Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara, dan memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Sejak akhir tahun 1990, Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang luar biasa dan integrasi perekonomian global. PDB per kapita Indonesia telah meningkat secara progresif, dari $1.026 pada tahun 1995 menjadi $3.847 pada tahun 2017, mencapai kemajuan penting dalam pengentasan kemiskinan, menjadi sebesar 9,8% pada tahun 2018, dan merupakan negara berpendapatan menengah yang sedang berkembang.
Kondisi di Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak penduduk atau sekitar lebih dari 25 juta penduduk di Indonesia berada di bawah garis kemiskinan, dan hampir 20% penduduknya rentan jatuh miskin. Selain itu, banyaknya tenaga kerja yang berjumlah lebih dari 131 juta orang hanya memiliki (atau bahkan tidak) menempuh pendidikan dasar. Perekonomian Indonesia sangat didukung oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mencakup lebih dari 99% dari total perusahaan. Beberapa UKM mayoritas berada pada sektor padat karya seperti pakaian, alas kaki, furnitur, dan lain-lain. UKM memainkan peran yang kuat dalam mendukung sektor ekspor dengan bahan dan jasa. Namun, keuntungan dari keterbukaan bagi UKM nampaknya terkonsentrasi pada beberapa sektor dan tidak menjangkau cakupan luas pada UKM dan pekerja berpenghasilan rendah.
Beberapa studi, meneliti mengenai hubungan positif antara liberalisasi perdagangan dan pengentasan kemiskinan, dimana peran institusi, pendidikan, tata kelola, inflasi dan fasilitasi perdagangan, serta beberapa variabel lainnya, dapat mempengaruhi kondisi keterbukaan pasar dan perdagangan inklusif. Beberapa studi di Asia, menemukan bahwa globalisasi berguna meningkatkan pendapatan, meningkatkan teknologi, dan meningkatkan akses ke pasar. Adanya sektor yang berorientasi ekspor memungkinkan peningkatan upah dan pendapatan yang lebih tinggi. Namun, negara-negara berkembang menghadapi tekanan yang lebih kuat terhadap perbedaan produktivitas antar perusahaan dan seringkali kurang siap menghadapi persaingan global. Misal, perusahaan-perusahaan kecil dan UKM yang kurang bisa bersaing dengan adanya perdagangan global memberikan efek yang seringkali luput untuk diperhatikan.
Meski begitu, beberapa peneliti berpendapat bahwa negara berkembang masih dapat terus berpartisipasi dalam ranah global dengan terus meningkatkan keterbukaan negara, peningkatan nilai tambah produk, dan pandangan positif dalam berkontribusi pada Global Value Chain (GVC) memungkinkan UKM untuk berpartisipasi dan memperoleh produktivitas di ranah global. Dengan menggunakan pendekatan GVC untuk mempelajari dan mengetahui sejauh mana dampak perdagangan terhadap pendapatan pekerja di Indonesia serta UKM-UKM Indonesia terkait hubungan antarsektoral-domestik dan internasional,
Berdasarkan hasil estimasi data, diperoleh bahwa partisipasi Indonesia pada GVC membuat ekspor Indonesia memperoleh peningkatan nilai tambah sebesar 285% dari tahun 1995 hingga 2011, mengubah pola pertumbuhan karena pengalihan fokus ke Asia (terutama Asia Timur yang menyumbang 47% pertumbuhan), kemudian sektor-sektor tertentu (pertambangan 33% dan manufaktur 41%). Ekspor Indonesia dinilai menjadi lebih berorientasi pada barang setengah jadi, dengan pasar Asia merupakan pangsa terbesar dari nilai tambah ekspor dan sekaligus sebagai pangsa pertumbuhan terbesar. Sementara itu, hasil analisis pada sektor UKM berdasarkan pekerja dengan skill maupun unskilled, diperoleh bahwa selama tahun 1995 hingga 2011 nilai tambah yang didapat pekerja di Indonesia meningkat secara substansial (dari 25% menjadi lebih dari 36%), dengan pekerja tidak terampil memperoleh keuntungan terbesar (9,46%).
Indonesia telah meningkatkan ekspornya secara signifikan (hampir tiga kali lipat) dan telah memberikan lebih banyak nilai (pendapatan) kepada pekerja. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor-sektor baru seperti bahan kimia, transportasi, pengolahan makanan, minuman, dan kayu. Baik pekerja terampil maupun tidak terampil memperoleh manfaat dari perdagangan, yang menunjukkan adanya perubahan tingkat pendapatan bagi semua pekerja. Namun, peningkatan nilai dari pekerja belum tentu berarti lebih banyak lapangan kerja, karena faktanya, UKM mencatat pangsa ekspor yang masih cukup kecil dalam hal ekspor bruto, namun ketika mencakup ekspor tidak langsung, kontribusi UKM terhadap nilai ekspor mencapai hampir 25% dari total ekspor. UKM telah meningkatkan ekspor langsung dan tidak langsung, sehingga mendapatkan manfaat dari akses ke pasar global.
Penulis: Miguel Angel Esquivias
Jurnal: Small and medium enterprises and low-income workers in the global value chain: evidence from Indonesia





