Edukasi gizi memiliki dampak terhadap peningkatan pengetahuan orang tua mengenai gizi seimbang bagi anak-anak mereka. Orang tua memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan makan anak sejak usia dini hingga dewasa. Sayangnya, literasi kesehatan yang rendah dan status sosial ekonomi yang terbatas seringkali dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat dan aktivitas fisik yang minim pada anak-anak. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan di Yayasan An-Nusyur Aeng Panas, Sumenep, Madura, menunjukkan bahwa penting untuk memberikan edukasi gizi kepada orang tua guna membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik terkait pola makan anak-anak mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh edukasi gizi terhadap peningkatan pengetahuan orang tua tentang gizi seimbang pada anak-anak. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan satu kelompok pre-test dan post-test, di mana 27 orang tua dari siswa taman kanak-kanak Yayasan An-Nusyur Aeng Panas berpartisipasi. Selama tiga jam, para orang tua menerima edukasi gizi yang disampaikan oleh tim ahli gizi dari Indonesia dan Malaysia. Sebelum dan sesudah sesi edukasi, para orang tua diminta mengisi kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan mereka mengenai gizi seimbang. Hasil dari pre-test menunjukkan skor rata-rata 84,44, sementara post-test menunjukkan skor rata-rata 86,67. Meskipun ada peningkatan skor, uji statistik Wilcoxon Matched-Pairs Test menunjukkan bahwa peningkatan ini tidak signifikan secara statistik, dengan nilai p sebesar 0,439 yang lebih besar dari 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan orang tua setelah menerima edukasi, tetapi peningkatan tersebut tidak signifikan secara statistik. Beberapa faktor dapat memengaruhi hasil ini, seperti keterbatasan waktu pelaksanaan edukasi yang dilakukan setelah jam sekolah, yang membuat para peserta kurang nyaman karena suhu ruangan yang panas dan suasana yang kurang kondusif. Selain itu, faktor usia para peserta juga berperan. Sebagian besar peserta adalah orang tua muda yang lebih fleksibel dalam menerima informasi baru dan lebih terbuka terhadap perubahan dalam pola makan keluarga. Namun, ada pula beberapa orang tua yang mengalami penurunan skor post-test, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya pemahaman yang mendalam atau kurangnya fokus saat mengikuti sesi edukasi.
Meskipun hasil statistik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, penting untuk dicatat bahwa program edukasi gizi ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman orang tua tentang pentingnya gizi seimbang. Pengetahuan orang tua mengenai gizi sangat penting karena kebiasaan makan yang buruk pada anak-anak seringkali terkait dengan masalah kesehatan seperti malnutrisi, baik berupa kekurangan gizi maupun obesitas. Data dari WHO menunjukkan bahwa sekitar 45% kematian anak di bawah usia lima tahun disebabkan oleh kekurangan gizi, yang meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat pemulihan. Dengan meningkatnya pemahaman orang tua mengenai gizi, mereka dapat membuat keputusan yang lebih baik untuk kesehatan anak-anak mereka, yang pada akhirnya dapat mengurangi risiko malnutrisi dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, di antaranya memperbanyak jumlah peserta dan memperpanjang durasi sesi edukasi. Selain itu, disarankan untuk menambah jumlah dan kompleksitas pertanyaan pada pre-test dan post-test guna menghindari bias serta mendapatkan hasil yang lebih valid. Edukasi gizi seharusnya tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, terutama di daerah-daerah dengan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi.
Secara keseluruhan, edukasi gizi memainkan peran penting dalam meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pentingnya gizi seimbang. Program ini berpotensi untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama terkait kesehatan yang baik (SDG 3) dan penghapusan kelaparan (SDG 2). Dengan demikian, kerjasama antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki akses ke pola makan yang sehat dan bergizi untuk tumbuh kembang yang optimal. Melalui edukasi yang berkelanjutan, diharapkan orang tua dapat membentuk kebiasaan makan sehat pada anak-anak mereka dan, pada akhirnya, meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.
Penulis : Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz., M.PH.
Baca juga: Tingkat Pendidikan dan Pendapatan Orang Tua Kaitannya dengan Status Gizi Anak





