Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi baru lahir. Salah satu langkah penting untuk memastikan bayi mendapat manfaat maksimal dari ASI adalah Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD adalah proses ketika bayi diletakkan di dada ibu segera setelah lahir, lalu secara alami mencari puting dan mulai menyusu dalam waktu satu jam pertama. Langkah sederhana ini terbukti meningkatkan peluang bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Namun, pelaksanaan IMD tidak selalu berjalan mulus. Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilannya, mulai dari kondisi kesehatan ibu, budaya masyarakat, hingga dukungan dari keluarga, khususnya ayah. Penelitian terbaru di Kabupaten Buleleng, Bali, menemukan bahwa pengetahuan dan kesiapan ayah sangat berperan dalam keberhasilan IMD. Menariknya, penelitian ini tidak hanya memberikan penyuluhan secara konvensional, tetapi juga menggunakan seni tradisional Bali, Arja Muani, sebagai media edukasi kesehatan. Hal ini menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat diintegrasikan dengan upaya kesehatan masyarakat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan IMD karena manfaatnya yang luar biasa. Bayi yang segera menyusu akan mendapatkan kolostrum, yaitu cairan kekuningan dari ASI yang kaya antibodi. Kolostrum berfungsi sebagai 渧aksin alami untuk melindungi bayi dari infeksi. Selain itu, IMD membantu mempererat ikatan emosional ibu dan bayi, menstabilkan suhu tubuh bayi, serta meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Di Indonesia, kampanye IMD sudah dicanangkan sejak 2007. Namun, data menunjukkan masih ada kesenjangan. Misalnya, di Bali, angka ibu yang berhasil melakukan IMD masih lebih rendah dibandingkan angka menyusui eksklusif. Di Kabupaten Buleleng, cakupan IMD hanya 42,7%, padahal menyusui eksklusif bisa mencapai 79,6%. Artinya, banyak ibu sebenarnya mampu memberi ASI, tetapi gagal melakukan IMD sejak awal.
Selama ini, proses menyusui sering dianggap hanya tanggung jawab ibu. Padahal, peran ayah sangat besar, terutama dalam memberikan dukungan emosional, membantu mengambil keputusan, hingga mendampingi istri melewati masa-masa awal kelahiran. Ayah yang memiliki pengetahuan cukup tentang IMD akan lebih peka dalam memberikan dorongan kepada istrinya. Sementara itu, kesiapan mental dan sikap positif ayah akan membuat ibu lebih percaya diri. Dengan begitu, IMD dapat berjalan lebih lancar. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa semakin baik pengetahuan dan kesiapan ayah, semakin tinggi pula keberhasilan IMD. Artinya, keberhasilan menyusui bukan hanya urusan ibu, tetapi juga kerja sama pasangan.
Salah satu keunikan penelitian ini adalah penggunaan seni tradisional Bali bernama Arja Muani sebagai media edukasi kesehatan. Arja Muani adalah pertunjukan rakyat yang menggabungkan drama, musik, dan tari. Biasanya digunakan sebagai hiburan, sarana pendidikan moral, hingga penyampaian pesan sosial. Mengapa seni dipilih sebagai media edukasi? Alasannya, pesan kesehatan sering kali sulit diterima jika disampaikan dengan cara kaku atau penuh istilah medis. Melalui pertunjukan seni, pesan dapat dikemas dengan cerita, humor, dan musik, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat.
Dalam penelitian ini, para ayah dan ibu mendapatkan edukasi tentang IMD melalui video Arja Muani yang dibagikan secara berkala, ditambah pertemuan tatap muka. Hasilnya, terjadi peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan kesiapan ayah setelah mengikuti edukasi berbasis seni ini. Penelitian dilakukan pada 60 pasangan suami-istri yang istrinya sedang hamil anak pertama (primigravida). Mayoritas ayah berusia 2635 tahun dan berpendidikan menengah. Sebelum intervensi, banyak ayah hanya memiliki pengetahuan 渃ukup tentang IMD dan belum benar-benar siap mendukung proses tersebut. Namun, setelah mengikuti edukasi melalui Arja Muani:
- 80% ayah memiliki pengetahuan yang baik tentang IMD.
- 73,3% ayah dinilai siap mendukung istrinya melakukan IMD.
Selain itu, ditemukan bahwa pengetahuan dan kesiapan ayah berhubungan erat dengan keberhasilan IMD. Sekitar 36% keberhasilan IMD dapat dijelaskan oleh dua faktor tersebut. Hasil ini menegaskan bahwa program edukasi kesehatan berbasis budaya bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mengubah sikap dan kesiapan keluarga.
Salah satu kekuatan penelitian ini adalah pendekatannya yang menghargai budaya lokal. Masyarakat Bali memiliki ikatan yang kuat dengan kesenian tradisional. Dengan memasukkan pesan kesehatan ke dalam pertunjukan Arja Muani, masyarakat lebih mudah menerima informasi karena selaras dengan identitas budaya mereka. Pendekatan seperti ini sering disebut sebagai edutainment (education + entertainment). Banyak penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa metode ini lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dibandingkan penyuluhan biasa.
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, ada beberapa tantangan. Pertama, penelitian hanya dilakukan pada kelompok kecil di satu wilayah, sehingga perlu diperluas ke daerah lain untuk melihat apakah hasilnya sama. Kedua, penggunaan seni tradisional membutuhkan kerja sama dengan seniman lokal, yang mungkin tidak selalu tersedia di semua daerah. Namun, keberhasilan pendekatan ini memberikan harapan baru. Seni dan budaya lokal bisa menjadi jembatan komunikasi kesehatan yang kuat. Dengan menggabungkan nilai budaya dan pesan medis, informasi kesehatan dapat lebih cepat diterima masyarakat tanpa menimbulkan resistensi.
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah langkah penting bagi kesehatan bayi dan ibu. Keberhasilan IMD tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kesiapan ayah. Penelitian di Buleleng, Bali, menunjukkan bahwa edukasi berbasis seni tradisional Arja Muani mampu meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ayah secara signifikan, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan IMD. Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya. Menghargai dan memanfaatkan seni tradisional sebagai media edukasi dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan derajat kesehatan, tidak hanya di Bali, tetapi juga di daerah lain dengan kearifan lokal masing-masing.
Dengan melibatkan ayah, keluarga, tenaga kesehatan, dan budaya lokal, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi bayi untuk mendapatkan haknya: ASI sejak awal kehidupan.
Penulis: Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes





