51动漫

51动漫 Official Website

Pneumonia Komunitas akibat Enterobacter cloacae pada Lansia dengan Hipertensi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Oleh : Prof. Dr. Aryati., dr. MS., Sp.PK., Subsp.P.I(K)., Subsp I.K(K)

Pneumonia komunitas masih menjadi penyakit infeksi dengan angka kejadian tertinggi di dunia. Kelompok lanjut usia menjadi salah satu populasi yang paling rentan mengalami kondisi ini. Tantangan dalam penanganan pneumonia pada lansia terletak pada kompleksitas penyakit penyerta yang sering menyertai serta kesulitan identifikasi agen penyebab akibat produksi dahak yang minim dan penggunaan antibiotik yang luas sebelum diagnosis ditegakkan.

Enterobacter cloacae merupakan bakteri Gram-negatif yang umum ditemukan di lingkungan dan saluran pencernaan manusia. Bakteri ini tergolong dalam kelompok ESKAPE, yaitu kelompok patogen yang dikenal memiliki kemampuan untuk menghindari efek antibakteri dari berbagai antibiotik. Meskipun demikian, kasus pneumonia komunitas yang disebabkan oleh E. cloacae tergolong jarang, dengan Streptococcus pneumoniae masih menjadi penyebab utama.

Sebuah laporan kasus menguraikan perjalanan klinis seorang pasien laki-laki berusia 68 tahun dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, mual disertai muntah, dan kelemahan umum selama satu minggu. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol dengan pengobatan tidak teratur. Pemeriksaan fisik saat masuk rumah sakit menunjukkan tekanan darah 190/100 mmHg, laju nadi 96 kali per menit, dan laju napas 22 kali per menit.

Hasil laboratorium menunjukkan hitung leukosit 19.580 sel/渭L dengan dominasi neutrofil mencapai 76,0%. Kadar kalium serum ditemukan rendah, yaitu 2,90 mmol/L, sedangkan kadar glukosa darah mencapai 211 mg/dL. Pemeriksaan foto toraks menunjukkan gambaran yang mengarah pada pneumonia disertai pembesaran jantung. Rekaman elektrokardiografi menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri dan kelainan gelombang T yang konsisten dengan penyakit jantung hipertrofik akibat hipertensi jangka panjang.

Sampel dahak yang diambil pada hari pertama perawatan menunjukkan kualitas yang memadai untuk kultur dengan jumlah sel polimorfonuklear 2+ dan sel epitel 1+ berdasarkan sistem skor Murray dan Washington. Identifikasi patogen menggunakan sistem BD PhoenixTM Automated Identification and Susceptibility mengonfirmasi adanya Enterobacter cloacae complex.

Uji kepekaan antibiotik menunjukkan bahwa isolat E. cloacae sensitif terhadap berbagai antibiotik seperti amikasin, gentamisin, seftriakson, sefotaksim, sefepim, levofloksasin, moksifloksasin, meropenem, dan imipenem. Resistensi ditemukan terhadap amoksisilin-klavulanat, ampisilin, ampisilin-sulbaktam, dan sefaloksin. Pola resistensi ini sesuai dengan karakteristik E. cloacae tipe liar berdasarkan pedoman Clinical and Laboratory Standards Institute.

Terapi yang diberikan meliputi seftriakson sebagai antibiotik lini pertama, suplementasi kalium untuk mengoreksi hipokalemia, serta lansoprazol dan sukralfat untuk mengatasi keluhan mual dan muntah. Pengelolaan tekanan darah dilakukan dengan kandesartan dan nifedipin. Selama perawatan, terjadi perbaikan klinis yang ditandai dengan penurunan hitung leukosit dari 19.580 sel/渭L menjadi 9.750 sel/渭L pada hari ketujuh, serta peningkatan kadar kalium dari 2,90 mmol/L menjadi 3,6 mmol/L.

Hipokalemia pada pasien pneumonia komunitas sering kali disebabkan oleh beberapa faktor. Pada kasus ini, mual dan muntah yang dialami pasien diduga mengganggu asupan nutrisi sehingga berkontribusi terhadap penurunan kadar kalium. Penurunan status kesehatan secara umum juga dapat menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi yang berujung pada gangguan elektrolit.

Prevalensi E. cloacae sebagai penyebab pneumonia komunitas tergolong rendah. Berdasarkan sebuah studi di Vietnam, E. cloacae hanya ditemukan pada 12,3% dari kelompok Enterobacteriaceae yang diisolasi dari kultur dahak. Penelitian lain melaporkan bahwa dari 46 sampel dahak dengan hasil isolasi positif, hanya dua sampel yang teridentifikasi mengandung E. cloacae. Angka ini menegaskan bahwa kasus pneumonia komunitas akibat E. cloacae merupakan temuan yang jarang.

Usia lanjut dan hipertensi merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian pneumonia komunitas. Individu berusia di atas 50 tahun memiliki peningkatan risiko sebesar 55,8% untuk mengalami pneumonia. Sementara itu, pasien dengan hipertensi memiliki peningkatan risiko sebesar 23,7% dibandingkan populasi tanpa hipertensi.

Temuan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan klinisi terhadap kemungkinan infeksi akibat patogen yang jarang seperti E. cloacae pada pasien lansia dengan penyakit penyerta. Pemantauan ketat terhadap respons terapi dan koreksi kondisi penyerta seperti hipokalemia menjadi faktor penting dalam keberhasilan tatalaksana pneumonia komunitas pada kelompok pasien yang rentan

Artikel tersebut bisa di akses :

Penulis : AlifferdiRahmanWiyono, Aryati

AKSES CEPAT