Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa ada beberapa gen mempengaruhi perkembangan rahang. Contohnya, polimorfisme nukleotida tunggal (SNP) gen LRP2 dan PTCH2 pada maloklusi skeletal kelas II, FGR3 pada maloklusi skeletal kelas II dengan mikrognatisme mandibula, dan DLL3, LFNG, BMPER pada maloklusi skeletal kelas III dengan prognatia mandibula.
BAHAN DAN METODE
Penelitian deskriptif observasional (metode simple random sampling). Tidak mengikutsertakan pasien dengan riwayat perawatan ortodontik / bedah ortognatik, deformitas kraniofasial / kelainan genetik, gigi hilang, gigi supernumerary.
a. LRP2 dan PTCH 2 pada Maloklusi Skeletal Kelas II
31 pasien maloklusi skeletal kelas II dan 32 pasien maloklusi skeletal kelas III.
b. FGFR3 pada Maloklusi Skeletal Kelas II dengan Mikrognatisme Mandibula
Maloklusi skeletal kelas I (32 sampel) dan kelas II (32 sampe)
c. DLL3 dan LFNG pada Maloklusi Skeletal Kelas III dengan Prognatia Mandibula
Maloklusi skeletal kelas I (32 sampel) dan kelas III (32 sampel)
d. BMPER pada Maloklusi Skeletal Kelas III dengan Prognatia Mandibula
31 pasien di kelas II dan 32 pasien di maloklusi skeletal kelas III.
Analisis Sefalometri
Menggunakan OrthoVision (Vatech, Korea Selatan)
Analisis SNP
1 sampel dari setiap kelompok darah diambil untuk pengujian sekuensing genom utuh.
Analisis Statistik
SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) versi 23 untuk Macintosh.
HASIL
- Mutasi FGFR3 struktur protein treonin berubah menjadi metionin
- Mutasi LRP2 struktur protein asparagine berubah menjadi Serin.
- Mutasi PTCH 2 struktur protein Prolin berubah menjadi Leusin.
- Mutasi DLL3 struktur protein fenilalanina berubah menjadi sisteina
- Sampel kelompok kontrol (kelas I) hanya terdapat delesi pada SNP LFNG, sedangkan pada sampel kelompok terpilih (kelas III) terdapat delesi dan insersi pada LFNG.
- Hasil SNP pada gen BMPER dengan mencari SNP yang terletak pada fungsi ekson dan bersifat missense dapat mengubah susunan asam amino dan protein.
DISKUSI
Maloklusi skeletal kelas II dengan Retrognatisme Mandibula
LRP 2 dan PTCH 2 memiliki peran penting dalam mekanisme pensinyalan SHH, di mana LRP 2 dan PTCH 2 bersama-sama bertindak sebagai reseptor.
Tonjolan dan pemanjangan merupakan contoh struktur tambahan yang muncul sebagai akibat mutasi. Struktur kimianya menunjukkan bahwa prolin, yang memiliki struktur seperti cincin, kemudian berubah menjadi leusin, yang mengakibatkan tonjolan dan modifikasi lain pada struktur 3D. Terdapat perluasan struktur protein dalam hal struktur kimia.
Mutasi aktivasi pada FGFR3 terbukti meningkatkan ekspresi protein FGFR3 dengan degradasi reseptor, sehingga memengaruhi patofisiologi mikrognatisme mandibula.
Maloklusi Skeletal Kelas III dengan Prognatia Mandibula
Gen DLL3 (Kromosom 19) dan LFNG (kromosom 7) merupakan gen yang berperan dalam proses pertumbuhan awal. Mutasi pada kedua gen ini sering ditemukan pada pasien dengan disostosis spondilokostal, yaitu kelainan pertumbuhan jaringan keras. Secara spesifik, DLL3 berperan dalam pembentukan disostosis spondilokostal (SCDO) tipe 1 dan LFNG berperan dalam pembentukan disostosis spondilokostal (SCDO) tipe 3.
BMPER (Bone Morphogenetic Protein Binding Endothelial Regulator). Merupakan gen penyandi protein yang berfungsi menghambat fungsi protein morfogenetik tulang (BMP). Ia dapat mengatur respons BMP dari osteoblas dan kondrosit melalui pensinyalan NOTCH dan BMP. Ia terbukti menghambat diferensiasi osteoblas yang bergantung pada BMP2 dan BMP4 serta diferensiasi sel kondrogenik yang bergantung pada BMP. Mutasi gen ini sering ditemukan pada pasien diaphanospondylodysostosis, yaitu kelainan pertumbuhan jaringan keras24.
KESIMPULAN
LRP2 rs2229263 dan PTCH2 rs372348401 mungkin merupakan gen risiko untuk maloklusi skeletal kelas II, FGFR3 diprediksi mengubah struktur protein secara signifikan, sehingga mempengaruhi dan menghambat pertumbuhan mandibula pada maloklusi Kelas II, DLL3 dan LFNG mungkin berperan dalam pembentukan dentokraniofasial melalui jalur pensinyalan NOTCH dengan mengganggu efek siklus dan osilasi sinkron antara sel sehingga mereka mungkin berperan dalam pembentukan maloklusi skeletal kelas III, juga BMPER rs10265207, rs77064045, rs6968741, rs74734392 mungkin merupakan gen risiko untuk maloklusi skeletal kelas III. Temuan lain juga mencakup variasi LFNG (rs61564232) pada mereka yang mengalami delesi belum tercatat dalam basis data NCBI dan dapat menjadi informasi baru bahwa variasi ini mungkin merupakan penanda genetik maloklusi pada etnis Jawa karena ditemukan pada maloklusi kelas I dan kelas III. SNP dianggap berguna dalam diagnosis dini maloklusi skeletal. REFERENSI
Ardani IGA., Budipramana Melisa, Rachmawati Erlina , AP Alexander, Ardana IKKG, Budhy Theresia Indah, Hassan Rozita, Listyorini Dwi, Sarno Riyanarto. (2022) COL1A1 and FGFR2 Single-Nucleotide Polymorphisms Found in Class II and Class III Skeletal Malocclusions in Javanese Population. 2022. Eur J Dent 2022 Jun 7. doi: 10.1055/s-0042-1744371.
Penulis: Prof. Dr. I Gusti Aju Wahju Ardani, drg. M.Kes., Sp.Ort.
Link:
Baca juga: Rahasia Atlet Percepat Pemulihan Otot Setelah Olahraga Intens





