Estimasi usia bagi jenazah yang tidak dikenal penting untuk identifikasi pribadi di tempat kejadian perkara (TKP) dan di bidang kedokteran forensik pada umumnya. Metode estimasi usia yang digunakan dibidang kedokteran forensik diklasifikasikan menjadi dua yaitu morfologi dan biokimia. Telah dilaporkan bahwa metode biokimia lebih tepat untuk digunakan dibandingkan dengan metode morfologi oleh karena metode morfologi sangat dipengaruhi oleh kesalahan akibat perbedaan individu. Apalagi cairan biologis, seperti air liur dan darah, yang biasa ditemukan di TKP, tidak bisa dianalisis menggunakan teknik morfologi. Selain metode biokimia, estimasi usia menggunakan metode berbasis gen, seperti yang menggunakan reseptor sel T bersama sinyal(1), panjang telomer(2,3), dan susunan gen somatik(4), semakin banyak digunakan untuk analisis cairan biologis dan spesimen kecil yang sering ditemukan di TKP. Namun, sementara persamaan morfologi dan perbedaan di antara berbagai etnis dapat diketahui, ada bukti yang terbatas di antara penanda biokimia.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan epigenetik dalam estimasi usia telah dilaporkan, di mana jumlah sitosin termetilasi di situs CpG telah dikenal sebagai penanda usia spesifik jaringan(5-11). Faktanya, penelitian telah melaporkan perkiraan usia sampel air liur berdasarkan metilasi DNA dari situs CpG yang terletak di ELOVL2, EDARADD, dan FHL2(9,12,13). Karena biaya dan kompleksitas pengukuran metilasi DNA, ada peningkatan harapan untuk menggunakan teknik berbasis real-time PCR seperti peleburan resolusi tinggi yang sensitif terhadap metilasi (MS-HRM)(12,14) dan spesifik metilasi PCR (MSP)(15). Namun, informasi terbatas tersedia tentang apakah metode ini akurat di berbagai populasi.
Dalam penelitian ini, kami menguji efek etnisitas pada metode prediksi usia berdasarkan skor metilasi, yang ditentukan melalui peleburan resolusi tinggi yang sensitif terhadap metilasi. Kami menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam skor metilasi antara peserta Jepang dan Indonesia dari kelompok awal 20-an, dan bahwa koefisien kebangsaan signifikan untuk estimasi usia ketika menerapkan metode yang ada untuk analisis status metilasi EDARADD dan FHL2. Hal ini menunjukkan bahwa ketika menggunakan indikator biokimia tertentu sebagai prediktor usia, efek etnisitas pada metilasi DNA harus dipertimbangkan untuk meningkatkan akurasi estimasi.
Penulis: Hiroko Oka, Maretaningtias Dwi Ariani, Tomohiko Akazaki, Mutsumi Miyauchi, Masae Kitagawa
Link Jurnal:





