51动漫

51动漫 Official Website

Penggunaan Obat untuk Swamedikasi oleh Masyarakat Selama Pandemi Covid-19

Foto by Liputan6 com

Restriksi perjalanan selama pandemi Covid-19 ditambah dengan kekhawatiran terinfeksi virus menyebabkan sebagian besar masyarakat memilih untuk melakukan swamedikasi atau pengobatan sendiri. Data menunjukkan terdapat kenaikan 25% pola swamedikasi masyarakat selama pandemi Covid-19. Masyarakat memilih untuk membeli obat secara langsung dari apotek, toko obat atau secara online. Tindakan pengobatan sendiri juga dilakukan dengan cara menggunakan obat sisa milik orang lain atau berbagi obat dengan orang lain untuk obat yang dianggap manjur oleh masyarakat.

Swamedikasi dapat bermanfaat dalam mengurangi gejala atau menyembuhkan rasa sakit jika masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup dan mendapatkan informasi yang tepat dari tenaga kesehatan terutama apoteker. Penggunaan obat untuk swamedikasi dapat menyebabkan beragam risiko seperti reaksi alergi, overdosis atau efek samping yang merugikan karena pemilihan obat yang tidak sesuai indikasi atau penggunaan yang tidak tepat. Oleh karena itu, pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat dalam melakukan swamedikasi menjadi parameter yang penting untuk dikaji terutama saat kondisi pandemi ketika masyarakat memilih untuk menghabiskan waktu di rumah.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Fakultas Farmasi 51动漫, National University of Singapore, INTI International University of Malaysia dan Universiti Brunei Darussalam memunculkan beragam fakta dan fenomena yang menarik terkait penggunaan obat untuk keperluan swamedikasi oleh masyakarat selama pandemi Covid-19. Penelitian yang dilakukan pada bulan Maret dan April 2022 ini melibatkan 364 responden dengan mayoritas adalah perempuan (78%) dengan separuh responden memiliki tingkat pendidikan terakhir adalah sarjana (51%).

Peneliti menemukan fakta bahwa sebagian besar responden (80%) memiliki pengetahuan yang baik dalam memilih dan menggunakan produk obat untuk keperluan swamedikasi. Pada konteks ini, mayoritas responden mampu menjawab pertanyaan tentang pengetahuan dengan benar misalkan obat untuk swamedikasi dapat dibeli tanpa resep dan obat swamedikasi digunakan untuk mengurangi gejala minor.

Senada dengan pengetahuan, responden memiliki nilai sikap baik (skor 28 dari 40) meskipun bisa dikatakan belum maksimal. Hal ini menunjukan responden memiliki sikap yang beragam tentang obat dan swamedikasi. Sebagai contoh, masyarakat ragu-ragu apakah obat untuk keperluan swamedikasi dapat digunakan selama kehamilan dan menyusui. Selain itu, masyarakat juga ragu apakah mereka perlu untuk berkonsultasi dengan apoteker terkait keamanan obat untuk swamedikasi. Ketika diteliti lebih lanjut, responden berusia 40 tahun keatas memiliki sikap yang cenderung ragu atau negatif dibandingkan dengan responden berusia lebih muda.

Dalam hal tindakan, nyaris 90% responden memilih untuk melakukan swamedikasi selama pandemi. Informasi dari internet dan anggota keluarga menjadi sumber rujukan untuk menentukan obat swamedikasi. Obat flu dan demam merupakan obat yang paling banyak digunakan untuk keperluan swamedikasi selama pandemi. Terdapat hampir 10% responden yang mengalami efek samping seperti alergi, diare dan mual muntah. Salah satu pemicunya adalah responden memilih untuk menggunakan obat melebihi dosis agar mendapatkan efek yang lebih kuat (36%) atau lebih cepat (18%).

Peneliti menyimpulkan bahwa pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat telah mencukupi untuk melakukan praktik swamedikasi. Meskipun demikian, masih adanya golongan masyarakat yang abai dalam penggunaan obat untuk swamedikasi menunjukkan potensi kesalahan pengobatan untuk swamedikasi.

Penulis: apt. Andi Hermansyah, PhD

Artikel penelitian ini dapat diakses di

AKSES CEPAT