Penyakit mulut dan kuku merupakan penyakit disebabkan oleh virus yang menyerang pada hewan berkuku genap, utamanya adalah sapi, kambing, domba, kerbau. Tingkat kematian rendah tetapi penyebaranya sangat cepat, tahan dalam air, kotoran hewan (faces), mudah menular melalui udara, air, makanan, dan peralatan kandang, baju dan alat. Penyakit ini menyebabkan hewan menjadi kurus dan dapat persisten dalam waktu yang cukup lama, karena itu penyakit ini disebut penyakit ekonomil, Sehingga dapat menyebabkan produksi susu menurun sulit untuk kembali normal, penurunan produksi susu dari 25 liter menjadi 10 liter, dan nilai karkasnya rendah. Oleh karena itu pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) melalui vaksinasi sangat penting.
Penyediaan vaksin di Indonesia tidak lagi diproduksi sejak Indonesia dinyatakan bebas sejak dinyatakan bebas tahun 1990 oleh badan kesehatan hewan dunia (OIE), namun tahun 2023 penyakit PMK melanda Indonesia kembali dan sampai saat ini masih belum bisa dibebaskan dari serangan penyakit tersebut. Terbukti masih terdapat spot outbreak di berbagai daerah. Pusat Riset Vaksin Teknologi dan pengembangan telah melakukan isolasi virus dilapangan dan telah dikembangkan menjadi seed vaksin dengan platform inactivated vaccine.
Formaldehyde 0,1% sangat optimal untuk inaktivasi virus dari suspensi medium sel selama 24 jam, dan tidak menyebabkan fragmentasi struktural protein, tetapi memfragmentasi RNA virus, sehingga virus menjadi inaktif atau mati. Virus PMK mempunyai empat macam viral protein 1,2,3,4, dan protein tersebut mempunyai peranan berbeda dalam patogenesisnya untuk menginfeksi sel epitel terutama di mulut dan teracak kaki (corona kaki). Virus yang mempunyai genom ssRNA tidak mempunyai cross protective diantara serotipe O, A, C, SAT1,2,3. Di Indonesia penyakit PMK termasuk serotipe O, oleh karena itu sangat diperlukan vaksin isolate lokal sesuai dengan penyebab penyakit dilapangan.
Penulis: Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, drh.
Available at
baca juga: Seminar Sitopatologi RSHP UNAIR Kenalkan Pemeriksaan FNAB pada Hewan





