Sebuah studi laboratorium (in vitro) menemukan bahwa gen dan protein Exportin 1 (XPO1), yaitu protein penting dalam sel yang berperan sebagai pengangkut molekul dari inti sel ke sitoplasma, ditemukan ditemukan secara berlebihan pada delapan garis sel kanker limfoma pada anjing, baik tipe sel B maupun sel T yang diperoleh dari berbagai sumber. Penelitian yang dilakukan oleh staf pengajar 51动漫 (UNAIR) dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), drh. Hardany Primarizky, MVM. tersebut menguji obat bernama verdinexor (KPT-335) yang pada tahun 2021 telah di setujui secara kondisional oleh U.S. FDA untuk pengobatan kanker limfoma pada anjing.
Verdinexor dirancang untuk menghambat XPO1 yang telah diuji dalam studi klinis sebelumnya, dan hasilnya menunjukkan bahwa obat ini mampu menurunkan kelangsungan hidup sel kanker secara signifikan, bahkan pada dosis sangat rendah, dengan nilai IC鈧呪個, yaitu kemampuan obat untuk menghambat 50% aktifitas sel kanker berkisar antara 89,8 hingga 418 nanomolar. Drh. Hardany menjelaskan bahwa obat ini (Verdinexor) menunjukkan efektivitas pada konsentrasi nanomolar dan mampu menurunkan viabilitas sel kanker B dan T hingga di bawah 50%, seperti yang termuat di dalam artikel yang dipublikasikan di Veterinary Sciences (MDPI, 2025).
Meski XPO1 tampak sebagai target terapi yang menjanjikan, tingkat keberadaan gen dan protein XPO1 di dalam sel kanker limfoma anjing tersebut tidak berhubungan langsung dengan sensitivitas terhadap Verdinexor. Artinya, XPO1 berpotensi menjadi target pengobatan, namun belum bisa digunakan sebagai penanda untuk memprediksi bagaimana respons pasien terhadap terapi.
Penelitian yang dilakukan oleh drh. Hardany dengan tim peneliti dari Joint Graduate School of Veterinary Medicine Yamaguchi University di Jepang ini menggunakan metode standar seperti quantitative real-time PCR (qRT-PCR) dan western blot, serta uji viabilitas sel dengan trypan blue dan WST. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa lima dari delapan garis sel memiliki ekspresi gen XPO1 yang tinggi, dan seluruh garis sel menunjukkan kadar protein XPO1 lebih tinggi dibandingkan sel darah normal. Meski hasilnya menjanjikan, tim peneliti menekankan bahwa studi lanjutan masih diperlukan karena di dalam penelitian ini belum menunjukkan mekanisme kerja obat secara langsung, seperti akumulasi protein penekan tumor di inti sel. Selain itu, jumlah garis sel yang digunakan masih terbatas dan belum mencerminkan kompleksitas tumor asli pada pasien anjing.
Untuk mendukung penerapan klinis, studi lanjutan perlu dilakukan, termasuk uji pada sampel tumor asli dari pasien anjing, analisis farmakodinamik obat, serta kombinasi terapi kanker dengan obat standar kemoterapi. Peneliti juga menyarankan pengujian biomarker lain seperti p53, survivin, dan transporter obat untuk memahami lebih dalam faktor yang memengaruhi respons terhadap terapi.
Secara keseluruhan, studi ini memberikan dasar ilmiah yang kuat untuk penelitian lanjutan, meskipun belum cukup untuk langsung diterapkan dalam pengobatan klinis pada anjing penderita kanker limfoma. Studi ini menjadi langkah awal yang penting dalam pengembangan terapi kanker pada hewan, khususnya limfoma pada anjing, dan membuka peluang untuk riset translasi yang lebih luas ke bidang onkologi manusia. Peneliti berharap temuan ini dapat mendorong kolaborasi lintas disiplin untuk mempercepat inovasi terapi kanker yang lebih efektif dan terukur.
Informasi lebih lanjut bisa didapatkan di artikel yang sudah terpublikasi di jurnal internasional terindeks Scopus Q1, yaitu Veterinary Science dari MDPI pada tautan .
Primarizky, H., Kambayashi, S., Baba, K., Tani, K., & Okuda, M. (2025). Exportin 1 (XPO1) Expression and Effectiveness of XPO1 Inhibitor Against Canine Lymphoma Cell Lines. Veterinary Sciences, 12(8), 700.





