Kolonoskopi saat ini merupakan salah satu alat diagnostik dan terapeutik terpenting untuk menangani pasien dengan penyakit saluran cerna bagian bawah. Selain itu, kemajuan teknologi telah membuat kolonoskopi lebih nyaman bagi pasien dengan meningkatkan fleksibilitas instrumen. Oleh karena itu, kenyamanan dan ketenangan pikiran pasien sangat penting bagi semua pihak yang terlibat dalam keberhasilan prosedur GIE. Prosedur endoskopi dengan sedasi di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2019 berjumlah 1249 kasus, terdiri dari 618 kasus kolonoskopi dan 631 kasus endoskopi, dengan rata-rata 52 kasus kolonoskopi. Pasien didominasi skor ASA II, diikuti skor ASA I dan skor ASA III.
Obat penenang dan analgesik yang berbeda dapat digunakan dan dikombinasikan untuk mencapai tingkat sedasi dan analgesia dalam prosedur endoskopi. Propofol merupakan obat hipnotis durasi pendek dengan onset cepat kurang lebih 30-40 detik. Karena propofol memiliki sifat analgesik yang minimal, maka propofol perlu dikombinasikan dengan obat analgesic lain terutama opioid. Namun penggunaan opioid dapat menimbulkan efek samping negatif, seperti depresi pernafasan, efek simpatolitik, bradikardia, dan hipotensi, meskipun menggunakan sediaan opioid dengan durasi dan onset yang cepat.
Ketamine merupakan obat sedasi-analgesia yang diketahui dapat menjaga stabilitas tekanan darah dengan sifat simpatomimetiknya. Kombinasi ketamin dengan propofol merupakan kombinasi yang seimbang dan ideal terutama pada pasien gawat darurat dengan hemodinamik tidak stabil bahkan menyatakan bahwa kualitas sedasi yang dihasilkan lebih baik dibandingkan kombinasi propofol-fentanyl pada tindakan darurat. Data tentang ketamin sebagian besar dihasilkan melalui penelitian pada kelompok pediatrik dengan situasi prosedur darurat. Dengan profil seperti di atas, ketamin harus lebih sering digunakan dalam prosedur rawat jalan pada orang dewasa.
Penelitian yang digunakan adalah eksperimental analitik cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel konsekutif, dengan intervensi acak tersamar tunggal. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga April 2023 di Gedung Diagnostic Center RS Dr. Soetomo Surabaya. Sampel dimasukkan oleh pasien dengan kolonoskopi selektif dan memenuhi kriteria inklusi. Kriteria eksklusi mencakup pasien dengan penyakit sistemik mendasar yang tidak terkontrol, riwayat penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol, potensi kesulitan dalam ventilasi dan intubasi, gangguan psikologis, atau mereka yang menggunakan obat psikoterapi, dan riwayat alergi terhadap telur, produk telur, kedelai, atau produk kedelai.
Dilakukan Uji homogenitas terhadap Karakteristik subjek antara lain, jenis kelamin, usia, dan BMI. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kombinasi propofol-fentanyl ketamine dan propofol, pada karakteristik jenis kelamin, usia dan BMI subjek. Oleh karena itu, karakteristik-karakteristik tersebut tidak dapat dianggap sebagai faktor pencampur/pengganggu dalam penelitian ini. Hasil uji perbandingan waktu pemulihan menunjukkan bahwa rata-rata waktu pemulihan kombinasi propofol-fentanil lebih tinggi yaitu 37,87±6,31 dibandingkan kombinasi propofol-ketamin sebesar 33,00±6,60. Hasil uji perbandingan skor PADSS menunjukkan rerata skor PADSS kelompok kombinasi propofol-fentanil lebih tinggi yaitu 9,00±0,00 dibandingkan kelompok kombinasi propofol-ketamin dengan rerata skor 8,63±0,50.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perubahan hemodinamik (tekanan darah, denyut nadi) pada kelompok Propofol Ketamine dan kelompok Propofol Fentanyl Kombinasi selama prosedur kolonoskopi. Perbedaan penting dalam parameter pernapasan (laju pernapasan dan saturasi) terdeteksi antara kedua kombinasi obat (propofol ketamin dan fentanil-propofol), namun tidak ada komplikasi pernapasan, seperti penghalang jalan napas, hipoventilasi, hipoksia, atau kolonoskopi laringospasme. Waktu pemulihan lebih lama pada kelompok yang mendapat anestesi kombinasi Propofol Fentanyl, ditunjukkan dengan skor PADDS yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang mendapat analgesia Propofol Ketamine.
Penulis: Dr. Arie Utariani, dr., SpAn-TI., Subsp. An. Ped (K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rehi PDD, Utariani A, Airlangga PS. Comparison of Propofol Ketamine and Propofol Fentanyl Combinations to Make Patient Comfort and Psychologically Ease in Colonoscopy Procedures. J Reatt Ther Dev Divers. 2023;6(8):16“27





