51动漫

51动漫 Official Website

Peran Dokter dalam Skrining Suspek Tuberkulosis di Kota Surabaya

Foto by Alodokter

Indonesia merupakan negara dengan angka morbiditas Tuberkulosis (TB) yang tinggi, yaitu 9,6 juta penderita. Upaya penanganan dengan strategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS) telah digunakan di banyak negara termasuk Indonesia. WHO mengembangkan strategi Stop TB, salah satu komponen dari strategi Stop TB adalah dengan melibatkan semua penyedia layanan, pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam implementasi DOTS berkualitas melalui pendekatan Public-Private Mix (PPM). Namun demikian, pada kenyataanya cakupan pelayanan swasta berjejaring dalam penatalaksanaan TBC sesuai standar semakin menurun, khususnya dokter. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan peran dokter praktik swasta dalam skrining suspek TBC melalui pendekatan PPM (Public Private Mix).

Konsep PPM yang kemudian diterapkan di Indonesia berdasarkan Kabupaten/Kota  diharapkan dapat mendorong seluruh fasilitas kesehatan yang menangani TB untuk berpartisipasi dalam jejaring tersebut. Peran dokter dapat membantu dalam pelaporan temuan kasus suspek TB, sehingga pasien TB dapat ditemukan dan ditangani sesuai standar dan tercatat dalam sistem informasi National Tuberculosis Program (NPM).

Penelitian kasus kontol dilakukan pada tahun 2019 di Surabaya dengan melibatkan 132 dokter. Dari 132 dokter tersebut, hanya 34 dokter (25,7%) yang berperan aktif, sedangkan 98 dokter (74,3%) tidak berpartisipasi dalam pendampingan terhadap suspek Tuberkulosis. Hampir 73% dokter belum mendapatkan pelatihan tambahan dalam penatalaksanaan Tuberkulosis. Para dokter hanya menyumbang 19,1% dari total penemuan suspek Tuberkulosis di Surabaya. Dari hasil analisis data, didapatkan bahwa usia dan masa kerja dokter serta jumlah pasien yang berkunjung ke tempat praktek swasta berhubungan dengan peran dokter untuk melakukan skrining Tuberkulosis.

Penulis: Rosita Dwi Yuliandari, Chatarina Umbul Wahyuni, Fariani Syahrul, Hari Basuki, Notobroto, Mochammad Bagus Qomaruddin, Soedarsono

Publikasi di: Journal of Public Health in Africa 2023; volume 14(s2):2546

Link: 听 听

AKSES CEPAT