51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Peranan High Sensitivity C-Reactive Protein sebagai Prediktor Outcome pada Pasien St-Elevation Myocardial Infarction dengan Primary Percutaneous Coronary Intervention

Inflamasi merupakan fase yang penting dari semua fase termasuk prognosis jangka pendek setelah terjadi infark miokard. Inflamasi dinding pembuluh darah dan respon inflamasi dipertimbangkan sebagai patogenesis utama terjadinya aterotrombosis pada infark miokard. Beberapa tahun ini, banyak biomarker inflamasi telah di teliti untuk menentukan peningkatan kadar molekul tersebut dihubungkan dengan prognosis yang buruk terhadap pasien dengan infark mikoard. Beberapa studi telah menunjukan hubungan antara CRP dengan kejadian rekuren pasien sindrom koroner akut.

Pada awal terjadinya infark mikoardial akut, kadar CRP mungkin sebagai reaksi terhadap respon inflamasi iskemia miokardial dan bukan inflamasi pembuluh darah kronik. Hal ini menekan kan bahwa kadar CRP menjadi suatu marker yang sederhana terhadap respon inflamasi iskemia miokardial yang potensial dan memberikan informasi prognostik terhadap risiko kematian. Sehingga pengukuran CRP bisa sebagai stratifikasi risiko dan managemen pada pasien dengan risiko sangat tinggi yang berpengaruh terhadap luaran klinis STEMI.

Banyak studi yang berkenaan dengan prognostik nilai High sensitifity C- Reactive Protein (hsCRP) sebagai prediktor rehospitalisasi pasien infark miokard akut. hs-CRP telah menunjukan hubungan dengan luaran klinis di rumah sakit seperti kematian, infark miokardial dan angina. Sehingga dapat berguna sebagai biomarker risiko pada pasien dengan infark miokard. Selama ini di Indonesia belum diketahui hubungan kadar HsCRP terhadap luaran klinis pasien dengan STEMI. Infark miokardial akut dihubungkan dengan inflamasi miokardial yang ekstensif dan menyebabkan respon inflamasi yang sistemik. HsCRP bisa mengukur respon inflamasi sebagai respon kerusakan jaringan setelah infark miokard akut sehingga memberikan prognosis jangka pendek dan risiko kematian. Kejadian mayor kardiovaskular merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada pasien dengan STEMI.

Studi ini bertujuan untuk membuktikan kadar serum hsCRP saat admisi sebagai prediktor terhadap Mayor adverse cardiovascular event, yaitu kematian kardiovakular, nonfatal MI, nonfatal stroke, stent thrombosis pada pasien STEMI yang menjalani Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) selama rawat inap dan 30 hari paska PPCI.

Studi ini merupakan penelitian prospektif observasional dengan pendekatan kohort. Subjek penelitian adalah pasien dengan diagnosis STEMI onset kurang dari 24 jam dan menjalani perawatan di ruang Cardiovascular Care Unit (CVCU) serta ruang perawatan kardiovaskular RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Uji ELISA dilakukan untuk mengukur kadar serum hsCRP dari sampel darah perifer yang diambil. Berdasarkan kadar hsCRP subjek dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok dengan hsCRP < 2 mg/l dan kadar hsCRP ≥ 2 mg/l. Subjek kemudian diamati selama perawatan dan dinilai munculnya Mayor Adverse Cardiovascular Event.

 Subjek penelitian ini sebanyak 61 pasien, kadar hsCRP mempunyai hubungan positif dengan kemaknaan rendah antara HsCRP dengan mortalitas selama rawat inap. HsCRP mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap   Major Adverse Cardiac Events (MACE). Individu dengan kadar HsCRP ≥ 2 mg/l lebih berisiko mengalami insiden Major adverse cardiovascular event Events (MACE) sebanyak 19 kali lipat di bandingkan kadar HS CRP < 2 mg/l. Adanya faktor lingkungan, genetik dan komordid seperti faktor risiko kardiovaskular dapat mempengaruhi kadar hsCRP.

Didapatkan hubungan positif yang rendah antara kadar hsCRP dan mortalitas selama di rumah sakit dan kadar mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap MACE dimana kadar hsCRP ≥ 2 mg/l berisiko 19 kali lipat terjadi Major adverse cardiovascular event.

Penulis : I Gde Rurus Suryawan, Andrianto, Ken Zola Purinda, Fita Triastuti

Link :

AKSES CEPAT