51

51 Official Website

Peluang Modernisasi Obat Tradisional untuk Atasi Infeksi Virus Hepatitis C

Prof apt Tutik Sri Wahyuni S Si M Si PhD saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar (Foto: PKIP UNAIR)
Prof apt Tutik Sri Wahyuni S Si M Si PhD saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar (Foto: PKIP UNAIR)

UNAIR NEWS – 51 (UNAIR) kembali mengukuhkan enam guru besar pada Kamis (15/5/2025). Dalam momen tersebut, Prof apt Tutik Sri Wahyuni S Si M Si PhD, resmi meraih gelar akademik tertingginya. Prof Tutik menjadi guru besar UNAIR dalam bidang Ilmu Farmakognosi. Pidato berjudul Modernisasi Obat Tradisional dalam Terapi Infeksi Virus Hepatitis C ia sampaikan dalam sidang pengukuhannya. 

Prof Tutik menjelaskan tentang modernisasi obat tradisional yang telah meluas di berbagai negara, tetapi belum populer di Indonesia. Upaya modernisasi obat tradisional di Indonesia terlihat dari munculnya istilah Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). OMAI adalah produk herbal yang telah terbukti aman secara ilmiah, baik berupa Obat Herbal Terstandar (OHT) maupun fitofarmaka. 

Penyakit hepatitis C telah menjadi perhatian dunia kesehatan karena dampaknya yang dapat berujung pada kematian. Menurut WHO, sekitar 50 juta orang di dunia mengidap hepatitis C kronis. Sementara di Indonesia, jumlah pengidap hepatitis kronis ini jumlahnya mencapai 1,9 juta orang. Penyakit ini bisa berkembang menjadi sirosis, bahkan berujung pada kematian, ungkap Prof Tutik. 


Prof apt Tutik Sri Wahyuni S Si M Si PhD saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar (Foto: PKIP UNAIR)
Prof apt Tutik Sri Wahyuni S Si M Si PhD saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan guru besar (Foto: PKIP UNAIR)

Melihat permasalah tersebut, Prof Tutik memperkenalkan tanaman Ruta angustifolia yang terbukti mampu menghambat proses replikasi virus hepatitis C. Tanaman yang dikenal dengan sebutan Inggu ini telah lama menjadi alternatif pengobatan penyakit kuning di beberapa budaya. Prof Tutik menyebut bahwa tanaman ini menunjukkan efek sinergis ketika dikombinasikan dengan obat antivirus lain seperti simeprevir. 

Berdasarkan hasil penelitiannya, Prof Tutik mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia memiliki peluang untuk menemukan obat antivirus hepatitis C. Hal ini sekaligus mendukung modernisasi obat tradisional di Indonesia. Keanekaragaman hayati yang melimpah di Indonesia memberikan peluang untuk menemukan obat antivirus hepatitis C. Pengembangan obat tradisional dalam bentuk OHT dan fitofarmaka untuk hepatitis C sebagai OMAI merupakan peluang besar dalam mendukung modernisasi obat tradisional, jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Tutik menekankan pentingnya kolaborasi triple helix antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Menurutnya, upaya mewujudkan modernisasi obat tradisional sebagai produk yang berkualitas, aman, dan efektif memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Terlebih, pengembangan produk antivirus tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. 

Rekomendasi yang saya berikan adalah, pertama, optimalisasi riset hilirisasi untuk pengembangan produk obat tradisional antivirus. Khususnya infeksi virus hepatitis C, sebagai obat alternatif dan komplementer. Kedua, adanya penguatan kolaborasi triple helix dalam upaya modernisasi obat tradisional, jelas Prof Tutik. 

Penulis: Khumairok Nurisofwatin

Editor: Yulia Rahmawati

AKSES CEPAT