Salah satu isu utama dalam bidang sustainable finance adalah lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Penelitian ini mengkaji bagaimana pengungkapan ESG berdampak pada biaya ekuitas. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana struktur dewan komisaris memoderasi hubungan ini. Struktur dewan komisaris diwakili oleh tiga faktor utama: proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris, dan proporsi komisaris perempuan.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 215 perusahaan nonkeuangan yang menerbitkan laporan keberlanjutan (SR) dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tahun penelitian 2017, 2021, dan 2022 dengan total 309 observasi. Penelitian ini menggunakan Ordinary Least Square (OLS) dan Moderated Regression Analysis (MRA) untuk menguji hipotesis.
Temuan menunjukkan bahwa pengungkapan ESG berdampak negatif terhadap biaya ekuitas. Selain itu, penelitian ini mengungkap bahwa proporsi komisaris independen yang lebih tinggi, ukuran dewan komisaris yang lebih besar, dan proporsi komisaris perempuan yang lebih besar mengurangi risiko perusahaan. Faktor-faktor ini melemahkan efek negatif pengungkapan ESG pada biaya ekuitas dengan menggantikan manfaatnya yang mengurangi risiko. Hasil temuan ini selanjutnya divalidasi melalui teknik analisis variabel moderasi tambahan. Secara khusus, analisis subkelompok dan model regresi yang menggabungkan jeda satu tahun untuk variabel ESG digunakan, menghasilkan hasil yang konsisten.
Hasil penelitian kami memberikan bukti kuat bahwa perusahaan dengan pengungkapan ESG yang tinggi memiliki biaya ekuitas yang lebih rendah karena memiliki asimetri informasi yang rendah dan lebih etis. Lebih lanjut, penelitian ini mengungkap temuan unik: peran ESG dalam mengurangi biaya ekuitas hanya signifikan ketika perusahaan memiliki dewan komisaris yang terstruktur dengan buruk. Hal ini memberikan bukti kuat untuk efek substitusi. Pada perusahaan yang memiliki struktur dewan yang baik, pengungkapan ESG tidak memiliki dampak signifikan terhadap biaya ekuitas tetapi memiliki efek negatif yang signifikan pada perusahaan dengan struktur dewan yang buruk.
Perusahaan dengan struktur dewan yang kuat dipersepsikan oleh investor memiliki risiko yang lebih rendah, yang mengarah pada penurunan biaya ekuitas. Sebaliknya, perusahaan dengan struktur dewan yang lebih lemah perlu menerapkan mekanisme lain untuk memitigasi risiko, seperti terlibat dalam aktivitas dan pengungkapan ESG yang kuat. Praktik-praktik ini dapat membantu mengimbangi kekurangan dalam struktur dewan dengan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, sehingga mengurangi risiko perusahaan secara keseluruhan.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperluas literatur ilmiah tentang lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan memberikan bukti empiris tentang pengaruh ESG terhadap biaya ekuitas dalam konteks negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. Sebelumnya, sebagian besar penelitian tentang topik ini difokuskan pada negara-negara maju, seperti di Amerika dan Eropa.
Penelitian ini selanjutnya memberikan kontribusi dengan memeriksa efek moderasi karakteristik dewan “ khususnya, proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris, dan proporsi komisaris perempuan “ pada hubungan antara ESG dan biaya ekuitas. Aspek ini belum pernah dieksplorasi sebelumnya. Selain itu, temuan unik dari penelitian ini adalah bahwa peran ESG dalam mengurangi biaya ekuitas hanya signifikan jika dewan komisaris perusahaan kurang terstruktur. Wawasan ini memberikan perspektif baru tentang interaksi antara komposisi dewan dan efektivitas ESG.
Implikasi praktis dari penelitian ini dapat diimplementasikan dalam beberapa cara. Pertama, temuan tersebut dapat memandu perusahaan dalam membuat pengungkapan nonfinansial, karena penelitian tersebut memberikan bukti kuat bahwa investor mempertimbangkan pengungkapan tersebut saat membuat keputusan tentang investasi. Selain itu, penelitian tersebut menyoroti bahwa ketika dewan komisaris perusahaan memiliki struktur yang lebih lemah, peran ESG dalam mengurangi biaya utang dan ekuitas menjadi lebih penting.
Kedua, hasilnya menawarkan wawasan baru bagi manajemen dan pemegang saham perusahaan. Secara khusus, ESG dan struktur dewan memiliki efek substitusi. Ketika perusahaan memiliki dewan komisaris yang terstruktur dengan baik “ dengan ukuran yang besar dan proporsi komisaris independen dan komisaris perempuan yang tinggi “ mempertahankan praktik ESG yang ada bermanfaat. Namun, ketika proporsi komisaris independen, ukuran dewan, dan proporsi komisaris perempuan kecil, meningkatkan aktivitas ESG dapat membantu mengurangi risiko perusahaan.
Terakhir, temuan ini sangat relevan bagi para pembuat kebijakan, yang dapat menggunakan bukti ini untuk membuat peraturan yang lebih jelas dan lebih ketat guna mendorong aktivitas berkelanjutan perusahaan. Bukti kuat bahwa investor mempertimbangkan aktivitas ESG dalam keputusan investasi mereka menggarisbawahi pentingnya kebijakan tersebut dalam mendorong keberlanjutan perusahaan.
Meskipun penelitian ini memberikan wawasan baru tentang hubungan antara pengungkapan ESG dan biaya ekuitas, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat memberikan peluang untuk penelitian di masa mendatang. Pertama, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sangat kecil karena pengungkapan ESG yang dilakukan oleh perusahaan nonkeuangan di Indonesia masih minim. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat memberikan bukti empiris dengan menggunakan sampel perusahaan yang lebih besar di negara berkembang.
Lebih jauh, penelitian ini hanya mempertimbangkan pelaporan ESG berdasarkan informasi yang diberikan dalam laporan keberlanjutan perusahaan. Penerapan kriteria ini menghasilkan data observasional yang terbatas, karena publikasi wajib laporan keberlanjutan di Indonesia baru dimulai pada tahun 2021. Akibatnya, penelitian ini mungkin tidak sepenuhnya menangkap informasi ESG yang diberikan oleh sumber lain, seperti situs web perusahaan, laporan tahunan, dan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), sehingga menimbulkan keterbatasan terkait kualitas data ESG dalam penelitian ini.
Penelitian di masa mendatang dapat membahas hal ini dengan menyertakan siklus hidup perusahaan untuk menentukan pada tahap mana perusahaan melakukan pengungkapan ESG paling banyak. Pendekatan ini akan menawarkan wawasan yang lebih mendalam tentang perilaku manajemen perusahaan dalam melakukan pengungkapan nonfinansial.
Oleh: Rosmiati Jafar (51¶¯Âþ), Basuki (51¶¯Âþ), Windijarto (51¶¯Âþ), Rahmat Setiawan (51¶¯Âþ, NIP: 197901262003121001) & Zulnaidi Yaacob (universiti Sains Malaysia)





