51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pentingnya Protein Total Saliva dan a-Amilase pada Anak Cerebral Palsy

Foto oleh charaka.org

Anak dengan Cerebral Palsy (CP) menggambarkan sekelompok gangguan permanen pada perkembangan gerakan dan postur yang menyebabkan keterbatasan aktivitas, yang dikaitkan dengan gangguan non-progresif yang terjadi pada otak janin atau bayi yang sedang berkembang. Gangguan motorik CP sering disertai dengan gangguan sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi, perilaku, epilepsi dan masalah muskuloskeletal sekunder. Prevalensi anak dengan CP di Indonesia menurut Data Riskesdas tahun 2018 usia 24-59 bulan adalah sebesar 0,16% (0,09-0,28) dimana insiden kejadian karies gigi, penyakit periodontal, dan maloklusinya lebih tinggi daripada populasi umum. Perawatan kesehatan gigi dan mulut pasien CP membutuhkan modifikasi dan pendekatan perawatan yang berbeda dari anak normal karena keterbatasan yang dimiliki, gangguan yang disebabkan oleh kerusakan permanen pada pusat motorik menyebabkan kelemahan otot, kekakuan, atau kelumpuhan dan gerakan yang tidak terkoordinasi sehingga memerlukan bantuan dari orang lain untuk menjaga kesehatan rongga mulut mereka.

Faktor penyebab tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut anak CP yaitu konsistensi makanan yang dikonsumsi, jumlah karbohidrat yang mengenai gigi anak per hari, kesulitan mengunyah dan menelan makanan atau minuman karena adanya disfungsi oromotor, kesulitan untuk membersihkan rongga mulut karena adanya reflek menggigit, penggunaan obat jangka panjang dengan potensi penurunan jumlah sekresi air ludah  (saliva) dimana hal ini dsebut sebagai  xerostomia , dan masalah yang berkaitan dengan manajemen dental. Studi terbaru menyebutkan saliva sebagai matriks biologi penting dalam penelitian, dapat digunakan sebagai biomarker untuk pencegahan dan mendiagnosa suatu penyakit. Secara khusus, saliva kaya protein dan peptida serta berperan penting dalam keseimbangan proses demineralisasi dan remineralisasi enamel dalam lingkungan rongga mulut yang berpengaruh terhadap terjadinya karies dan penyakit rongga mulut.

Total protein dan a-amilase  digunakan sebagai biomarker untuk tindakan prefentif  dan membantu mendiagnosis penyakit rongga mulut (Caries Risk Assessment). Penurunan salivary flow rate dan peningkatan osmolalitas serta konsentrasi total protein dari individu CP dapat disebabkan oleh adanya status hipohidrasi. Kondisi hipohidrasi anak CP dikarenakan kurangnya asupan air yang disebabkan anak CP sangat bergantung pada inisiatif dari pengasuh atau orang tua untuk memberi minum, serta berkurangnya kemampuan menelan oleh karena adanya disfungsi oromotor. Selain itu, kondisi hipohidrasi anak CP juga disebabkan adanya gangguan pada hipotalamus yang mengakibatkan terjadi ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh dan menurunkan kepekaan anak CP terhadap rasa haus.

Saliva kaya akan protein merupakan garis pertahanan pertama melawan Oksidatif Stres (OE), Reaktif Oksigen Spesies (ROS) dan radikal bebas yang mempunyai aktivitas antimikroba sebagai pertahanan pertama dalam mencegah infeksi dengan sifat viskoelastiknya, khususnya musin saliva yang mengandung karbohidrat kompleks dan mengganggu adhesi mikroorganisme ke mukosa serta sebagai penahan permeabilitas terhadap kerusakan jaringan, lubrikasi permukaan mukosa rongga mulut, memusatkan molekul antimikroba ke permukaan mukosa rongga mulut dan memodulasi kolonisasi bakteri, jamur dan virus.

Peningkatan total protein saliva disebabkan adanya kerusakan permanen sistem saraf pusat (Central Neuro System/CNS) anak CP yang mempengaruhi sistem kerja dari Autonomik Nervous Sistem (ANS) dan Peripheral Neuro System (PNS), sehingga mempengaruhi kerja sistem saraf simpatis dan parasimpatis serta mengganggu fungsi motorik dan sensoriknya yang mempengaruhi salivary flowrate. Penurunan saliva flowrate yang rendah pada anak CP yang mengakibatkan level elektrolit  sel acinar kelenjar saliva dalam proses sekresi saliva primer, sehingga menggangu reabsorbsi Na+, Cl dan mempengaruhi kualitas saliva yang disekresikan dalam rongga mulut. Hal ini menyebabkan penurunan viskoelastik protein dan peningkatan total protein saliva.

α-amylase merupakan protein utama saliva yang dideteksi sebagai isoenzim,  jumlahnya 10 “ 20% dari total protein, sehingga  banyak ditemukan dalam saliva karena merupakan sistem pertahanan bawaan dari mukosa rongga mulut serta bersifat antimikrobial yang mencegah adhesi bakteri pada gigi dan mukosa. Ikatan spesifiknya yaitu adanya daya tarik-menarik dengan mikroorganisme (cariogenik dan periodontopatogenik) membentuk ikatan aglomerat yang mudah larut oleh saliva saat menelan yang mengakibatkan suasana asam dalam lambung dan dapat mempengaruhi keseimbangan demineralisasi – remineralisasi enamel gigi.

Penurunan a-amilase selain dipengaruhi oleh penurunan salivary flowrate juga dipengaruhi oleh sekresi dari kelenjar parotis dibawah rangsangan b-adrenergik. Penelitian menunjukkan bahwa sistem saraf otonom (ANS) memainkan peranan penting dalam sekresi a-amilase dan melibatkan mekanisme a dan b-adrenergik. gangguan saraf simpatis parasimpatis anak CP menyebabkan gangguan pelepasan Norepineprin (NE) pada ujung saraf kelenjar saliva, sehingga konsentrasi norephineprin menurun. Hal ini menyebabkan b-Adrenoreseptor pada kelenjar saliva, glandular duct, vascular bed tidak bisa mengikat NE, sehingga mempengaruhi sekresi dari  a- amilase menurun. Penurunan  a- amilase mengakibatkan penurunan fungsinya sebagai enzim antimikroba dan mengganggu proses glukogenase yang berakibat akumulasi bakteri biofilm yang lebih besar dan ketidakseimbangan oksidasi saliva dalam rongga mulut dan mengakibatkann ketidakseimbanagan demineralisasi remineralisasi dalam jangka waktu lama yang akan meningkatkan insiden karies gigi dan penyakit periodontal. Selain itu penurunan a amilase juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik yang rendah pada anak CP, karena penelitian menyebutkan tingkat a-amilase meningkat sebagai respons terhadap fisik stresor atau aktivitas fisik.

Penelitian biologi molekuler menyebutkan bahwa a-amilase juga digunakan sebagai biomarker untuk mengidentifikasi beberapa penyakit dalam rongga mulut, antara lain Recurrent Aphthous stomatitis (RAS) dan Burning mouth syndrom (Glossodynia). Dari data-data tersebut dapat dikorelasikan bahwa penurunan a-amilse saliva mempengaruhi insiden dan prevalensi terjadinya karies dan penyakit dalam rongga mulut anak CP.Dikuatkan dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal pada anak cerebral palsy lebih tinggi dibandingkan anak normal.

Dari data-data penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa saliva anak cerebral palsy lebih asam dibanding dengan anak normal, hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian yang menyebutkan bahwa skor deft dan DMFT anak cerebral palsy signifikan lebih tinggi dari anak normal dimana terdapat korelasi signifikan antara pH saliva dan karies gigi pada gigi sulung anak cerebral palsy. Hal ini didukung oleh penelitian terbaru yang menyebutkan bahwa terlihat adanya variasi pada konsentrasi elektrolit saliva anak cerebral palsy bisa menjadi faktor penyebab peningkatan risiko pengembangan karies gigi dan berdampak negatif pada kualitas hidupnya. Sehingga hal tersebut sesuai dengan hipotesis bahwa terdapat hubungan total protein dan a-amilse saliva terhadap insiden terjadinya karies.

Penulis: Mega Moeharyono Puteri

Lecturer staf Departement of Pediatric Dentistry, Airlangga University-Surabaya- Indonesia

Link:

AKSES CEPAT