51动漫

51动漫 Official Website

Penerapan Teknologi Kesehatan pada Gaya Hidup dan Tingkat Stres Pasien Gastroesophageal Reflux Disease

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan saluran cerna yang banyak dialami oleh masyarakat di dunia. Gaya hidup masyarakat yang ingin serba praktis, dan sering menunda waktu makan membuat lambung memproduksi asam yang berlebih. Selain itu, GERD merupakan salah satu penyakit psikomatik yang salah satu penyebabnya adalah stress. Di Indonesia, belum terdapat data prevalensi GERD yang lengkap, namun penelitian di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukkan sebanyak 22,8% kasus esofagitis ditemukan pada semua pasien yang menjalani pemeriksaan endoskopi dengan indikasi dispepsia. Faktor gaya hidup, seperti merokok, konsumsi garam berlebih, pola makan yang tidak teratur, dan variasi diet yang kurang telah ditetapkan sebagai faktor risiko GERD. Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kekambuhan GERD adalah dengan berhenti merokok, makan dengan porsi kecil, menjaga berat badan, membatasi makanan berlemak, menghindari berbaring setelah makan, serta mengendalikan stress.

Perkembangan teknologi saat ini sangat memungkinkan untuk membantu masyarakat dalam memperbaiki gaya hidup termasuk untuk penderita GERD yaitu membantu untuk mengukur tingkat stres. Aplikasi monitoring gaya hidup dan tingkat stres pada pasien GERD yang telah dikembangkan, memiliki beragam fitur yang didesain untuk mengingatkan penggunanya dalam melakukan perubahan pola hidup yang lebih baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari 51动漫 melakukan kajian pustaka terkait pengaruh penerapan teknologi pada pasien GERD. Hasil kajian dipublikasikan pada jurnal nasional yaitu Journal of Telenursing (JOTING).

Hasil kajian pustaka menunjukkan bahwa dari 20 artikel yang dianalisis, terdapat artikel yang melaporkan bahwa gaya hidup seperti merokok, BMI yang tinggi, kurang olahraga, kebiasaan

makan di malam hari, tidak sarapan dan kurang tidur merupakan faktor risiko terjadinya GERD. Selain itu, stress, kecemasan dan depresi juga berkaitan dengan kejadian GERD. Hasil studi juga menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu pasien dalam mengobati dan mengendalikan GERD. Teknologi memfasilitasi para pasien untuk memanajemen penyakit yang mereka alami, selain itu, pasien juga dapat lebih banyak belajar tentang GERD. Teknologi juga membantu tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan, pengobatan, dan pengawasan kepada pasien. Berdasarkan studi pustaka, dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknologi pada pasien GERD dapat membantu pasien untuk mengetahui faktor risiko GERD dan cara memanajemen gaya hidup sehingga, dapat mendukung proses terapi GERD.

Penulis: Prof. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD., Ph.D

Artikel lengkap dapat diakses di:

https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JOTING/issue/view/245

AKSES CEPAT