Artikel berjudul Smart Home Healthcare for Chronic Disease Management: A scoping review membahas tentang potensi smart home healthcare untuk memantau kesehatan jarak jauh dan mengelola penyakit kronis di rumah. Penelitian ini dilakukan dengan memperhitungkan peningkatan jumlah orang yang mengalami penyakit kronis di seluruh dunia, sekaligus mempertimbangkan adanya pandemi COVID-19 dan peningkatan penggunaan layanan kesehatan jarak jauh, smart home healthcare dapat menjadi sarana yang sangat penting dalam memastikan pasien dengan penyakit kronis tetap mendapatkan perawatan yang tepat dan terkoordinasi tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan. Dengan mendorong keterlibatan pasien, dan bila diperlukan, pelayanan kesehatan, smart home healthcare dapat menjadi metode yang berguna untuk mengelola penyakit kronis di rumah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan smart home healthcare untuk manajemen penyakit kronis.
Penelitian ini menggunakan metode scoping review dengan menggunakan metode Joanna Briggs. Strategi pencarian literatur menggunakan tiga basis data yaitu PubMed, CINAHL, dan ScienceDirect dari tahun 2017 hingga 2022 dengan kata kunci chronic disease AND smart healthcare OR smart home technology OR home-based technology OR home monitoring AND physiological monitoring. Operator Boolean “AND” dan “OR” digunakan untuk menghubungkan kata kunci. Peneliti menetapkan kriteria inklusi yang mencakup penjelasan implementasi perangkat rumah pintar yang digunakan untuk memantau fisik pasien yang sakit kronis dengan hasil yang diukur. Setelah menghilangkan artikel yang terduplikasi, peneliti meninjau 210 judul dan abstrak untuk memeriksa relevansinya dengan topik smart home healthcare dan penyakit kronis. Dari 210 judul dan abstrak, dipilih sembilan artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Data diekstraksi sesuai dengan metode Joanna Briggs, termasuk informasi mengenai penulis, tahun publikasi, tujuan penelitian, negara dan lokasi, desain penelitian, teknologi yang digunakan, hasil yang diukur, dan temuan. Peneliti melakukan analisis deskriptif terhadap data yang dikumpulkan, serta menganalisis apakah smart home healthcare yang digunakan dalam studi-studi tersebut berhasil mencapai tujuannya.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa smart home healthcare memiliki potensi besar dalam memantau kesehatan pasien jarak jauh dan membantu mengelola penyakit kronis di rumah. Dari sembilan artikel yang dianalisis, mayoritas studi menggunakan desain randomized controlled trials dan dilakukan di negara-negara maju, antara lain Amerika Serikat, Prancis, Belanda, China, Spanyol, Inggris, Slovenia, Estonia, dan Swedia. Sebagian besar penelitian dari artikel yang diteliti dilakukan di rumah pasien, kecuali empat penelitian yang lain dilakukan dengan kombinasi fasilitas medis dan pengaturan rumah pasien. Dalam artikel yang dianalisis, penyakit yang ditangani dari penelitian tesebut termasuk gagal jantung, penyakit paru obstruktif kronis, sindrom hipoventilasi kongenital sentral, asma, penyakit serebrovaskular kronis, dan hipertensi. Hasil yang diukur juga bervariasi, seperti pengukuran pernapasan; pengukuran berat badan; pengukuran ballistokardiografi; perubahan dalam skor kuesioner; rawat inap; pelacakan aktivitas; penerimaan perangkat; kepatuhan terhadap obat; kapasitas latihan; pengukuran fungsi tubuh seperti laju pernapasan, denyut jantung, fungsi paru-paru, dan pengobatan penyakit kronis; atau pengendalian seperti diagnosis sleep apnea, diagnosis obstruktif sleep apnea, dan kontrol hipertensi. Perangkat atau smart home healthcare yang digunakan dalam penelitian-penelitian ini memiliki fungsi yang berbeda, seperti alarm, tampilan, penyimpanan data, transmisi data, dan pencatatan data. Perangkat alarm meliputi gelang pergelangan tangan getar (“Feeltact®”, Novitact Lacroix-Saint-Ouen, Prancis), aplikasi telepon untuk memicu alarm getar, monitor EKG, dan Resmon Pro Diary yang menggunakan teknik osilasi paksa untuk pengukuran.
Teknologi smart home healthcare memiliki potensi besar dalam memantau kesehatan pasien jarak jauh dan membantu mengelola penyakit kronis di rumah. Namun, penelitian ini juga menyoroti bahwa tidak semua aplikasi smart home healthcare berhasil mencapai tujuannya. Terdapat keterbatasan dalam akurasi pengukuran, kompatibilitas perangkat dengan perabotan rumah tangga, dan generalisasi hasil studi ke populasi yang lebih luas. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi smart home healthcare dalam manajemen penyakit kronis.
Artikel selengkapnya dapat dibaca di:





