Katarak dan glaukoma adalah penyebab kebutaan paling umum di seluruh dunia. Prevalensi glaukoma meningkat seiring usia dan sering terjadi bersamaan dengan katarak. Glaukoma sudut tertutup primer lebih umum pada orang Asia daripada Eropa dan Afrika, mencapai 80% di seluruh dunia di Asia.
Manajemen glaukoma sudut tertutup primer dengan katarak menjadi tantanganunik. Pilihan operasi antara menangani katarak atau glaukoma saja atau keduanya perlu dipertimbangkan. Operasi fakoemulsifikasi atau extracapsular cataractextraction (ECCE) untuk katarak dan trabekulektomi atau goniosinekiolisis untuk glaukoma adalah beberapa pilihan.
Keputusan pembedahan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk derajat katarak, target tekanan intraokular (TIO), jumlah obat glaukoma, jenis glaukoma, tingkat keparahan, dan pengalaman ahli bedah. Trabekulektomi sering dipilih jika terapi medikamentosa dan iridotomi laser tidak berhasil mencapai target TIO. Namun, trabekulektomi dapat mempercepat perkembangan katarak dan menyebabkan kebutuhan operasi katarak dalam tahun pertama.
Fakoemulsifikasi pada mata glaukoma sudut tertutup primer bisa sulit, karena dapat menyebabkan kelemahan zonula, sinekia perifer, dan atrofi iris. Namun, ekstraksi lensa dapat mengurangi penumpukan sudut dan memperbaiki aliran cairan mata, sehingga menurunkan TIO dan mengurangi kebutuhan obat antiglaukoma.
Penelitian ini membandingkan efektivitas fakotrabekulektomi dan fakoemulsifikasi pada glaukoma sudut tertutup primer dengan katarak. Meta- analisismelibatkan 7 studi yang memenuhi kriteria inklusi. Tidak ada perbedaan signifikan pada banyak indikator luaran antara kedua teknik operasi, kecuali pada sudut sinekiaanterior perifer dan kedalaman bilik mata depan.
Dari 419 studi, hanya 7 studi yang memenuhi kriteria inklusi dan dimasukkan dalam analisis lebih lanjut. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tekanan intraokuler yang signifikan setelah operasi fakotrabekulektomi dan fakoemulsifikasi, dengan nilai standard mean difference (SMD) sebesar 0,09 (95% CI: -0,03 “ 0,48; p=0,65). Hal ini juga berlaku pada evaluasi 6 bulan dengan SMD sebesar 0,55 (95% CI: -0,57 “ 1,67; p=0,32) dan 12 bulan dengan SMD sebesar -0,47 (95% CI: -1,32 “ 0,38; p=0,28). Tidak ada perbedaan signifikan pada tajam penglihatan pascaoperasi, kebutuhan obat antiglaukoma, defek lapang pandang, vertical-disc ratio, dan komplikasi. Namun, terdapat penurunan signifikan pada sudutsinekia anterior perifer dengan nilai SMD sebesar 0,44 (95% CI: 0,09 “ 0,78; p=0,01)dan kedalaman bilik mata depan dengan nilai SMD sebesar -0,48 (95% CI: -0,86 – -0,1; p=0,01). Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa tidak ada studi yang secara signifikan mempengaruhi hasil dari studi lainnya, jika studi tersebut dihapus dari analisis (P> 0,05).
Kesimpulannya, tidak ada perbedaan signifikan antara fakotrabekulektomi danfakoemulsifikasi dalam penanganan glaukoma sudut tertutup primer dengan katarak.Studi lebih lanjut dengan jumlah pasien lebih besar diperlukan untuk memperkuat hasil, serta analisis jangka panjang dan subkelompok untuk menjelaskan mekanismepenurunan TIO setelah kedua tindakan bedah tersebut.
Penulis: Putri Anya Universade1, Evelyn Komaratih1, Citrawati Dyah Kencono W2
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
https://balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4835/3065





