51动漫

51动漫 Official Website

Pengetahuan dan Ketidakpatuhan Pasien dalam Terapi Diabetes Mellitus

Foto by KlikDokter

Diabetes Mellitus Tipe 2 (Type 2 Diabetes Mellitus, T2DM) masih menjadi momok yang menakutkan dalam sistem kesehatan global. Pada tahun 2030 diperkirakan terdapat 439 juta orang mengidap T2DM. Prevalensi penderita T2DM di negara-negara di Asia Tenggara termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Sebagai contoh, terdapat 11% pengidap T2DM di Malaysia dan 18% di Singapura. Negara kecil seperti Brunei Darussalam juga memiliki prevalensi penderita T2DM yang besar yaitu sekitar 9,7% dari keseluruhan populasi. Hal ini menunjukkan bahwa kasus T2DM masih merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan di sektor kesehatan di mayoritas negara di dunia.

Upaya untuk mengatasi T2DM sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh pemerintah di berbagai negara. Sebagai contoh di Brunei Darussalam, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menempuh beragam cara mulai dari promosi kesehatan, kampanye bahaya T2DM hingga pelayanan skrining bagi warga. Meskipun demikian, ragam upaya ini seolah tidak mampu mengurangi laju pertumbuhan penyakit T2DM. Hal ini dikarenakan, pasien sebagai subyek utama dalam penanganan T2DM belum memiliki kesadaran, kemampuan dan pengetahuan untuk mampu hidup sehat dan patuh pada pengobatan T2DM.

Melihat fenomena tersebut, peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bekerjasama dengan peneliti dari Malaysia dan Brunei Darussalam mengidentifikasi hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan. Pengetahuan menjadi aspek kritikal untuk diangkat sebab pasien dengan pengetahuan yang rendah berisiko memiliki ketidakpatuhan yang besar sehingga berujung pada kegagalan pengobatan.

Penelitian ini mengambil lokasi di Brunei Darussalam pada bulan Januari s/d Maret 2022 dengan melibatkan 118 responden di suatu Rumah Sakit di Kuala Belait Brunei Darussalam. Peneliti menggunakan tiga buah instrumen yaitu Diabetes Knowledge Questionnaire (DKQ) untuk mengukur pengetahuan responden tentang T2DM, kuesioner untuk mengukur penggunaan obat antidiabetes, dan kuesioner kepatuhan pasien untuk menilai tingkat kepatuhan pengobatan pasien.

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang penggunaan antidiabetes. Hal ini berdampak pada dua pertiga responden tidak patuh selama pengobatan. Studi juga menemukan fakta bahwa pengetahuan tentang penyakit T2DM dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, riwayat kesehatan keluarga dan jumlah obat yang dikonsumsi. Fakta ini tidak jauh berbeda dengan temuan lainnya yaitu pengetahuan responden tentang obat antidiabetes memiliki kaitan erat dengan jenis kelamin, riwayat kesehatan keluarga dan jumlah obat yang dikonsumsi. Sementara itu, kepatuhan pengobatan lebih banyak dipengaruhi oleh ras / suku. Meskipun demikian, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan pasien.

Penelitian bersama ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak signifikan memengaruhi kepatuhan pasien. Meskipun demikian, upaya untuk meningkatkan pengetahuan pasien harus tetap dilakukan termasuk melalui pemanfaatan teknologi digital. Ketidakpatuhan responden yang tinggi di penelitian ini memberi peluang untuk upaya yang lebih terstruktur dan individual.

Oleh: apt. Andi Hermansyah, PhD Penelitian ini dapat diakses di

AKSES CEPAT