Beberapa penelitian sebelumnya, mengkaji mengenai faktor-faktor yang membantu sektor pariwisata untuk kompetitif. Fokus penelitian pariwisata saat ini mengenai faktor permintaan dan penawaran, branding, modal intelektual, dan pengaruh budaya terhadap preferensi wisatawan di negara-negara ASEAN. Hal ini menyoroti kurangnya eksplorasi mengenai peran keanekaragaman budaya dalam sektor pariwisata di wilayah tersebut. Studi ini bertujuan untuk menggunakan model gravitasi untuk menguji dampak budaya, preferensi, dan harga substitusi di negara-negara ASEAN.
Model teoretis yang mengeksplorasi pengaruh budaya terhadap pariwisata, seperti self-image congruity theory, arousal theory, and cultural theory of risk. Teori Self-Image Congruity menyatakan individu cenderung tertarik pada pengalaman dan produk yang sejalan dengan konsep diri mereka, berlaku dalam pariwisata di mana wisatawan lebih memilih destinasi yang sesuai dengan identitas mereka.
Teori Arousal mencari pengalaman merangsang emosi dan indera, dengan unsur budaya seperti festival dan pertunjukan tradisional memengaruhi daya tarik destinasi. Cultural Theory of Risk membahas bagaimana individu menilai risiko terkait lingkungan atau budaya asing, penting dalam memahami pengaruh keragaman budaya ASEAN pada keputusan dan perilaku wisatawan. Pemahaman teori-teori ini krusial untuk memahami dinamika budaya yang membentuk pariwisata di kawasan ASEAN. Temuan penelitian sebelumnya mengenai korelasi antara perbedaan budaya dan niat wisata bervariasi, dan perlunya mempertimbangkan afinitas budaya ketika mengeksplorasi faktor-faktor penentu arus pariwisata di kawasan ASEAN. Studi ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan empiris dengan memberikan wawasan mengenai peran budaya sebagai pendorong permintaan pariwisata di ASEAN.
Tim peneliti 51动漫 melakukan analisis untuk menyelidiki faktor permintaan pariwisata di sepuluh negara ASEAN dari 22 negara asal lainnya. Penelitian ini menggunakan cara khusus untuk memahami tentang wisata di sepuluh negara ASEAN selama dua decade terakhir. Mereka melihat beberapa hal seperti berapa banyak uang yang dihasilkan oleh wisatawan, seberapa besar populasi, seberapa jauh jarak antara negara-negara, dan bagaimana daya saing harganya. Mereka juga melihat perbedaan budaya dengan cara yang diukur menggunakan beberapa indikator seperti kepercayaan, rasa hormat, kebebasan, dan kepatuhan.
Penelitian ini juga meneliti apakah perjanjian perdagangan bebas di ASEAN, yang disebut Free Trade Agreement (FTA), memengaruhi kedatangan wisatawan di antara negara-negara di kawasan tersebut. Tujuannya adalah untuk melihat apakah integrasi ekonomi di ASEAN selama dua dekade ini membantu sektor pariwisata. Kawasan ASEAN melibatkan sepuluh negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Brunei.
Studi ini memberikan empat kontribusi utama terhadap literatur yang ada mengenai pariwisata di kawasan ASEAN. Pertama, menyajikan bukti mengenai peran jarak budaya dalam arus masuk pariwisata, dengan menggunakan pengukuran yang bervariasi terhadap waktu yang mengatasi keterbatasan variabel biner yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Kedua, mengkaji dampak integrasi ekonomi terhadap arus pariwisata di ASEAN, dengan fokus pada liberalisasi perdagangan. Ketiga, berkontribusi terhadap model permintaan pariwisata dengan memasukkan daya saing harga, termasuk harga relatif dan harga substitusi, dalam pendekatan gravitasi. Terakhir, studi ini mengakui dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan menyarankan bahwa analisis elastisitas harga dan pendapatan dapat membantu mengantisipasi potensi penurunan kunjungan wisatawan. Temuan ini dapat memberikan wawasan berharga untuk strategi pasca pandemi di industri pariwisata.
Temuan utama dari studi ini adalah dampak positif jarak budaya terhadap permintaan pariwisata di kawasan ASEAN. Hal ini menggaris bawahi pentingnya mengakui nilai-nilai budaya dalam merumuskan strategi promosi dan inisiatif sektoral. Temuan ini juga menggaris bawahi sifat motivasi pariwisata yang beragam, yang menunjukkan bahwa faktor ekonomi seperti pendapatan, harga, dan biaya transportasi bukanlah satu-satunya pendorong. Perbedaan budaya memainkan peran penting. Tingkat pendapatan muncul sebagai faktor penting yang mempengaruhi kunjungan wisatawan, dan penelitian ini menunjukkan adanya tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 dan perlambatan ekonomi global yang diakibatkan dapat mempengaruhi dinamika pariwisata karena potensi penurunan daya beli di kalangan wisatawan asing.
Analisis lebih jauh mengungkap peran daya saing harga, meskipun harga relatif menunjukkan korelasi negatif, yang menunjukkan bahwa hilangnya daya saing harga dapat mengurangi kedatangan wisatawan, peningkatan daya saing harga dibandingkan destinasi unggulan alternatif dapat menyebabkan arus masuk wisatawan yang lebih besar ke ASEAN, yang mencerminkan efek substitusi. Jarak geografis sebagai faktor penting dalam menentukan jumlah kedatangan, dengan menekankan pentingnya konektivitas dan biaya dalam mendorong perjalanan.
Studi ini mengantisipasi bahwa tingginya dampak pendapatan terhadap kunjungan wisatawan dapat menimbulkan tantangan, mengingat potensi penurunan daya beli akibat perlambatan ekonomi global yang terkait dengan pandemi COVID-19. Sebaliknya, penelitian ini mengidentifikasi potensi daya saing harga untuk menarik lebih banyak wisatawan asing, mengingat harga yang kompetitif di kawasan ASEAN. Selain itu, studi ini menunjukkan bahwa arus bebas barang, jasa, dan modal yang lebih terintegrasi berdasarkan ASEAN Free Trade Agreement dapat secara signifikan mendukung mobilitas wisatawan di kawasan. Pariwisata intra-regional telah berkembang lebih cepat dibandingkan perjalanan ekstra-regional, hal ini menunjukkan dampak positif dari upaya integrasi regional.
Studi ini tidak hanya menyoroti interaksi rumit antara faktor-faktor budaya, ekonomi, dan geografis dalam membentuk permintaan pariwisata di negara-negara ASEAN, namun juga memberikan wawasan berharga untuk era pasca-pandemi, yang menunjukkan bahwa kerangka pariwisata regional yang terintegrasi dengan baik dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan memainkan peran penting dalam proses pemulihan ekonomi.
Penulis: Miguel Angel Esquivias
Sumber: Heriqbaldi, U., Esquivias, M.A. and Agusti, K.S. (2023), “The role of cultural distance in boosting international tourism arrivals in ASEAN: a gravity model”, Consumer Behavior in Tourism and Hospitality, Vol. 18 No. 1, pp. 97-109.





