Pandemi COVID-19 masih menjadi hal yang diperbincangkan di dunia. Kondisi infeksi COVID-19 yang berat ditandai dengan laju pernapasan >30x/menit, distress pernapasan, dan saturasi perifer oksigen <93%. Infeksi yang berat dapat mencetuskan trombosis yang tergambar dari trombositopenia, peningkata fibrin, dan peningkatan D-dimer. Pasien COVID-19 derajat berat dengan keadaan tromboemboli memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan perawatan di ICU. Komplikasi dari keadaan koagulopati pada pasien COVID-19 derajat berat dapat berupa disseminated intravascular coagulation dan tromboemboli vena akibat tirah baring lama. Pemberian antikoagulan merupakan tatalaksana utama dalam kondisi ini.
Sebuah studi kohort retrospektif melibatkan pasien COVID-19 dewasa di Rumah Sakit 51动漫 dan Husada Utama dengan infeksi COVID-19 derajat sedang, berat, dan kritis pada masa perawatan 15 Maret hingga 31 Agustus 2020. Terdapat 331 pasien dengan rincian 110 derajat sedang, 140 derajat berat, dan 81 pada kondisi kritis. Penanda inflamasi yang didata terdiri dari WBC, neutrophil-lymphocyte ratio (NLR), absolute lymphocyte count (ALC), C-reactive protein (CRP), dan procalcitonin. Penelitian ini juga menjelaskan hubungan antara kondisi inflamasi setelah pemberian anti-koagulan dengan mortalitas pasien, serta beberapa variabel lain, seperti usia, jenis kelamin, tingkat keparahan, dan komorbiditas.
Didapatkan 200 pasien pria dan 131 pasien wanita dengan 110 diantaranya mengalami infeksi derajat sedang, 140 derajat berat, dan 81 pada kondisi kritis. Komorbid yang didapati paling banyak ialah diabetes mellitus (DM), hipertensi (HT), usia lanjut, penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal kronis. Terdapat perbedaan signifikan dari penanda inflamasi baseline dari ketiga kelompok derajat keparahan. Perbandingan penanda inflamasi pada pemeriksaan kedua dan ketiga menunjukkan perbaikan leukosit pada infeksi derajat sedang, berat, dan kritis, peningkatan limfosit absolut pada derajat sedang dan berat, penurunan NLR di ketiga kelompok, penurunan CRP di kelompok derajat sedang dan parah, serta penurunan D-dimer di ketiga kelompok. Terdapat hubungan signifikan antara status inflamasi pada hari ke-13 perawaran dengan mortalitas pada kelompok derajat sedang dan kritis yang menggunakan ventilator. Penggunaan unfractioned heparin (UFH) secara signifikan menurunkan mortalitas secara keseluruhan.
Kelainan fungsi koagulasi masih menjadi salah satu komplikasi yang serius yang menyertai infeksi COVID-19. Parameter koagulasi seperti D-dimer menunjukkan risiko dari trombosis, yaitu pada pasien dengan D-dimer >=1000ng/mL memiliki 20 risiko lebih tinggi terhadap kematian. Hal ini dapat terkait koagulopati pada sepsis akibat infeksi bakteri. Pada infeksi bakteri, sitokin proinflamasi dalam jumlah banyak akan meningkatkan damage-associated molecular patterns (DAMP). DAMP dan jaringan yang rusak akan mengaktivasi monosit. Monosit yang teraktivasi akan melepaskan lebih banyak sitokin pro-inflamasi seperti IL-1, IL-6, IL-10, dan TNF serta kemokin. Kaskade koagulasi diaktifkan oleh faktor-faktor jaringan dan fosfatidilserin pada permukaan sel. Sel endotel yang sehat akan mengontrol aktivitas trombogenesis lebih baik melalui ekspresi glikokaliks dan pengikatan dengan protein antithrombin, sementara sel endotel yang rusak akan lebih menunjukkan aktivitas prokoagulan akibat dari gangguan pada glikokaliks tersebut.
Terdapat sebuah teori yang menyatakan hubungan antara sistem imun dengan pembentukan thrombin, dimana penghambatan thrombin dapat mengurangi respon inflamasi. Hal ini didukung oleh peningkatan D-dimer yang berhubungan dengan peningkatan CRP pada pasien derajat berat. Penelitian sebelumnya menyatakan korelasi positif antara penggunaan antikoagulan dengan reduksi mortalitas dan banyaknya pasien yang membutuhkan ventilasi. Selain itu, studi-studi sebelumnya menjelaskan penggunaan antikoagulan dari segi profilaksis dan terapeutik. Penggunaan apixaban dan enoxaparin sebagai profilaksis secara signifikan dapat menurunkan mortalitas. Sebuah penelitian oleh Pawlowski (2021) menjelaskan risiko kematian dan rawat inap di ICU yang lebih tinggi serta durasi rawat inap yang lebih lama pada pasien dengan heparin dibandingkan pada kelompok enoksaparin.
Studi ini mampu menjelaskan bahwa penanda inflamasi dan koagulopati berhubungan dengan derajat keparahan infeksi COVID-19. Meskipun tidak semua penanda inflamasi menunjukkan perbaikan setelah pemberian anti-koagulan, mayoritas penanda inflamasi mengalami penurunan. Studi lebih lanjut dengan data yang lebih banyak dibutuhkan untuk mengetahui efek dari kelompok antikoagulan lain sebagai profilaksis maupun terapi dalam menurunkan mortalitas dan durasi rawat inap.
Penulis: Satriyo Dwi Suryantoro, dr., Sp.PD.
Jurnal:





