Antenatal care merupakan perawatan ibu dan janin selama masa kehamilan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Indonesia merupakan negara dengan angka kematian ibu tertinggi kedua di ASEAN, dengan perkiraan jumlah kematian 305 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2017. Sementara itu, jumlah kematian bayi juga masih jauh dari target SDGs. Kementerian Kesehatan Indonesia menduga tingginya AKI dan AKB disebabkan oleh rendahnya capaian kunjungan antenatal care. Sebagai contoh, pada tahun 2018 persentase ibu hamil yang melakukan empat kali kunjungan antenatal care selama kehamilan hanya mencapai 74,2%.
Salah satu faktor lokal yang mendorong rendahnya kunjungan antenatal care adalah budaya patriarki yang kokoh. Budaya patriarki menempatkan istri sebagai subjek bawahan dalam status sosial dengan hanya memiliki fungsi reproduktif dan dibebani tugas-tugas domestik. Istri dianggap memiliki posisi tawar yang lebih lemah dalam pengambilan keputusan. Sedangkan suami dianggap bertanggung jawab penuh dan sebagai pengambil keputusan utama dalam rumah tangga. Kualitas keputusan suami akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan yang memadai.
Suami memiliki peran dominan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan mendukung akses layanan kesehatan yang bermutu bagi keluarga. Pada masa kehamilan, keterlibatan dalam antenatal care merupakan salah satu tanggung jawab suami terhadap kesehatan istrinya. Sebaliknya, istri akan lebih cenderung memanfaatkan layanan kesehatan dan memiliki rencana persalinan yang baik apabila mendapatkan dukungan dari suami. Meski demikian, sebagian besar suami justru memiliki pengetahuan yang minim tentang kesehatan ibu selama kehamilan dan persalinan, serta tampak meremehkan persyaratan antenatal yang diperlukan. Hal ini banyak terjadi terutama pada keluarga dengan kondisi ekonomi lemah.
Tingkat pendidikan suami dan kondisi ekonomi keluarga merupakan dua faktor yang saling berhubungan dan berdampak pada kelengkapan kunjungan antenatal care. Penelitian di India menjelaskan bahwa tingkat kekayaan mempengaruhi pola akses pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tingginya tingkat kekayaan dapat meningkatkan pengetahuan suami yang berdampak pada peningkatan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Penelitian di Pakistan dan Myanmar juga menemukan hasil yang sama. Suami dengan pendapatan rendah akan lebih memprioritaskan pekerjaan untuk dapat memberikan dukungan keuangan daripada terlibat dalam kunjungan antenatal care.
Penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi keterlibatan suami dalam kunjungan antenatal care pada rumah tangga miskin di Indonesia sebesar 69%. Layaknya di India, Pakistan, dan Myanmar, tingkat pendidikan suami merupakan faktor penentu keterlibatannya dalam kunjungan antenatal care pada rumah tangga miskin di Indonesia. Kesadaran dan tanggung jawab suami sebagai pengambil keputusan selaras dengan tingkat pendidikan yang mereka peroleh. Semakin baik pendidikan suami, semakin besar kesadaran akan risiko kesehatan selama kehamilan dan persalinan. Kesadaran akan pentingnya pengelolaan risiko meningkatkan keterlibatan suami dalam kunjungan antenatal care di kalangan masyarakat miskin Indonesia.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa suami dengan tingkat pendidikan yang lebih baik berdomisili di wilayah perkotaan. Dibandingkan wilayah pedesaan, ketersediaan informasi mengenai kesehatan ibu dan anak di wilayah perkotaan cenderung lebih masif. Hal ini menjadi pemantik kesadaran suami akan pentingnya kunjungan antenatal care bagi ibu dan janin. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa suami yang lebih muda cenderung untuk berpartisipasi dalam kunjungan antenatal care, sebagaimana temuan pada beberapa penelitian di Etiopia Selatan.
Apabila dianalisis berdasarkan karakteristik paritas, memiliki lebih banyak anak ternyata justru menurunkan keterlibatan suami dalam kunjungan antenatal care. Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian di Tanzania yang menyatakan bahwa suami yang memiliki istri dengan paritas tinggi (gran multipara) akan lebih sering terlibat dalam kunjungan antenatal care dibandingkan suami dengan istri yang baru melahirkan untuk pertama kali (primipara). Meski demikian, analisis lebih lanjut dibutuhkan dengan menyertakan faktor budaya yang seringkali menghambat suami untuk terlibat dalam pelayanan kesehatan ibu. Faktor ini tampaknya selaras dengan konteks kunjungan antenatal care di Indonesia yang mana kehamilan dan melahirkan seringkali hanya menjadi urusan istri, bukan urusan suami.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari, Fakultas Kesehatan Masyarakat, 51动漫
Sumber: Wulandari RD, Laksono AD, Matahari R. Does Husband’s Education Level Matter to Antenatal Care Visits? A Study on Poor Households in Indonesia. Indian J Community Med 2022; 47(2):192-195
Link Artikel:





