51动漫

51动漫 Official Website

Pengalaman Masa Kecil yang Tidak Menyenangkan, Tingkat Depresi dan Dukungan Positif sebagai Faktor yang Membangun Resiliensi pada Anak Jalanan

Foto by detikcom

Anak jalanan masih menjadi fenomena sosial yang tidak bisa dihindari di kota besar di Indonesia, termasuk kota Surabaya. Jumlah anak terlantar di Indonesia pada bulan Desember tahun 2020 menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial adalah 67.368 anak dan hanya 8.320 anak yang tinggal di tempat penampungan, termasuk anak jalanan. Anak jalanan adalah anak berusia  dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk hidup, bermain dan mencari nafkah di jalan.

Anak jalanan rentan mengalami berbagai masalah psikologis karena menjalani kehidupan yang tidak mudah. Di kota Surabaya, 91,1% anak jalanan mengalami masalah mental emosional seperti merasa tidak bahagia, sedih, cemas, gelisah dan mudah marah. Situasi terebut sangat bisa dipahami mengingat tingginya tekanan yang harus dihadapi selama menjalani kehidupan dijalan. Anak jalanan sering merasa tidak dihargai, memiliki pengalaman hidup yang tidak menyenangkan, dianggap tidak memiliki tujuan hidup, rentan terlibat dalam pergaulan yang salah dan menjadi korban atau pelaku kekerasan serta penggunaan obat terlarang. Di lain sisi, anak jalanan yang mampu beradaptasi pada situasi menekan akan memiliki rasa toleransi yang kuat dan mampu berjuang untuk melanjutkan kehidupan. Anak jalanan harus memiliki kemampuan bertahan pada situasi yang penuh tekanan atau kemampuan resiliensi untuk menunjang kualitas hidup anak jalanan.

Hasil penelitian yang telah dilakukan mampu mengidentifikasi faktor resiko dan faktor pendukung yang berhubungan dengan kemampuan resiliensi anak jalanan. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dan tingkat depresi merupakan faktor resiko yang menurunkan kemampuan resiliensi, sementara dukungan positif merupakan faktor pendukung yang meningkatkan kemampuan resiliensi anak jalanan. Kemampuan resiliensi dibentuk berdasarkan interaksi dinamis antara kedua faktor tersebut. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan adalah kejadian traumatik sebelum usia 18 tahun meliputi penganiayaan fisik, emosional, seksual, kekerasan oleh orang lain, orang dewasa dan orang terdekat seperti keluarga, tinggal dengan orang tua yang tidak harmonis, menggunakan obat terlarang, mengalami gangguan mental, pernah dipenjara atau pernah mencoba untuk bunuh diri. Situasi tersebut membuat anak merasa tidak nyaman, merasa tertekan atau stress dan sulit menyesuaikan diri. Sementara depresi adalah masalah kesehatan mental yang serius yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat untuk beraktivitas dan dikaitkan dengan periode penemuan diri, tekanan sosial dan pengalaman masa kanak-kanak. Depresi pada anak jalanan ditampilkan dalam perilaku motivasi belajar yang rendah, kecemasan, lekas marah, rasa bersalah, kesedihan, bahkan mengancam bunuh diri. Namun demikian faktor resiko yang ditemukan dalam penelitian ini dapat diseimbangkan dengan faktor dukungan yang didapatkan oleh anak jalanan. Dukungan positif didapatkan dalam bentuk pengalaman yang dianggap bermanfaat, seperti hubungan positif dengan orang dewasam rutinitas harian, kepercayaan yang memberikan kenyamanan, dan memiliki teman yang baik. Dukungan positif pada anak jalanan didapatkan dari hubungan baik dengan pengasuh dan orang dewasa, hubungan yang dekat, penuh perhatian dan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi sehari-hari. Faktor protektif akan menjadi sumberdaya bagi anak jalanan, mengurangi dampak negatif faktor resiko, sehingga anak jalanan mampu mencapai resiliensi.

Resiliensi dapat dibentuk melalui 7 kemampuan utama, yaitu: pengendalian emosi (pengaturan emosi saat individu berada didalam kondisi yang penuh tekanan), mengontrol impuls (mengendalikan  keinginan, dorongan, kesukaan atau tekanan), optimisme (keyakinan dapat mengubah sesuatu yang dihadapi menjadi lebih baik), analisis penyebab masalah (mengidentifikasi secara tepat penyebab dari permasalahan), empati (membaca emosional dan psikologis orang lain), self efficacy (yakin mampu untuk memecahkan masalah), dan pencapaian (mencapai aspek positif dari kehidupan setelah menghadapi tekanan). Kemampuan resiliensi pada anak jalanan merupakan hasil pengelolaan faktor yang menyebabkan situasi sulit selama hidup di jalanan sehingga dapat mencapai adaptasi dan berdampak pada peningkatan kesehatan mental.

Penulis: Rizki Fitryasari

AKSES CEPAT