51动漫

51动漫 Official Website

Perawatan Kulit Atopik: Mengungkap Rahasia Pelembap “Plus”yang Lebih Unggul dari Urea 10%

Ilustrasi Penderita Eksim Apotik (Sumber: KlikDokter)
Ilustrasi Penderita Eksim Apotik (Sumber: KlikDokter)

Pernahkah Anda atau orang terdekat mengalami kulit kering, gatal, dan ruam kemerahan yang tak kunjung sembuh? Itulah gambaran umum dari Dermatitis Atopik (AD), suatu kondisi kulit kronis yang seringkali membuat penderitanya tidak nyaman dan menurunkan kualitas hidup. AD bukan sekadar masalah kulit biasa; penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketidakseimbangan mikrobioma (komunitas mikroorganisme) di kulit juga berperan besar dalam memperparah gejala AD. Bayangkan kulit kita sebagai sebuah ekosistem. Dalam ekosistem ini, terdapat berbagai jenis bakteri, baik yang “baik” maupun yang “jahat”. Pada penderita AD, seringkali terjadi peningkatan bakteri “jahat” seperti Staphylococcus aureus (S. aureus), yang dapat memicu peradangan dan merusak fungsi pelindung kulit. Kerusakan ini membuat kulit semakin rentan terhadap alergen dan iritan dari luar, menciptakan lingkaran setan gejala AD.

Selama ini, pelembap adalah pilar utama dalam perawatan AD. Fungsinya sederhana yaitu mengembalikan kelembapan dan memperkuat skin barrier (lapisan pelindung kulit). Namun, ada jenis pelembap baru yang kini menjadi sorotan, yaitu pelembap “plus”. Apa bedanya dengan pelembap biasa? Pelembap “plus” bukan hanya sekadar melembapkan. Mereka mengandung bahan aktif tambahan, seringkali berupa lisat bakteri (pecahan bakteri baik) seperti Vitreoscilla filiformis (APF). Bahan-bahan ini bekerja dengan menyeimbangkan kembali mikrobioma kulit, mengurangi kolonisasi S. aureus, dan pada akhirnya, meredakan gejala AD. Di Indonesia, pelembap standar yang banyak direkomendasikan adalah yang mengandung Urea 10%. Lalu, bagaimana perbandingannya dengan pelembap “plus”?

Sebuah penelitian terbaru dilakukan untuk membandingkan efektivitas pelembap “plus” (mengandung shea butter, canola oil, niacinamide, APF, dan microresyl) dengan pelembap Urea 10% pada 60 pasien AD ringan hingga sedang. Para peneliti mengamati berbagai parameter klinis dan instrumental selama 12 minggu, termasuk SCORAD (Severity Scoring of Atopic Dermatitis) untuk mengukur tingkat keparahan AD, PVAS (Pruritus Visual Analog Scale) untuk mengukur tingkat gatal, EASI (Eczema Area and Severity Index) untuk mengukur area dan keparahan eksim, DLQI (Dermatology Life Quality Index) untuk mengukur dampak AD terhadap kualitas hidup, TEWL (Transepidermal Water Loss) untuk mengukur seberapa banyak air yang hilang dari kulit, hidrasi kulit untuk mengukur tingkat kelembapan kulit, pH kulit untuk mengukur tingkat keasaman kulit, serta toleransi untuk mengamati efek samping yang mungkin timbul.

Setelah 12 minggu penggunaan dua kali sehari, hasilnya sangat menggembirakan bagi kelompok yang menggunakan pelembap “plus”. Pelembap “plus” secara signifikan lebih baik dalam mengurangi TEWL dan menormalkan pH kulit mulai dari minggu ke-4, dan juga meningkatkan hidrasi kulit mulai minggu ke-8, menunjukkan bahwa pelembap “plus” benar-benar memperbaiki skin barrier kulit. Pada minggu ke-8, skor SCORAD menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan pada kelompok pelembap “plus”. Di akhir penelitian (minggu ke-12), pelembap “plus” juga menunjukkan keunggulan signifikan dalam mengurangi gatal (PVAS), keparahan eksim (EASI), dan meningkatkan kualitas hidup (DLQI).

Menariknya, pelembap “plus” juga menunjukkan toleransi yang lebih baik. Hanya 3 dari 30 subjek di kelompok pelembap “plus” yang melaporkan kemerahan minimal sementara, yang sembuh tanpa perawatan. Sementara itu, 8 dari 30 subjek di kelompok Urea 10% mengalami kemerahan, gatal, dan kulit kering yang memerlukan antihistamin. Hal ini mengindikasikan bahwa pelembap “plus” cenderung lebih lembut di kulit yang sudah sensitif. Meskipun demikian, pelembap Urea 10% tetap memberikan perbaikan yang baik pada parameter yang diteliti, hanya saja tidak seefisien pelembap “plus”.

Lalu, bagaimana pelembap “plus” bisa begitu efektif? Kandungan kuncinya seperti Aqua Posae filiformis (APF) dan Microresyl bekerja secara sinergis. APF, yang berasal dari bakteri Vitreoscilla filiformis, dapat merangsang pertahanan alami kulit, menyeimbangkan mikrobioma dengan meningkatkan bakteri “baik” seperti Staphylococcus epidermidis, dan mengurangi kolonisasi S. aureus. Sementara itu, Microresyl, ekstrak dari akar Ophiopogon japonicum, dapat mengurangi perlekatan S. aureus pada kulit dan menurunkan tanda-tanda peradangan. Kandungan tambahan seperti shea butter dan niacinamide dalam pelembap “plus” juga memiliki efek anti-inflamasi dan meningkatkan produksi ceramide, komponen penting yang menjaga hidrasi dan integritas skin barrier. Pelembap Urea 10% sendiri bekerja dengan menarik air ke dalam kulit dan meningkatkan peptida antimikroba, namun tidak memiliki efek anti-inflamasi atau anti-gatal secara langsung.

Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa pelembap “plus” merupakan pilihan yang superior dalam memperbaiki gejala AD dan fungsi pelindung kulit dibandingkan dengan pelembap Urea 10%. Ini adalah kabar baik bagi penderita AD, karena pelembap “plus” dapat menjadi terapi tunggal untuk kasus ringan atau sebagai tambahan pada pengobatan sistemik untuk kasus yang lebih parah. Dengan kemampuannya menyeimbangkan mikrobioma dan memperkuat skin barrier, pelembap “plus” menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan efektif dalam manajemen Dermatitis Atopik, membantu pasien mencapai kulit yang lebih sehat dan kualitas hidup yang lebih baik.

Penulis: Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.DVE,Subsp.DAI,MARS

Infromasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada :

. Effectiveness and Tolerability of an Emollient 淧lus Compared to Urea 10% in Patients With Mild-to-Moderate Atopic Dermatitis. ,听,听,听,听,听,听,听

AKSES CEPAT