Glaukoma merupakan satu dari penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di dunia. Menurut data WHO tahun 2010, glaukoma menyebabkan kebutaan pada individu hingga 3,2 juta orang secara global. Glaukoma adalah penyakit neurodegeneratif progresif yang ditandai dengan pencekungan kepala nervus optikus dan hilangnya sel ganglion retina dan aksonnya. Penyebabnya bersifat multifaktorial antara lain faktor genetik dan lingkungan. Faktor risiko glaukoma antara lain usia lanjut, riwayat keluarga glaukoma, ras kulit hitam dan penggunaan kortikosteroid sistemik atau topikal. Tekanan intraokular (TIO) merupakan faktor risiko utama terjadinya glaukoma. Patogenesis glaukoma merupakan mekanisme yang kompleks. Salah satu mekanisme potensial yang menjadi faktor risiko glaukoma adalah hilangnya sel ganglion retina/Retinal Ganglion Cells (RGC). Sel ini tidak beregenerasi setelah terjadi kematian sel seperti sel pada sistem saraf pusat. Retina memiliki aktivitas metabolisme yang tinggi sehingga rentan terhadap gangguan seperti kondisi hiperglikemia berkepanjangan dan peningkatan TIO yang menyebabkan stres oksidatif.
Stres oksidatif dan Reactive Oxygen Species (ROS) telah dikaitkan dengan etiologi glaukoma melalui mekanisme apoptosis. Mekanisme apoptosis terdiri dari dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik dan intrinsik. Jalur ekstrinsik dipicu oleh ligan dan reseptor kematian seperti Tumor Necrosis Factor (TNF) yang mengaktifkan protease Caspase-8, memicu pembelahan Caspase-3 dan kematian sel proteolitik yang cedera. Jalur instrinsik merupakan jalur mitokondria yaitu mengganggu integritas membran mitokondria, mengaktifkan Bcl-2 pro apoptosis dan memulai kaskade apoptosis. Sitokrom C dari mitokondria berinteraksi dengan Apoptosing Protease Activating Factor 1 (APAF-1) di sitoplasma dan mengaktifkan Caspases-9 dan Caspase-3 yang akhirnya menyebabkan kematian sel. Tujuan utama pengobatan glaukoma adalah untuk mengurangi progresifitas kerusakan saraf optikus dan menjaga kualitas hidup pasien sehingga memerlukan diagnosis dan pengobatan diri. Pengurangan TIO merupakan terapi glaukoma yang terbukti untuk mengurangi kerusakan saraf optik. Pilihan farmakoterapi untuk glaukoma termasuk analog prostaglandin, beta-blocker, agonis 伪2-adrenergic selective, Carbonat Anhidrase Inhibitor topikal dan sistemik. Terapi pembedahan dilakukan pada glaukoma dengan progresifitas atau kerusakan lebih lanjut walaupun sudah dilakukan terapi maksimal.
Untuk memahami patofisiologi glaukoma maka model hewan yang diinduksi glaukoma telah digunakan selama bertahun-tahun. Mayoritas hewan coba adalah tikus dimana didapatkan karakteristik yang sebanding antara manusia dan tikus, termasuk struktur drainase bilik mata depan dan fisiologi dinamika aqueous humor. Induksi glaukoma dilakukan dengan pendekatan cedera reperfusi iskemik dengan menurunkan aliran darah retina yang menyebabkan hipersensitivitas retina terhadap oksigen dan nutrisi lain menghasilkan kerusakan oksidatif dan inflamasi lebih lanjut pada RGC ketika reperfusi. Glaukoma dapat disebabkan oleh peningkatan TIO dan membatasi aliran keluar aqueous humor dengan menyuntikan microbeads, hydroxypropyl methylcellulose, dan asam hialuronat ke dalam bilik mata depan tikus. Injeksi larutan garam hipertonik ke dalam vena episkleral dan kauterisasi atau fotokoagulasi laser pada vena episkleral atau limbal akan mengakibatkan jaringan parut pada jalinan trabekuler, peningkatan resistensi terhadap drainase aqueous humor dan kemudian peningkatan TIO.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan sel ganglion progresif terus terjadi bahkan setelah TIO kembali normal, oleh karena itu, terapi alternatif atau tambahan diperlukan untuk mencegah perkembangan kerusakan sel ganglion retina. Saat ini, banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat efek bahan alami sebagai agen neuroprotektif terhadap glaukoma. Ginkgo biloba famili Ginkgoceae, Lycium barbarum, dan Resveratrol merupakan beberapa bahan alami yang terbukti memiliki sifat neuroprotektif. Resveratrol adalah polifenol yang dihasilkan tanaman sebagai respon terhadap kerusakan. Anggur, kacang-kacangan, kakkao, dan spesies berri seperti blueberry, raspberry dan mulberry adalah sumber resveratrol. Resveratrol memiliki sifat antioksidan dan mengurangi inflamasi. Resveratrol mampu merangsang aktivitas Sirtuin 1 (Sirt1) yang memegang peran penting dalam jalur apoptosis, autofagi dan sensitivitas insulin. Resveratrol juga meningkatkan aktivitas endothelial Nitric Oxide Synthesis (eNOS) pada lapisan sel endotel, dan meningkatkan aktivasi 5′-Adenosine Monophosphate-Activated Protein Kinase (AMPK) melalui SIRT 1. Aktivitas biologis Resveratrol meliputi efek antioksiden yang diinduksi superoksida dismutase, katalase dan glutathione peroksidase-1 yang menghambat ROS; anti-angiogenesis melalui ekspresi leukotrien B4 dan matriks metalloproteinase; antiinflamasi dengan mengaktifkan SIRT1 mengurangi kerusakan DNA dan meningkatkan IL-6 dan TNF伪.
Resveratrol berpotensi dalam menghambat progresifitas penyakit mata seperti glaukoma, katarak, degenerasi makula dan retinopati diabetik. Pada penelitian dengan hewan coba, Resveratrol mampu mengurangi kerusakan RGC pada glaukoma. Beberapa penelitian menunjukkan Resveratrol mampu menurunkan tingkat ROS endogen, mengaktifkan Sirt1 yang meregulasi kelangsungan hidup sel, menurunkan apoptosis RGC, dan peningkatan Akt yang melindungi cedera reperfusi iskemia pada retina. Strategi untuk mencapai efek terapeutik dan neuroprotektif Resveratrol pada glaukoma masih diperdebatkan. Pemberian oral memiliki bioavailabilitas kurang dari 1%. Pemberian Resveratrol injeksi intravitreal pada dosis 100 碌m mampu meningkatkan konsentrasi intraokular, pemberian dosis tinggi pada hewan coba tidak didapatan efek samping bermakna namun penelitian pada manusia masih terbatas. Pada konsentrasi 2,5 hingga 5 g pada penelitian jangka pendek didapatkan efek samping ringan hingga sedang seperti mual, perut kembung, dan diare. Simpulan dari tinjauan pustaka ini Resveratrol dapat digunakan sebagai pengobatan tambahan alternatif untuk glaukoma karena sifat antioksidan dan antiapoptosisnya. Dengan demikian, penelitian skala besar dapat dilakukan pada hewan yang lebih besar dan uji klinis pada manusia.
Penulis: Amelia Shinta Prasetya1, Evelyn Komaratih1*, Wimbo Sasono1, Mercia Chrysanti1,
Maria Debora Niken Larasati1, I Ketut Sudiana2
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Judul Jurnal:
The role of Resveratrol as a neuroprotective agent in the prevention of retinal ganglion cell loss in ischemic reperfusion injury animal model: a literature review
1Department of Ophthalmology, Faculty of Medicine, 51动漫 – Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, 60132, Indonesia
2Department of Clinical Pathology, Faculty of Medicine, 51动漫 – Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, East Java, 60132, Indonesia
DOI:





