51

51 Official Website

Peran Penting Apoteker dalam Penanganan Diabetes Tipe 2 di Puskesmas Indonesia

Ilustrasi Seorang Apoteker. (Sumber: Kumparan)
Ilustrasi Seorang Apoteker. (Sumber: Kumparan)

Diabetes melitus tipe 2, yang sering disebut sebagai pembunuh senyap, menjadi salah satu penyakit kronis yang terus meningkat di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pelayanan kesehatan, termasuk di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang menjadi garda terdepan bagi masyarakat.

Salah satu kunci dalam penanganan diabetes tipe 2 adalah layanan kefarmasian yang diberikan oleh apoteker. Layanan ini tidak hanya soal memberikan obat, tetapi juga mencakup edukasi, pemantauan efek obat, dan membantu pasien dalam menjaga kepatuhan terhadap terapi yang dijalani.

Apoteker berperan krusial dalam menangani pasien diabetes mellitus dengan memastikan penggunaan obat yang aman dan tepat, memberikan edukasi mendalam tentang pengobatan dan efek sampingnya, memantau kepatuhan pasien serta menyesuaikan terapi sesuai kebutuhan, sekaligus membangun hubungan kepercayaan agar pasien lebih patuh. Peran ini makin tajam dengan kolaborasi antar tenaga kesehatan demi memastikan terapi berjalan optimal.

Namun, sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Farmasi 51 di Puskesmas di Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa layanan kefarmasian oleh apoteker dalam proses penanganan pasien diabetes mellitus telah dilakukan namun pada penerapannya masih belum optimal. Penelitian ini melibatkan 143 apoteker dan menemukanbahwa, tidak optimalnya peran apoteker dalam menangani pasien diabetes mellitus di Puskesmas disebabkan oleh keterbatasan sumber daya (tenaga dan fasilitas), kurangnya pelatihan khusus, dukungan sistem kesehatan yang masih terbatas, serta beban kerja yang tinggi, yang semuanya membuat layanan kefarmasian belum maksimal dalam memberikan edukasi, pemantauan, dan evaluasi terapi bagi pasien.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa walau peran apoteker sudah mulai terlihat, masih banyak ruang untuk peningkatan. Tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan khusus, serta dukungan sistem kesehatan yang masih belum maksimal.

Ke depannya, diperlukan kerjasama yang lebih erat antara apoteker, tenaga kesehatan lainnya, dan pemerintah untuk memastikan layanan kefarmasian di Puskesmas dapat dijalankan secara menyeluruh. Dengan demikian, diharapkan pasien diabetes tipe 2 dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik, terhindar dari komplikasi, dan memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

Penulis : Umi Athiyah

Hasil Peelitian dapat dibaca di

AKSES CEPAT