51动漫

51动漫 Official Website

Penurunan Sel Peradangan Setelah Imunoterapi pada Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit inflamasi kronis dengan penyebab yang multifaktorial. Meskipun bukan gangguan yang mengancam jiwa, DA dapat menimbulkan beban sosial, psikologis, dan finansial yang cukup besar. Prevalensi DA di Eropa adalah 11,4-16,9%. Wilayah Asia Tenggara dan Amerika Latin diidentifikasi sebagai daerah dengan peningkatan prevalensi DA, termasuk di Surabaya, Indonesia. Faktor lingkungan dapat memicu DA dengan menyebabkan peradangan atau inflamasi pada kulit dan gangguan lapisan sawar kulit (skin barrier). Dalam tubuh penderita DA, terjadi peningkatan sel inflamasi yang akan memperburuk skin barrier. Akibatnya, bahan alergen dan iritan dapat masuk ke lapisan kulit dan menyebabkan inflamasi.

Tungau adalah salah satu aeroalergen paling umum yang dapat ditemukan di seluruh dunia. Tungau dapat menyebabkan perburukan pada beberapa penyakit termasuk dermatitis atopik, asma, dan rhinitis alergi. Sebanyak 63,3% pasien DA dilaporkan memiliki hasil tes alergi yang positif untuk tungau debu rumah di Poli Penyakit Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia, antara tahun 2017 dan 2019. Pada tingkat kelembaban relatif lebih dari 50%, tungau debu rumah dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Sehingga, tungau dan alergi yang ditimbulkannya merupakan masalah yang signifikan bagi mereka yang tinggal di lingkungan lembab, sedang, dan iklim tropis

Berbagai modalitas terapi DA telah dicoba, tetapi umumnya hanya simtomatik atau mengurangi gejala klinisnya saja. Probiotik juga telah disarankan sebagai terapi tambahan karena terbukti efektif dalam meredakan gejala klinis. Saat ini telah berkembang imunoterapi pada pasien DA. Imunoterapi adalah satu-satunya terapi kausatif penyakit alergi. Imunoterapi dilakukan dengan memberikan alergen dengan dosis yang bertahap pada penderita alergi untuk meningkatkan toleransi terhadap alergen.

Faktor genetik dan lingkungan menyebabkan kerusakan skin barrier yang memicu sel-sel yang berkontribusi dalam reaksi inflamasi untuk menghasilkan sitokin Th2. Telah dibuktikan bahwa meningkatnya sitokin Th2 berkaitan dengan gangguan skin barrier pada DA. IL-4 dan IL-13 adalah beberapa penanda sitokin Th2 utama yang dapat mempengaruhi lapisan terluar kulit. Imunoterapi dapat mencegah reaksi alergi awal dan akhir. Imunoterapi mengubah profil sitokin sistem perifer dan mukosa dari Th2 menjadi Th1 dengan bekerja pada sel T. Respon imun Th2 ditekan, dan gejala alergi dikendalikan oleh sel Treg dan sitokinnya. Sebagai hasilnya, peradangan yang terjadi pada DA akan menurun.

Penelitian mengenai imunoterapi pada DA masih terus berkembang dengan hasil penelitian yang beragam. Karena mekanisme imunoterapi sendiri belum diketahui secara pasti, saat ini hasil penelitian yang ada masih menjadi kontroversi apakah perbaikan klinis disebabkan oleh imunoterapi atau efek pengobatan lain yang diterima pasien. Penelitian imunoterapi menggunakan hewan uji coba juga telah banyak dilakukan. Studi terbaru mengenai imunoterapi pada model hewan menunjukkan efek perbaikan pada ketidakseimbangan imunologis pada hewan dengan DA.

Imunoterapi pada DA diharapkan menjadi peluang yang baik dalam penatalaksanaan DA. Penelitian tentang imunoterapi pada anak dengan rhinitis alergi telah terbukti dengan didapatkannya keuntungan imunoterapi dalam hal perbaikan klinis dan penghematan biaya pengobatan rinitis alergi pada anak. Dengan menurunnya gejala klinis dan kekambuhan, diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas hidup pasien, pola tidur, fungsi kognitif dan pola perilaku, serta mengurangi beban sosial dan finansial yang timbul akibat penyakit ini.

Penulis : Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT