria ekstrak diklorometana dari ranting C. sumatranum terhadap parasit malaria Plasmodium falciparum galur 3D7 dan Dd2, menilai toksisitasnya terhadap sel mamalia BHK-21, serta menganalisis kandungan metabolitnya melalui metode LC-MS/MS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak diklorometana dari ranting Cratoxylum sumatranum (Cs-T-D) juga memiliki aktivitas antimalaria yang sangat kuat terhadap dua galur Plasmodium falciparum, yaitu 3D7 yang sensitif terhadap klorokuin, dan Dd2 yang resisten terhadap klorokuin. Hambatan pertumbuhan parasit dapat dilihat dari nilai IC鈧呪個 yang dicapai terhadap galur 3D7 adalah 0,28 卤 0,55 碌g/mL, sedangkan terhadap galur Dd2 adalah 0,66 卤 0,02 碌g/mL. Keduanya termasuk dalam kategori aktivitas sangat aktif, menunjukkan bahwa ekstrak ini efektif melawan parasit malaria, bahkan pada galur yang telah mengalami resistensi terhadap obat konvensional. Di samping aktivitas antiparasit yang menjanjikan, ekstrak Cs-T-D juga menunjukkan profil toksisitas yang rendah terhadap sel mamalia normal. Uji terhadap sel BHK-21 menghasilkan nilai CC鈧呪個 lebih dari 100 碌g/mL, yang menunjukkan bahwa ekstrak ini memiliki selektivitas tinggi terhadap parasit dan aman digunakan pada sel non-target. Nilai indeks selektivitas yang besar ini menjadi indikator penting bahwa senyawa yang terkandung di dalam ekstrak memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai obat antimalaria yang efektif dan aman.
Analisis fitokimia menggunakan LC-MS/MS telah berhasil mengidentifikasi 41 senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak, khususnya yang berasal dari golongan xanton, flavonoid, dan antrakuinon. Beberapa senyawa seperti Gerontoxanthone I, Macluraxanthone, 纬-Mangostin, Pinosembrin chalcone, dan Vismione B yang terdeteksi pada ekkstrak Cs-T-D diketahui memiliki aktivitas antiplasmodial. Aktivitas antimalaria ekstrak diduga berasal dari sinergi senyawa-senyawa tersebut yang bekerja melalui berbagai mekanisme, termasuk penghambatan enzim penting parasit dan gangguan detoksifikasi heme. Kombinasi ini menunjukkan potensi C. sumatranum sebagai sumber agen antimalaria multi-target yang berpeluang menekan risiko resistensi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak diklorometana dari ranting Cratoxylum sumatranum (Cs-T-D) menunjukkan aktivitas sangat aktif terhadap galur Plasmodium falciparum baik yang sensitif (3D7) maupun yang resisten (Dd2) terhadap klorokuin, disertai dengan profil toksisitas yang rendah terhadap sel mamalia normal. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak Cs-T-D tidak hanya efektif, tetapi juga relatif aman sebagai kandidat obat antimalaria. Analisis fitokimia mengungkap adanya keragaman metabolit bioaktif dalam ekstrak, seperti xanton, flavonoid, dan antrakuinon dalam ekstrak ini berkontribusi secara sinergis dalam menghambat pertumbuhan parasit melalui berbagai mekanisme, termasuk penghambatan enzim penting dan gangguan proses metabolik parasit. Studi lanjutan diperlukan untuk mengisolasi senyawa aktif guna mengkonfirmasi hasil analisis fitokimia berbasis LC-MS/MS dan memastikan kontribusi nyata senyawa-senyawa tersebut terhadap aktivitas antimalaria yang diamati, serta untuk mengevaluasi aktivitasnya melalui pendekatan in vivo dan melakukan penilaian toksikologi yang komprehensif demi menjamin efektivitas dan keamanannya sebelum diarahkan ke tahap pengembangan klinis.
Penulis:
Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.
NIP. 196204261990022001
HP. 08113404171
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Corry, M. N., Ilmi, H., Tumewu, L., Nisa, H. K., Wicaksana, F., Pamungkas, I. R., Salam, S., Kuncoro, H., Osman, C. P., Hafid, A. F., & Widyawaruyanti, A. (2025). Antimalarial and Cytotoxic Activities of Cratoxylum sumatranum (Jack) Bl. Twigs Dichloromethane Extract and Its Phytochemical Profiling by LC-MS / MS. Trends in Sciences, 22(10), 10576.





