Penyakit ginjal kronis (PGK) adalah masalah kesehatan global yang serius dengan angka kejadian yang terus meningkat. PGK tidak hanya berdampak pada penurunan fungsi ginjal tetapi juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Hubungan antara PGK dan penyakit kardiovaskular telah lama menjadi perhatian para peneliti, mengingat tingginya angka kematian akibat komplikasi kardiovaskular pada pasien PGK. Penelitian terbaru menyoroti peran faktor genetik dalam meningkatkan risiko ini. Dua gen yang sering dikaitkan adalah reseptor angiotensin II tipe 1 (AT1R) dan osteoprotegerin (OPG), keduanya memiliki peran penting dalam regulasi tekanan darah dan proses inflamasi serta fibrosis pada jaringan ginjal.
Sistem renin-angiotensin-aldosteron merupakan jalur penting dalam tubuh yang mengatur tekanan darah dan keseimbangan cairan. AT1R adalah reseptor utama yang dimediasi oleh angiotensin II, hormon yang meningkatkan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriksi) dan merangsang retensi garam dan air di ginjal. Reseptor ini menjadi target utama dalam pengobatan hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Namun, varian genetik atau polimorfisme pada gen AT1R dapat meningkatkan kerentanan individu terhadap penyakit jantung dan ginjal.
Salah satu varian yang paling sering diteliti pada gen AT1R adalah A1166C, yang melibatkan perubahan satu basa di lokasi 1166 dari adenin (A) menjadi sitosin (C). Varian gen ini telah terbukti meningkatkan ekspresi reseptor AT1R dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kardiovaskular, misalnya hipertensi, serangan jantung, dan stroke‹. Studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa individu dengan alel C memiliki risiko lebih tinggi terhadap kerusakan ginjal yang lebih cepat akibat efek tekanan darah tinggi yang berkelanjutan. Dengan demikian, polimorfisme AT1R berperan penting dalam mengontrol jalur patofisiologis yang berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan penurunan fungsi ginjal.
Selain AT1R, OPG juga memegang peranan penting dalam hubungan antara penyakit jantung dan ginjal. OPG adalah protein yang berperan dalam regulasi metabolisme tulang dengan mencegah pengikatan RANKL (receptor activator of nuclear factor kappa-B ligand) pada reseptornya. Meskipun fungsi utamanya adalah dalam pembentukan dan perombakan tulang, penelitian telah menunjukkan bahwa OPG juga berperan dalam perkembangan penyakit kardiovaskular. Peningkatan kadar OPG dalam serum telah dikaitkan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, pembentukan plak karotis, dan risiko stroke. Pada pasien dengan PGK, kadar OPG yang tinggi seringkali menandakan progresivitas penyakit ginjal yang lebih cepat dan risiko kematian akibat komplikasi kardiovaskular. Penelitian mengenai varian gen OPG, terutama C950T dan G1181C, menunjukkan bahwa perubahan genetik ini dapat mempengaruhi kadar OPG dalam tubuh dan berdampak pada tingkat keparahan penyakit. Varian C950T terletak pada daerah promotor gen OPG, yang mengatur seberapa banyak OPG diproduksi oleh tubuh. Individu dengan genotipe TT pada polimorfisme ini cenderung memiliki kadar OPG yang lebih tinggi dalam darah dan, oleh karena itu, lebih rentan terhadap komplikasi kardiovaskular.
Variasi genetik bisa berbeda antar populasi, etnis, dan ras. Penelitian terbaru yang kami lakukan mengevaluasi hubungan antara varian gen AT1R dan OPG dengan risiko kardiovaskular serta keparahan PGK pada populasi di Surabaya. Penelitian ini melibatkan 75 pasien PGK dengan berbagai tingkat stadium. Dari penelitian ini, ditemukan empat polimorfisme gen AT1R, termasuk A1166C dan dua varian baru, A1160C dan G1181C. Untuk gen OPG, dua varian yang diidentifikasi adalah C950T dan G1181C‹.
Hasil studi kami menunjukkan bahwa varian gen AT1R tidak memiliki hubungan signifikan dengan risiko kardiovaskular atau keparahan PGK pada populasi yang diteliti. Namun, varian gen OPG menunjukkan hasil yang berbeda. Varian C950T pada gen OPG kami temukan berhubungan dengan peningkatan rasio albumin terhadap kreatinin/albumin to creatinine ratio (ACR) pada individu dengan genotipe TT, yang menandakan tingkat kerusakan ginjal yang lebih tinggi. Demikian juga, varian G1181C menunjukkan bahwa genotipe GG terkait dengan kadar kreatinin serum dan ACR yang lebih tinggi, menandakan penurunan fungsi ginjal yang lebih cepat dan kerusakan ginjal yang lebih parah. Temuan ini menekankan pentingnya pemahaman tentang faktor genetik dalam manajemen PGK, terutama dalam kaitannya dengan risiko kardiovaskular. Variasi genetik pada AT1R dan OPG dapat digunakan sebagai indikator untuk mengidentifikasi pasien yang lebih rentan terhadap keparahan PGK dan risiko komplikasi kardiovaskular. Identifikasi genotipe ini pada pasien dapat membantu dokter dalam merancang strategi pengobatan yang lebih personal dan mungkin lebih agresif, terutama dalam mengelola tekanan darah dan mengurangi kerusakan ginjal‹.
Di masa depan, skrining genetik untuk polimorfisme AT1R dan OPG dapat menjadi bagian dari praktik medis standar dalam pengelolaan PGK. Dengan memahami profil genetik individu, dokter dapat memodifikasi rencana perawatan sesuai dengan kebutuhan spesifik pasien. Misalnya, pasien dengan genotipe TT pada varian C950T atau GG pada G1181C mungkin memerlukan pengawasan lebih ketat untuk mengurangi risiko komplikasi kardiovaskular dan memperlambat keparahan PGK. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana polimorfisme genetik ini bervariasi antar populasi. Hasil studi di Indonesia mungkin tidak selalu berlaku di negara atau populasi lain, mengingat bahwa faktor genetik sering dipengaruhi oleh latar belakang etnis dan lingkungan. Beberapa studi menunjukkan hasil yang berbeda untuk varian gen AT1R pada populasi yang berbeda. Misalnya, varian A1166C menunjukkan hubungan kuat dengan risiko hipertensi di beberapa populasi Eropa, tetapi tidak ditemukan hubungan yang signifikan di populasi India‹. Hal ini menyoroti pentingnya penelitian genetik yang mempertimbangkan variasi etnis dalam mendesain pendekatan pengobatan yang lebih tepat dan efektif.
Sebagai kesimpulan, varian gen AT1R dan OPG memainkan peran penting dalam risiko kardiovaskular dan progresivitas penyakit ginjal pada pasien PGK. Meskipun varian gen AT1R tidak secara langsung terkait dengan peningkatan risiko kardiovaskular pada populasi Indonesia, varian gen OPG seperti C950T dan G1181C terbukti berhubungan dengan kerusakan ginjal yang lebih parah dan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada PGK. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih personal melalui skrining genetik dapat menjadi kunci dalam mengelola risiko dan keparahan PGK di masa depan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperluas pemahaman ini pada populasi yang lebih besar dan lebih beragam, serta untuk mengembangkan intervensi klinis yang lebih efektif berdasarkan profil genetik individu.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu dan Hendri Susilo
Link:
Baca juga: Kadar Serum Growth Differentiation Factor 15 sebagai Biomarker Penyakit Ginjal Kronis





