51动漫

51动漫 Official Website

Peran Baru Pustakawan di Era Digital: Tidak Sekadar Menjawab, Tapi Mengajar

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perpustakaan perguruan tinggi saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi atau penyedia layanan referensi sederhana. Seiring berkembangnya pembelajaran digital, kelas daring, dan kemudahan akses terhadap berbagai sumber ilmiah, perpustakaan semakin dituntut menjadi mitra aktif dalam proses belajar dan penelitian. Dalam konteks ini, pustakawan tidak hanya membantu menemukan informasi, tetapi juga membimbing pengguna agar mampu memahami dan memanfaatkannya secara tepat.

Salah satu layanan yang semakin berkembang adalah Virtual Reference Services (VRS) atau layanan referensi virtual. Melalui berbagai platform seperti chat, email, hingga aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, pustakawan dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa, dosen, maupun peneliti kapan saja dan di mana saja. Layanan ini memudahkan pengguna mendapatkan bantuan dengan cepat, terutama ketika mereka mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, skripsi, atau publikasi ilmiah. Namun, meskipun layanan ini semakin berkembang, belum banyak pembahasan yang secara khusus melihat peran pustakawan sebagai pengajar dalam layanan referensi virtual.

Namun, dalam praktiknya, layanan ini tidak sekadar menjadi ruang tanya jawab. Menariknya, banyak pustakawan mengungkapkan bahwa mereka juga berperan sebagai 減engajar. Mereka tidak hanya memberikan jawaban, tetapi turut membimbing pengguna dalam menyusun strategi pencarian informasi, menilai kualitas sumber, memahami masukan dari dosen atau reviewer, hingga menjaga integritas akademik. Dengan kata lain, layanan ini tidak hanya membantu, tetapi juga menjadi sarana belajar bagi pengguna.

Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran yang terjadi tepat saat dibutuhkan, atau sering disebut just-in-time learning. Artinya, proses belajar muncul secara langsung ketika pengguna menghadapi masalah. Misalnya, saat mahasiswa kebingungan memilih jurnal terindeks, menghindari jurnal predator, atau memperbaiki draft artikel. Dalam situasi seperti ini, pustakawan memberikan panduan yang sesuai dengan kebutuhan saat itu, sehingga pengguna dapat segera melanjutkan pekerjaannya.

Untuk memahami peran ini lebih jauh, penelitian dilakukan dengan melibatkan 16 pustakawan dari sembilan perguruan tinggi di Indonesia. Wawancara dilakukan secara daring untuk menggali pengalaman mereka dalam memberikan layanan referensi virtual kepada pengguna.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pustakawan tidak hanya menjawab pertanyaan secara singkat, tetapi juga mendampingi pengguna hingga masalah benar-benar terselesaikan. Dalam banyak kasus, mereka membantu sejak tahap awal pencarian informasi hingga pengguna mampu menyelesaikan tugas akademiknya.

Selain itu, layanan ini bersifat sangat fleksibel. Pengguna dapat menghubungi pustakawan kapan saja, bahkan di luar jam kerja formal, melalui berbagai platform termasuk WhatsApp pribadi. Hal ini membuat layanan menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna. Namun di sisi lain, beberapa pustakawan juga mengakui adanya tantangan dalam menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam interaksi sehari-hari, pendekatan yang digunakan pustakawan juga cenderung personal. Mereka menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik pengguna, baik dari segi tingkat pendidikan maupun cara berkomunikasi. Pendekatan yang lebih santai membuat pengguna merasa lebih nyaman untuk berdiskusi. Bahkan, dalam beberapa situasi, pustakawan berperan sebagai 渢eman diskusi yang membantu pengguna memahami masalah sekaligus menemukan solusi.

Tidak hanya itu, pustakawan juga menyediakan berbagai materi pembelajaran digital, seperti panduan, tutorial, dan konten edukatif di media sosial. Materi ini dapat diakses kembali oleh pengguna secara mandiri, sehingga proses belajar tidak berhenti pada saat konsultasi, tetapi dapat berlanjut setelahnya.

Menariknya, pembelajaran yang terjadi dalam layanan ini sangat berkaitan dengan situasi nyata. Misalnya, saat pengguna sedang menyusun skripsi atau menulis artikel ilmiah. Hal ini membuat pengguna tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Lebih jauh lagi, banyak pustakawan berupaya mendorong pengguna menjadi pembelajar mandiri dengan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan literasi informasi.

Artinya, layanan referensi virtual bukan sekadar layanan informasi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang fleksibel, personal, dan relevan dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, peran pengajaran dalam layanan ini perlu mulai diakui secara lebih jelas. Perpustakaan juga perlu memberikan dukungan, baik melalui pelatihan bagi pustakawan maupun kebijakan yang mengatur pengelolaan waktu kerja.

Ke depan, layanan referensi virtual memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari sistem pembelajaran di perguruan tinggi. Dengan dukungan teknologi yang tepat, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan, layanan ini dapat menjadi semakin efektif. Namun demikian, peran pustakawan sebagai pembimbing yang memahami konteks dan membangun hubungan dengan pengguna tetap menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran.

Disarikan dari artikel:

Anna, N. E. V., & Kiran, K. (2026). Librarians’ understanding of instruction in virtual reference services: A just-in-time learning perspective. The Journal of Academic Librarianship, 52(3).

AKSES CEPAT