51动漫

51动漫 Official Website

Peran Pelembab yang Mengandung Agen Antiinflamasi terhadap Perbaikan Klinis Dermatitis Atopik

Ilustrasi Pelembab/Moisturizer (Sumber: Kumparan)
Ilustrasi Pelembab/Moisturizer (Sumber: Kumparan)

Dermatitis atopik (DA) adalah kondisi peradangan kulit kronis yang ditandai dengan kulit yang gatal, merah, kering, dan teriritasi. Kondisi ini sering muncul pada masa kanak-kanak dan banyak orang yang berpotensi berlanjut hingga dewasa. Dermatitis atopik secara signifikan berdampak pada kualitas hidup, memengaruhi interaksi sosial, pekerjaan, dan kesehatan mental pada anak-anak dan orang dewasa. Secara global, angka kejadian dermatitis atopik berkisar antara 10-20% pada anak-anak dan mencapai sekitar 3% pada orang dewasa, dengan 50% kasus dimulai sejak tahun pertama kehidupan. Di Asia Tenggara, tingkat angka kejadian dermatitis atopik bervariasi, dengan Indonesia melaporkan 1,1% di antara anak usia 13-14 tahun dan Singapura mencatat 17,9% pada anak usia 12 tahun. Antara tahun 2009 dan 2011, sebanyak 353 pasien DA dirawat di Poliklinik Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Tujuan utama pelembab dalam pengobatan dermatitis atopik adalah untuk memperkuat dan mempertahankan fungsi pelindung kulit. Pelembab memiliki peran yang sangat penting untuk semua tahapan penyakit, baik untuk pencegahan hingga saat kondisi DA mengalami kekambuhan. Tatalaksana farmakologis dermatitis atopik saat ini umumnya mencakup steroid, antihistamin, dan obat penekan imun. Meskipun kortikosteroid topikal efektif untuk menangani DA, namun penggunaan jangka panjang steroid memiliki potensi efek samping, seperti purpura, rosacea, dermatitis perioral, striae, atrofi, dan gangguan fungsi sawar kulit pada penggunaan dalam jangka waktu lama. Menanggapi kekhawatiran ini, berbagai agen antiinflamasi topikal non steroid telah dikembangkan dan dimasukkan ke dalam formulasi pelembab, memberikan alternatif untuk mengelola DA tanpa efek samping yang terkait dengan steroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelembab antiinflamasi yang mengandung komponen anti-inflamasi yaitu shea butter, bacterial lysate, allantoin, bisabolol, Phragmites kharka extract, Poria cocos, dan Mirabilis jalapa dibandingkan dengan pelembab biasaa dalam meningkatkan hasil klinis untuk pasien dengan DA ringan hingga sedang, khususnya dengan menilai skor derajat keparahan dermatitis atopik (SCORAD) untuk menentukan apakah pelembab ini dapat mengurangi tingkat keparahan kondisi dibandingkan dengan pelembab yang tidak mengandung zat antiinflamasi.

Penelitian ini menemukan bahwa kelompok intervensi, yang menggunakan pelembab dengan agen antiinflamasi, menunjukkan peningkatan yang signifikan pada skor SCORAD. Pelembab tersebut mengandung beberapa bahan utama: shea butter (3,2%), lisat bakteri (1%), allantoin (0,5%), bisabolol (0,5%), dan ekstrak dari Phragmites kharka dan Poria cocos (3%), serta Mirabilis jalapa (3%). Shea butter, yang kaya akan asam lemak, memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat efektif bahkan pada dosis rendah. Lisat bakteri dapat membantu meningkatkan daya tahan dan imunitas kulit, sementara allantoin dikenal dengan efek antioksidan dan penyembuhan luka. Kombinasi Phragmites kharka dan Poria cocos terbukti mengurangi kehilangan air transepidermal, iritasi, kemerahan, dan gatal-gatal. Ekstrak ini juga menurunkan produksi zat pro-inflamasi seperti TNF-伪 dan IL-8, yang berkontribusi terhadap iritasi kulit. Selain itu, Mirabilis jalapa dapat membantu mengurangi peradangan dan mencegah komplikasi yang terkait dengan peradangan kronis dengan menghambat proses inflamasi tertentu dan meningkatkan kesehatan kulit. Secara keseluruhan, penelitian ini membahas mengenai efektivitas bahan-bahan antiinflamasi dalam memperbaiki gejala dermatitis atopik secara signifikan diabndingkan dengan pelembab tanpa anti-inflamasi.

Dermatitis atopik (DA) adalah kondisi peradangan kulit kronis yang ditandai dengan kulit yang gatal, merah, kering, dan teriritasi. Kondisi ini sering muncul pada masa kanak-kanak, dan banyak orang yang berpotensi berlanjut hingga dewasa. Dermatitis atopik secara signifikan berdampak pada kualitas hidup, memengaruhi interaksi sosial, pekerjaan, dan kesehatan mental pada anak-anak dan orang dewasa. Secara global, angka kejadian dermatitis atopik berkisar antara 10-20% pada anak-anak dan mencapai sekitar 3% pada orang dewasa, dengan 50% kasus dimulai sejak tahun pertama kehidupan. Di Asia Tenggara, tingkat angka kejadian dermatitis atopik bervariasi, dengan Indonesia melaporkan 1,1% di antara anak usia 13-14 tahun dan Singapura mencatat 17,9% pada anak usia 12 tahun. Antara tahun 2009 dan 2011, sebanyak 353 pasien DA dirawat di Poliklinik Rawat Jalan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Tujuan utama pelembab dalam pengobatan dermatitis atopik adalah untuk memperkuat dan mempertahankan fungsi pelindung kulit. Pelembab memiliki peran yang sangat penting untuk semua tahapan penyakit, baik untuk pencegahan hingga saat kondisi DA mengalami kekambuhan. Tatalaksana farmakologis dermatitis atopik saat ini umumnya mencakup steroid, antihistamin, dan obat penekan imun. Meskipun kortikosteroid topikal efektif untuk menangani DA, namun penggunaan jangka panjang steroid memiliki potensi efek samping, seperti purpura, rosacea, dermatitis perioral, striae, atrofi, dan gangguan fungsi sawar kulit pada penggunaan dalam jangka waktu lama.

Menanggapi kekhawatiran ini, berbagai agen antiinflamasi topikal non steroid telah dikembangkan dan dimasukkan ke dalam formulasi pelembab, memberikan alternatif untuk mengelola DA tanpa efek samping yang terkait dengan steroid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pelembab antiinflamasi yang mengandung komponen anti-inflamasi yaitu shea butter, bacterial lysate, allantoin, bisabolol, Phragmites kharka extract, Poria cocos, dan Mirabilis jalapa dibandingkan dengan pelembab biasaa dalam meningkatkan hasil klinis untuk pasien dengan DA ringan hingga sedang, khususnya dengan menilai skor derajat keparahan dermatitis atopik (SCORAD) untuk menentukan apakah pelembab ini dapat mengurangi tingkat keparahan kondisi dibandingkan dengan pelembab yang tidak mengandung zat antiinflamasi.

Penelitian ini menemukan bahwa kelompok intervensi, yang menggunakan pelembab dengan agen antiinflamasi, menunjukkan peningkatan yang signifikan pada skor SCORAD. Pelembab tersebut mengandung beberapa bahan utama: shea butter (3,2%), lisat bakteri (1%), allantoin (0,5%), bisabolol (0,5%), dan ekstrak dari Phragmites kharka dan Poria cocos (3%), serta Mirabilis jalapa (3%). Shea butter, yang kaya akan asam lemak, memiliki sifat anti-inflamasi dan dapat efektif bahkan pada dosis rendah. Lisat bakteri dapat membantu meningkatkan daya tahan dan imunitas kulit, sementara allantoin dikenal dengan efek antioksidan dan penyembuhan luka. Kombinasi Phragmites kharka dan Poria cocos terbukti mengurangi kehilangan air transepidermal, iritasi, kemerahan, dan gatal-gatal. Ekstrak ini juga menurunkan produksi zat pro-inflamasi seperti TNF-伪 dan IL-8, yang berkontribusi terhadap iritasi kulit. Selain itu, Mirabilis jalapa dapat membantu mengurangi peradangan dan mencegah komplikasi yang terkait dengan peradangan kronis dengan menghambat proses inflamasi tertentu dan meningkatkan kesehatan kulit. Secara keseluruhan, penelitian ini membahas mengenai efektivitas bahan-bahan antiinflamasi dalam memperbaiki gejala dermatitis atopik secara signifikan diabndingkan dengan pelembab tanpa anti-inflamasi.

Penulis: Dr.Damayanti,dr.,Sp.DVE,Subsp.DAI

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT