Tetanus merupakan penyakit yang masih dijumpai di banyak negara, termasuk di Indonesia. Cakupan imunisasi yang belum merata menjadi salah satu penyebab. Penyakit ini ditandai dengan kekakuan otot yang biasanya berlanjut hingga penderita mengalami kejang. Dalam bentuk spora, kuman penyebab tetanus dapat bertahan hidup hingga puluhan tahun, terutama di tempat yang tidak beroksigen.
Penderita tetanus akan mengalami kekakuan yang dimulai dari rahang sehingga tidak bisa membuka mulut., Kekakuan terus meluas ke otot wajah, otot punggung, dan anggota gerak. Pada tahap selanjutnya penderita akan mengalami kejang. Biasanya obat untuk kekakuan menggunakan diazepam namun adakalanya pada kasus yang berat diperlukan variasi tatalaksana. Salah satu alternatif obat untuk kekakuan dan kejang yang lain adalah magnesium sulfat yang telah digunakan sejak lama, dan bisa didapat dengan harga yang relatif murah.
Seorang anak laki berusia 6 tahun dibawa ke Rumah Sakit Kalabahi di Alor, NTT karena mengalami kejang dan kekakuan sejak 3 hari sebelumnya. Sebelum itu, sekitar 10 hari sebelum ke rumah sakit, anak ini mengalami luka di kaki yang diobati di sarana kesehatan terdekat dengan penjahitan dan obat-obatan. Saat datang anak telah menunjukkan kekakuan di seluruh tubuh dan bekas luka di kaki tampak terinfeksi. Pemeriksaan laboratorium saat datang relatif normal. Diagnosis anak ini adalah tetanus berat. Pengobatan standar tetanus mencakup penggunaan diazepam yang pada kasus ini dinaikkan bertahap hingga mencapai dosis tinggi namun tidak mampu menghentikan kejang.
Di sarana kesehatan yang lebih lengkap, anak bisa dilumpuhkan dan selanjutnya dibantu dengan mesin pernapasan buatan. Di Kalabahi, dengan kondisi yang terbatas, hal tersebut tidak bisa dilakukan. Magbnesium sulfat kemudian diberikan yang belakangan mencapai 27 hari lamanya. Selain itu, antibiotika, anti toksin tetanus dan pengobatan lainnya diberikan sesuai pedoman standar. Magnesium sulfat memberikan hasil yang baik dan kejang perlahan berkurang hingga akhirnya berhenti. Kekakuan menunjukkan perbaikan sehingga pada hari ke-28 anak bisa dipulangkan dengan kelemahan beberapa otot namun masih bisa bicara dan makan minum dengan bebas. Magnesium sulfat selama ini telah digunakan sebagai alternatif pengobatan tambahan untuk kasus tetanus sekalipun publikasi di Indonesia sangat terbatas. Sebenarnya obat ini lebih banyak dipakai untuk ibu hamil yang mengalami kejang dan cukup efektif. Sebagai obat utama hasil yang terctata di beberapa literatur bervariasi namun sebagai pengobatan tambahan obat ini terbukti memuaskan. Magnesium sulfat bekerja dengan menghambat kalasium yang diperlukan dalam tubuh. Beberapa risiko yang muncul dalam pemakaian obat tersebut antara lain adalah gangguan terkanan darah dan sistem saraf otonom. Gangguan tersebut tidak dijumpai pada pasien anak ini. Pada sarana kesehatan dengan fasilitas terbatas penggunaan magnesium sulfat harus selalu dipertimbangkan terutama ketika obat utama tidak menunjukkan hasil yang cukup baik.
Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,Sp.A(K)
Link:
Baca juga:





