Bioteknologi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi reproduksi hewan, khususnya dengan menggunakan oosit untuk menghasilkan embrio dengan tetap memperhitungkan produksi genetika yang unggul dan kebutuhan ekonomi pangan yang tinggi. Proses pematangan sel telur secara in vitro memerlukan nutrisi dan adanya aktivitas steroidogenesis agar operasi fertilisasi in vitro (IVF) dapat berhasil. Aktivitas steroidogenesis diatur oleh protein seperti protein morfogenetik tulang-15 (BMP-15) dan faktor pertumbuhan mirip insulin-1 (IGF-1).
Pemilihan krioprotektan yang tepat yang tidak akan membahayakan oosit kambing penting untuk menjaga kualitasnya selama fase vitrifikasi dan pemanasan. Faktor gen pematangan, BMP-15 dan IGF-1, ditemukan melalui prosedur pewarnaan imunositokimia. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa etilen glikol (EG) dan sukrosa dapat mempertahankan oosit sapi dan babi serta memvitrifikasi oosit kambing, yang selanjutnya menawarkan wawasan berharga untuk teknik bioteknologi reproduksi di masa mendatang. Bila dikombinasikan dengan sukrosa, yang berfungsi sebagai krioprotektan ekstraseluler dan mengikat lapisan lipid membran sel untuk melindungi protein membran dari guncangan, EG dapat dengan cepat mengalami permeabilisasi, melindungi oosit dan embrio sebelum vitrifikasi dan juga memasok energi untuk metabolisme sperma yang dicairkan dan oosit yang dihangatkan.
Peningkatan kualitas jaringan ovarium dan peningkatan hasil vitrifikasi oosit domba, kerbau, dan sapi telah dibuktikan oleh penelitian menarik yang menggunakan EG dan sukrosa. Bahkan dengan kemajuan yang ada, pemilihan krioprotektan yang tepat sangat penting untuk menjaga viabilitas oosit dan mengurangi toksisitas selama vitrifikasi, terutama karena belum ditemukan krioprotektan yang tepat untuk oosit kambing.
Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai efektivitas EG-sukrosa sebagai pengganti krioprotektan komersial. Kami mengantisipasi bahwa jika dibandingkan dengan krioprotektan komersial, EG dan sukrosa akan lebih hemat biaya karena ketersediaannya yang lebih besar, kemudahan produksi, dan penggunaan alternatif dalam jumlah tak terbatas, yang akan mendukung ketersediaan pangan, khususnya pangan yang berasal dari hewan.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai efikasi etilen glikol-sukrosa sebagai krioprotektan alternative dibandingkan krioprotektan komersial dengan fokus pada ekspresi insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan bone morphogenetic protein-15 (BMP-15) pada kompleks kumulus oosit kambing pasca pemanasan dengan identifikasi menggunakan analisis imunositokimia. Oosit yang telah matang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu (K) kelompok kontrol yang dilanjutkan dengan pemeriksaan imunohistokimia dan dua kelompok perlakuan, yaitu (P1) yang dipaparkan krioprotektan komersial selama 15 menit, kemudian dimasukkan ke dalam hemistraw dan dicelupkan ke dalam nitrogen cair, dan (P2) yang dipaparkan etilen glikol 30% dan sukrosa 1 M selama 15 menit, kemudian dimasukkan ke dalam hemistraw dan dicelupkan ke dalam nitrogen cair. Hasil penelitian menunjukkan respons yang berbeda pada pola ekspresi IGF-1 (CG = 9,00 卤 3,00; P1 = 9,50 卤 3,20; P2 = 4,67 卤 0,94) dan BMP-15 (CG = 10,50 卤 3,35; P1 = 9,50 卤 2,69; P2 = 5,50 卤 3,64), yang mungkin dipengaruhi oleh kedua kemampuan krioprotektan dan oosit yang melakukan permeabilitasnya terhadap larutan krioprotektan. Kami menyimpulkan bahwa setiap krioprotektan diperlukan untuk mengurangi dampak buruk pada ekspresi gen dalam oosit sehingga kita dapat menggunakannya untuk teknologi reproduksi.
Penulis: Widjiati
Publikasi pada jurnal: Jurnal Medik Veteriner
Link laman jurnal:





