51动漫

51动漫 Official Website

Peran Knowledge Brokering dalam Pengembangan Rumah Sakit Khusus

IL by BMJ Blogs

Penyakit otak dan pembuluh darah/cerebrovascular disease (CVD) telah berkontribusi pada kematian 6,6 juta orang di seluruh dunia; dalam angka ini, stroke iskemik menyumbang 3,3 juta kematian, perdarahan otak 2,9 juta, dan perdarahan subarachnoid 0,4 juta.  Riset Kesehatan Dasar Indonesia telah mendokumentasikan peningkatan kasus CVD dan hipertensi yang signifikan dari 7% pada tahun 2013 menjadi 10,9% pada tahun 2018, dan dari 25,8% pada tahun 2013 menjadi 34,1% pada tahun 2018. Di antara kasus-kasus tersebut, tercatat bahwa kepatuhan terhadap pengobatan dan kehadiran pasien di fasilitas kesehatan masih kurang.

Di Indonesia hanya ada 37 rumah sakit yang memenuhi syarat untuk menampung pasien CVD dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk rumah sakit khusus otak dan saraf. Hal ini terjadi karena pemerintah membutuhkan sumber daya yang sangat besar untuk mendirikan rumah sakit yang dibutuhkan di seluruh Indonesia. Indonesia membutuhkan kurang lebih 435 rumah sakit khusus untuk merawat pasien stroke. Untuk mempercepat transformasi rumah sakit khusus, keberadaan pihak yang bisa menjadi knowledge brokers (KB) menjadi sangat penting.

淜B adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seorang ahli atau sekelompok profesional yang berperan untuk menghubungkan para peneliti, praktisi, dan pembuat keputusan dalam menerjemahkan pengetahuan ke dalam praktik dan mendorong kolaborasi antara pihak-pihak tersebut untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah dan mengubah kebijakan. Ruang lingkup fungsi KB sering digambarkan sebagai terjemahan pengetahuan dan manajemen pengetahuan untuk memperoleh dan mengadaptasi bukti berbasis penelitian, koneksi, dan menawarkan informasi yang sesuai dengan pengaturan masalah dan kebutuhan. Penelitian terkait KB di Indonesia masih sangat minim. Apalagi inisiatif pelaksanaan dan pengkajian KB di Indonesia belum tergali berdasarkan pengalaman di lapangan.

Berdasarkan gambaran tersebut, peneliti dari 51动漫 melakukan penelitian untuk mengeksplorasi konsep intervensi knowledge brokering dalam pengembangan rumah sakit spesialis di Indonesia. Hasil penelitian berhasil dipublikasikan di jurnal terindeks Scopus (Q1) yaitu Electronic Journal of General Medicine.

Peneliti menggunakan metode kualitatif studi fenomenologis deskriptif untuk mendapatkan pemahaman tentang intervensi KB dalam menerjemahkan pengetahuan dan kerangka sosial untuk pengembangan rumah sakit khusus. Data primer dikumpulkan dari wawancara mendalam semi terstruktur dengan berbagai pelaku kesehatan yang berpartisipasi dalam kegiatan KB selama pengembangan rumah sakit khusus yaitu sejumlah 17 responden.

Tujuh belas responden mengungkapkan bahwa istilah KB belum dikenal luas di masyarakat. Namun, mereka sepenuhnya memahami bahwa mereka telah mengenal dan terlibat dengan KB dalam aspek praktis. Temuan mengungkapkan lima tema utama, yaitu: karakteristik KB, peran KB, perantara permintaan, persepsi rumah sakit khusus, dan tantangan dalam mengembangkan rumah sakit khusus.  Setiap tema dibangun dengan beberapa kategori.

Pada tema pertama, peneliti mengungkapkan karakteristik KB terbagi menjadi empat domain: determinasi dan pantang menyerah, idealisme dan visi, keterampilan membangun kapasitas, kewirausahaan, dan transendensi. Tekad dan pantang menyerah dikaitkan dengan  kepribadian KB yang proaktif, pantang menyerah, dan gigih ketika mereka berkomitmen untuk mencapai ide-ide mereka untuk mewujudkannya. Tema kedua, peran KB dikategorikan menjadi tiga fungsi utama: komunikator, pemecah masalah, dan meyakinkan pemangku kepentingan. Perantaraan permintaan dipilih sebagai istilah untuk menggambarkan tema ketiga, karena menjelaskan keberadaan KB dan gagasan untuk membuat lebih banyak KB. Permintaan KB berkorelasi dengan tindakan inovasi dan transformasi di bidang kesehatan, khususnya dalam pengembangan rumah sakit khusus. Sedangkan bentuk knowledge hub menciptakan lebih banyak KB dan persepsi apakah KB bisa berupa pelatihan, atau bakat. Tema keempat menyampaikan persepsi rumah sakit khusus yang terbagi atas berbagai persepsi rumah sakit khusus, perluasan rumah sakit khusus, dan ilmu pengetahuan maju. Partisipan dalam penelitian ini berasumsi bahwa rumah sakit khusus pada awalnya menjadi proyek yang tidak diprioritaskan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, dengan tingginya kasus stroke dan kasus lainnya permintaan akan rumah sakit khusus mulai meningkat. Peneliti menemukan tiga domain tantangan yang harus dicarikan solusinya oleh KB: regulasi yang rumit, kendala keuangan, dan sumber daya manusia. Tantangan-tantangan tersebut merupakan faktor eksternal yang menyebabkan karakteristik dan peran KB diakui.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerangka intervensi perantara pengetahuan terdiri dari kemampuan individu dan interpersonal. Perlu diperkenalkan karakteristik KB yang dilatihkan di semua tatanan pembangunan untuk mendorong pencapaian tujuan di bidang kesehatan. Peneliti menyarankan agar konsep KB dipertimbangkan untuk mewujudkan proyek nasional, karena hal ini akan meningkatkan pembangunan kesehatan negara. Studi ini berkontribusi dalam mengidentifikasi dan menghubungkan indikator-indikator perantara pengetahuan kesehatan dalam menerjemahkan pengetahuan ke dalam praktik di rumah sakit khusus di Indonesia.

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Artikel lengkap dapat diakses pada:

AKSES CEPAT