51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengaruh Aerasi terhadap Pertumbuhan Abalon di Sistem Resirkulasi

Abalon (Haliotis squamata), salah satu komoditas laut yang sangat diminati, terutama di kawasan Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Oseania, memiliki potensi besar sebagai produk ekspor unggulan Indonesia. Namun, meski budidaya abalon semakin berkembang, tantangan seperti pertumbuhan lambat dan kebutuhan lingkungan yang spesifik masih menjadi hambatan utama.
Penelitian terbaru yang dilakukan di sistem akuakultur resirkulasi (Recirculating Aquaculture System atau RAS) menunjukkan bahwa tingkat aerasi berperan besar dalam menentukan keberhasilan budidaya abalon. Sistem RAS, yang memanfaatkan teknologi sirkulasi ulang air, memungkinkan pengelolaan kualitas air yang lebih baik sekaligus mengurangi kebutuhan air laut segar.
Eksperimen Aerasi: Mana yang Terbaik?
Dalam studi ini, empat tingkat aerasi diuji: 0,4; 0,8; 1,2; dan 1,6 liter per menit. Juvenil abalon dengan panjang cangkang rata-rata 27,26 mm dan berat 3,27 g ditempatkan dalam keranjang kecil di tangki RAS selama sembilan minggu.
Hasilnya?
Tingkat aerasi tertinggi (1,6 liter per menit) memberikan performa terbaik, dengan pertumbuhan yang signifikan, tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, dan efisiensi pakan yang lebih baik. Sebaliknya, tingkat aerasi terendah (0,4 liter per menit) menunjukkan hasil yang jauh lebih buruk.
Mengapa Aerasi Penting?
Dissolved oxygen (DO) atau kadar oksigen terlarut menjadi kunci dalam sistem RAS. Abalon yang hidup di perairan pesisir biasanya terbiasa dengan kadar oksigen tinggi. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan stres metabolik, pertumbuhan terhambat, dan bahkan kematian.
Namun, aerasi berlebih juga memiliki risiko. Supersaturasi oksigen di atas 120% dapat menyebabkan penyakit gas bubble yang mematikan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan oksigen dalam sistem akuakultur.
Dampak Positif Aerasi Optimal
Selain meningkatkan pasokan oksigen, aerasi yang tepat juga memperbaiki sirkulasi air di tangki. Dengan sirkulasi yang merata, juvenil abalon dapat menikmati lingkungan yang lebih stabil, mengurangi stres, dan meningkatkan peluang pertumbuhan.
Masa Depan Budidaya Abalon
Studi ini memberikan wawasan penting untuk industri budidaya abalon di Indonesia. Dengan menggunakan aerasi pada tingkat 1,6 liter per menit dalam sistem RAS, petani abalon dapat meningkatkan hasil produksi abalon secara signifikan.

Namun, langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi faktor tambahan seperti kepadatan tebar, nutrisi pakan, dan strategi aerasi yang lebih efisien. Dengan inovasi yang terus berkembang, budidaya abalon dapat menjadi lebih berkelanjutan dan menguntungkan.
Kesimpulan:
Penelitian ini menegaskan bahwa pengelolaan aerasi dan kualitas air yang baik menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya abalon. Dengan menerapkan teknologi RAS yang canggih, industri abalon Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global sekaligus mendukung pelestarian sumber daya laut.

(Astari et al., 2025)
Astari, B., Budiardi, T., Effendi, I., Bodur, T., Setia, D., & Ismi, S. (2025). The effect of aeration rates on abalone (Haliotis squamata) juvenile culture in recirculating aquaculture system. Invertebrate Reproduction & Development, Inpress, 1“12. https://doi.org/10.1080/07924259.2024.2435462


Oleh. Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si

AKSES CEPAT